Kisah Mahdis, Kini OYPMK Berdaya Dulu Sering Alami Diskriminasi

oypmk berdaya

KISAH MAHDIS, OYPMK BERDAYA DULU SERING ALAMI DISKRIMINASI – Kisah-kisah mengenai oypmk dan disabilitas selalu menarik untuk disimak. Untuk sobat yang belum tahu, jadi OYPMK itu singkatan dari Orang yang Pernah Menderita Kusta. Stigmanya kurang lebih sama kayak disabilitas. Masih banyak masyarakat yang takut tertular.

Seperti yang dialami oleh Mashdi Mustafa yang saat ini bekerja sebagai supervisor bagian cleaning service pada PT. Azaretha Hana Megatrading. Perusahaan tersebut adalah perusahaan penyedia jasa cleaning service RSU Tadjudin Chalid yang berkedudukan di Makassar. Sebelumnya Bapak Mahdi sudah bekerja di 3 perusahaan.

Kisah Mahdis, Kini OYPMK Berdaya Dulu Sering Alami Diskriminasi

Wawancara dengan Pak Mahdi, Molzania tonton dalam acara Ruang Publik KBR tanggal 27 Juli 2022 Pukul 9.00. Mengangkat tema “Peran Pemerintah dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK”, selain menghadirkan Bapak Mahdi sebagai narasumber, live streaming Youtube tersebut juga mengundang Bapak Agus Suprapto dari Kemenko PMK RI.

Jujurly, Molzania seneng banget menonton acara inspiratif bertema disabilitas kayak gini. Menambah wawasan kita sekaligus membangun empati agar
kaum disabilitas bisa 
bebas dari stigma negatif! ^^

Kisah Mahdis, Kini OYPMK Berdaya Dulu Sering Alami Diskriminasi

Senang banget dengar kisah perjuangannya Bapak Mahdis. Kini semakin banyak perusahaan inklusif di Indonesia. Terbukti beliau walau berstatus sebagai mantan penderita kusta, tetapi bisa diterima perusahaan dan mampu berkerja. Selain Bapak Mahdis, di perusahaan yang beliau sudah ada 20 orang lebih penyandang OYPMK yang berkerja di perusahaan yang sama.

Baca Juga:  Mudahnya Mendapat Surat Keterangan Disabilitas untuk Tes CPNS

Menjadi perusahaan inklusif tentunya tidaklah mudah. Stigma negatif disabilitas yang dianggap tidak produktif dan tidak berkemampuan seringkali membuat perusahaan enggan menerima disabilitas dan OYPMK. Belum lagi ditambah perusahaan harus kehilangan materiil karena diwajibkan menyediakan sarana dan prasarana aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Mahdis Mustafa, spv cleaning service pt azaretha hana megatrading

Kemudahan yang diterima saat berkerja di perusahaan inklusif, pada saat melamar pekerjaan perusahaan Pak Mahdis tidak dibedakan dengan pelamar non disabilitas. Dirinya juga tidak dibebani dengan persyaratan dan job desk yang rumit.

Memang masih ada beberapa ketentuan terkait divisi dan jabatan apa yang menerima penyandang OYPMK. Alasannya karena masih banyak masyarakat yang masih takut tertular OYPMK. Untuk itu diperlukan sosialisasi dan literasi masyarakat. Dulu perusahaan banyak yang menolak dengan keras OYPMK, tetapi sekarang sudah mulai halus.

Mahdis Mustafa, mungkin salah satu OYPMK berdaya yang beruntung dapat diterima berkerja. Saat ini statusnya sebagai pegawai outsourcing yang harus memperbaharui kontrak kerjanya setiap tahun. Bapak Mandis mengaku bahwa dirinya tidak dipersulit saat ingin memperpanjang kontraknya di perusahaan tempatnya berkerja saat ini.

Awal Mula Menderita Kusta, Dirinya Justru Tak Tahu Penyakit Apa Itu

Pertama kali Pak Mahdis didiagnosa kusta pada tahun 2010. Saat itu baru berusia 25 tahun. Lalu beliau pun berobat di salah satu rumah sakit di Kota Makassar. Awalnya karena sakit, Pak Mahdis tidak terlalu minat untuk berkerja. “Kulit saya sudah hancur” terang beliau menjelaskan tentang penyakit kusta yang dialami.

Saat minum obat kusta, Pak Mahdis sengaja tidak diberitahu oleh orang tuanya dan petugas puskesmas. Mereka bilang dirinya hanya menderita alergi biasa. Lama-lama Pak Mahdis curiga, dia pun mencari tahu obat yang diminumnyanya yang ternyata untuk penyakit kusta. Dia pun sempat mengalami depresi karena penyakitnya itu.

Baca Juga:  Bicara Passion dari Perspektif Blogger Disabled

pt azaretha hana megatrading perusahaan inklusif

Untungnya Pak Mahdis ditawari bergabung dengan organisasi NLR. Dari organisasi tersebut, Pak Mahdis pun timbul semangat dan bangkit dari keterpurukan. Dia berani untuk berbicara dan keluar untuk mencari pekerjaan. Alasannya dirinya tak mau membebani orang tua.

Awal menderita kusta, Pak Mahdis justru tidak tahu penyakit apa itu. Dirinya baru mengetahui bahwa penyakit yang dideritanya kusta dari dokter. Dikarenakan penyakit tersebut, Bapak Mahdis harus merasakan beberapa kali pengalaman yang kurang menyenangkan.

“Saat naik kendaraan umum, orang-orang menjauhi dan berbisik-bisik melihat OYPMK. Awalnya sakit hati, tapi lama kelamaan jadi terbiasa” cerita Pak Mahdis.

Melawan Stigma Negatif OYPMK dan Disabilitas

Menurut Pak Mahdis, stigma negatif terhadap OYPMK dan disabilitas di Indonesia masih sangat tinggi. Ini mungkin disebabkan karena OYPMK tidak memiliki pendidikan tinggi, keterbatasan fisik dan keterampilan memadai. Akan tetapi karena desakan kebutuhan hidup, Pak Mahdis pun nekat melamar berkerja sebagai pegawai outsourcing.

Keterbatasan OYPMK terutama di bidang pendidikan. Kebanyakan OYPMK berasal dari kalangan menengah ke bawah. OYPMK yang berasal dari akademis dan kalangan menengah ke atas, enggan menyebut dirinya dan terdata sebagai mantan penderita kusta. Penderita kusta diharuskan untuk menjalani pengobatan dalam waktu lama sehingga menghambat mereka dalam menempuh pendidikan.

Namun dibalik keterbatasan itu, sepanjang kami penyandang OYPMK dan penyandang disabilitas lainnya  diberikan ruang, waktu dan kesempatan. Insya Allah, kami bisa. Anggapan itu masih bisa ditepis oleh OYPMK sendiri sepanjang dia mau berusaha, mencari, dan belajar. -Mahdis Mustafa.

Tips penting bagi OYPMK dan disabilitas saat melamar pekerjaan, Pak Mahdis tak ragu mencantumkan statusnya sebagai OYPMK pada CV. Sehingga perusahaan dapat mengetahui sejak awal kondisi calon pegawainya. Dia bertanya dulu pada HRD apakah menerima pegawai OYPMK. Jika perusahaan tidak mau mempekerjakan, hal ini sudah diketahui sejak awal proses rekrutmen.

Baca Juga:  Periksa Kesehatan Haji Tahap I Bagi Disabilitas, Apa Saja?

Peran Pemerintah dalam Upaya Meningkatkan Taraf Hidup OYPMK

Berkaca dari perjuangan Pak Mahdis, stigma di masyarakat yang cenderung negatif terhadap OYPMK diakibatkan karena proses penyembuhan kusta yang lama. Bisa mencapai 6 bulan hingga 1 tahun. Sehingga banyak yang terganggu dan menjadi takut berdekatan dengan OYPMK.

agus suprapto, kemenko pmk

Pemerintah didukung dengan kolaborasi Kemenko PMK dan berbagai kementerian terkait, tidak hanya mengurusi masalah klinisnya saja. Di sisi lainnya juga mendampingi OYPMK dan keluarganya dalam mengatasi berbagai persoalan termasuk menghadapi stigma di masyarakat. Soalnya penyakit kusta tidak hanya persoalan kontak erat, tetapi juga genetika seperti halnya di Papua.

OYPMK berdaya kayak Pak Mahdis mampu memotivasi OYPMK dan penyandang disabilitas lainnya. Kunci persoalan kusta ada pada kebersihan. Oleh karena itu, Kemenko PMK berusaha mengatasi berbagai persoalan dan perbaikan kota besar terutama terkait sanitasi, kurangnya matahari, dll. Untuk itu pihaknya menghimbau agar penyakit kusta dapat dikendalikan dengan dukungan dari masyarakat.

Setuju banget, Pak. Semoga Indonesia dapat terbebas dari kusta. Karena sesungguhnya tiap orang memiliki hak warga negara yang sama. OYPMK yang sudah sembuh dapat kembali ke masyarakat. Sehingga kita tak perlu takut tertular penyakit kusta dari OYPMK. ^^

Kalau sobat ingin menonton link live streaming KBR dipersilahkan menonton
tayangan ulangnya di sini:

211 Views

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.