Review Film Tegar (2022) Kisah Anak Disabilitas yang Ingin Sekolah

Review Film Tegar (2022)

Film bertema disabilitas seringkali mengandung pesan moral yang kuat. Hal ini seringkali Molzania dapati saat menonton film Korea yang mengangkat tema disabilitas. Menjelang akhir tahun ini, rupanya Indonesia punya film anak-anak lokal bertema disabilitas yang menguras emosi. Judulnya hanya satu kata yaitu : Tegar.

Pertama kali tahu film ini ada ketika scroll-scroll Instagram sejak awal tahun ini. Kala itu mereka baru saja selesai penayangan perdana untuk kalangan internal. Dikarenakan ini film anak-anak bertema disabilitas, Molzania pun tertarik untuk menontonnya. Tetapi belum tayang di bioskop. Baru pada bulan November ini, Molzania bisa menontonnya di bioskop.

Bacaan Lainnya

Sinopsis Film Tegar, Prajurit yang seTegar Batu Karang!

Film Tegar hanya tayang di bioskop XXI selama 3 hari. Mulai dari tanggal 24-26 November saja. Film ini diproduksi oleh Aksa Bumi Langit dan disutradarai oleh Anggi Frisca. Pemeran utamanya yaitu M. Aldifi Tegarajasa, aktor cilik yang juga disabilitas. Film ini juga dibintangi oleh Deddy Mizwar dan Sha Ine Febriyanti yang jadi kakek dan ibu Tegar. Lantas apakah film ini sesuai dengan ekspektasi?

Sinopsis Film Tegar, Prajurit yang seTegar Batu Karang!

Namanya Tegar Satya Kayana. Seorang anak disabilitas fisik yang tangan dan kakinya tumbuh tidak sempurna. Ia berasal dari keluarga kaya. Sehari-hari Tegar hanya di rumah saja bersama keluarganya. Ibu Tegar boleh dibilang cuek dan sensitif terhadap anak lelakinya itu.

Meskipun begitu, Tegar memiliki seorang kakek yang sangat menyayanginya. Tegar punya satu keinginan yang belum terkabul yaitu bersekolah. Suatu hari, Tegar bertemu dengan Imam dan teman-temannya yang seusia dengannya. Mereka tak sengaja masuk ke rumah Tegar yang gerbang depannya terbuka.

Imam yang melihat Tegar dan rumahnya yang besar dengan kolam renang pun lantas merasa sedikit iri. Saat teman-temannya melihat Tegar, lantas mereka pun mengolok-olok kekurangan fisik yang dimiliki Tegar. Namun Tegar tumbuh seperti namanya. Dia tak merasa sakit hati ataupun dendam sama teman-temannya itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang kesepuluh, Tegar mengutarakan kembali keinginannya untuk bersekolah. Keinginan Tegar hendak dikabulkan oleh kakeknya. Namun ibu Tegar tak ingin anaknya bersekolah karena takut ia dibully teman-temannya. Sang kakek tetap memaksakan cucunya bersekolah. Sayangnya saat hari pertama Tegar bersekolah, sang kakek meninggal dunia.

Tegar tak jadi bersekolah. Dia malah semakin dikurung oleh ibunya yang makin sering berpergian. Di rumah, Tegar tinggal bersama Teh Isy yang jadi asisten rumah tangga. Dikarenakan ibunya Teh Isy sakit keras di kampung halamannya, Teh Isy pun meninggalkan Tegar sendirian untuk beberapa hari. Tegar pun terpaksa dibiarkan hidup mandiri di rumah.

Dengan keterbatasannya, Tegar belajar untuk memasak dan membersihkan dirinya sendiri. Karena merasa ditinggalkan, Tegar pun memutuskan keluar dari rumah. Ternyata kehidupan di luar sana tak seperti yang ia bayangkan. Untungnya Tegar bertemu seorang bapak baik hati yang juga disabilitas mirip sepertinya. Lantas apa yang bisa dilakukan Tegar? Akankah Tegar bisa bersekolah?

Review Film Tegar : Kisah Sederhana, Namun Memiliki Kesan yang Mendalam

Keinginan untuk membawa inklusi ke dalam film sudah cukup terwakilkan. Kualitas film ini nggak kalah dengan film anak-anak luar negeri. Sedikit mengingatkan Molzania dengan film Home Alone. Soalnya ada adegan Tegar yang beraktivitas sendirian di rumah.

Menonton film Tegar, banyak sekali adegan yang mengandung bawang. Meskipun agak lambat di awal, namun keseluruhan cerita menarik untuk ditonton. Molzania kaget, saat menontonnya ada banyak adegan yang relate sama kehidupan pribadi sebagai disabilitas. Sosok Tegar mengingatkan Molzania pada kehidupan banyak anak-anak disabilitas.

Review Film Tegar : Kisah Sederhana, Namun Memiliki Kesan yang Mendalam
Biarpun nonton sendirian, tetap bersenang hati. Sayangnya cuma ada 4 penonton yang menonton film ini. Padahal filmnya bagus. 🙁

Lebih kaget lagi karena ternyata film ini cinematographernya kak Galang Galih. Tahun lalu Molzania syuting film Youtube Toyota Indonesia, cinematographernya juga kak Galang hehe.. jadi inget flashback kenangan pas syuting bareng temen-temen Toyota Indonesia. 

Hal yang lumrah ditemui pada keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus, mereka bersekolah pada usia yang terlambat. Usia menginjak 10 tahun ke atas baru disekolahkan. Apalagi jika keluarganya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Alasannya bermacam-macam. Umumnya karena masalah ekonomi dan jarak sekolah yang jauh.

Stigma Negatif Masyarakat yang Menghantui Disabilitas

Seringkali anak disabilitas dianggap tidak mampu menerima pelajaran. Dianggap berkekurangan dari segi akademis dan kemampuan. Berbeda dengan saudara kandungnya yang non disabilitas. Mereka akan disekolahkan dengan harapan nanti untuk membantu kehidupan saudaranya yang disabilitas.

Ada lagi persoalan seperti yang dialami oleh ibunya tegar. Anak disabilitas dibully oleh teman-temannya di sekolah. Akibatnya mereka yang disabilitas merasa minder dan enggan untuk bersekolah. Jadi terkadang memang serba salah. Stigma negatif yang kerap disematkan kepada orang disabilitas menjadi pemicunya.

Dari sisi kejiwaan, film ini juga mengangkat fakta bahwa banyak ibu yang mengalami baby blues. Sehingga ia bisa “membenci” dan tidak peduli anak-anak yang dilahirkannya. Dari kasus yang dialami Tegar, ketidakhadiran ayah pada awal fase ibu mengandung dan melahirkan menjadi penyebabnya. Ayah Tegar diceritakan meninggalkan Ia sewaktu bayi karena malu mendapatkan bayi yang cacat.

Mengangkat Kekurangan dan Kelebihan Orang Disabilitas

Film ini mengangkat banyak kisah disabilitas yang menginspirasi. Selain disabilitas fisik, disorot pula berbagai jenis disabilitas lainnya. Ketika Tegar kabur dari rumah, Ia mendapati fakta bahwa ada banyak orang yang sama dengannya. Tegar bertemu dengan Pak Akbar, yang ternyata ayah dari temannya Imam. Pak Akbar juga menjadi solusi dari harapannya selama ini.

Dari kisah Tegar, kita dapat belajar bahwa dibalik kesulitan akan ada kemudahan. Kita perlu memperluas pandangan kita akan kehidupan untuk bisa memahami setiap hikmah. Bahwa disabilitas itu sebuah perbedaan, bukanlah termasuk kekurangan. Orang disabilitas hidup dengan cara yang berbeda. Sebagai disabilitas, kita harus hidup mandiri dan tidak bergantung pada siapapun.

Meskipun awalnya berat. Sebagai disabilitas kita bisa belajar melalui media apapun untuk bisa bertahan hidup. Diceritakan Tegar belajar mandiri dengan bantuan teknologi. Sang kakek memberikan alat berupa robot rumah pintar yang dapat bersuara dan menggerakkan berbagai peralatan elektronik. Terdengar tak masuk akal. Tetapi di luar negeri, disabilitas dapat memanfaatkan bantuan teknologi rumah pintar untuk mandiri.

Di Indonesia, teknologi ini belumlah familiar. Kekurangannya akses rumah pintar umumnya mahal dan hanya mampu dimiliki oleh orang-orang kaya. Makanya saat bertemu dengan Pak Akbar, Tegar justru belajar untuk hidup dengan orang yang tidak dikenal. Di luar rumah, Tegar justru bertemu dengan banyak orang baik yang menolongnya.

Film Anak yang Layak Ditonton

Berteman dengan sesama disabilitas, membuat kita tidak sendirian. Ini yang Molzania juga alami dulu. Semasa sekolah, Molzania sering merasa sendirian karena berada di lingkungan sekolah umum. Namun saat berjumpa dengan teman-teman disabilitas, Molzania menyadari bahwa ternyata banyak yang merasakan kesulitan yang sama.

film anak Indonesia tentang disabilitas difabel

Sisi kelebihan orang-orang seperti Tegar begitu banyak disorot di sini. Sayangnya kekurangan film ini ada beberapa adegan scene yang terasa janggal dan berlebihan. Misalnya saat Tegar mesti berenang di kolam, padahal bisa melewati jalan biasa. Atau adegan Tegar berhasil memasak dengan aman, padahal sebelumnya ia tak pernah melakukannya. Bagi Molzania itu terasa sedikit berlebihan.

Selebihnya film ini sangat asyik dinikmati. Bagus ditonton anak-anak karena bisa mengajarkan sisi lain kehidupan orang disabilitas. Ceritanya sederhana, namun banyak adegan yang mengharukan. Film anak Indonesia tentang disabilitas yang layak ditonton. Saat menonton, jangan lupa siapin tisu banyak-banyak, deh pokoknya.

Identitas Film :

Judul : Tegar
Tanggal rilis : 24 November 2022
Produksi : Aksa Bumi Langit dan Citra Sinema
Sutradara : Anggi Frisca
Produser : Surajuddin Datau, Chandra Sembiring
Penulis Naskah : Alim Sudio, Anggi Frisca
Pemeran : Deddy Mizwar, M. Aldifi Tegarajasa, Sha Ine Febriyanti
Negara : Indonesia
Durasi : 92 menit

529 Views

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *