FEMINISME DAN FOBIA TERHADAP KELUARGA
Islam

Feminisme dan Fobia Terhadap Keluarga

Tulisan feminisme dan fobia terhadap keluarga merupakan hasil rangkuman dari webinar “Serba-Serbi Faham Feminisme”. Diselenggarakan oleh lembaga The Center of Gender Studies dengan narasumber seorang influencer mom muslimah asal UK bernama Sister Farhat Amin.

kajian feminisme oleh sister farhat amin

Kajian diselenggarakan dalam Bahasa Inggris. Molzania berinisiatif untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Menurut Molzania, kajian seperti ini bermanfaat untuk menambah khazanah dan wawasan tentang Islam. Sobat bisa melihat bagian pertamanya yang berjudul “Sejarah dan Asal Mula Paham Feminisme“.

 

Feminisme dan Fobia Terhadap Keluarga

 

Pada dasarnya ini bertujuan untuk mengubah kebiasaan tradisional dalam masyarakat atas nama kesetaraan gender. Kebebasan mencakup penerimaan aktivitas berhubungan selain monogami. Termasuk penggunaan pil kb dan alat kontrasepsi, LGBT, dan pelegalan aborsi.

Kebebasan ini di US dimulai pada 1960. Berkembang pesat dan menyebar ke seluruh dunia dalam dua dekade. Dampak gerakan ini mengabaikan nilai-nilai pernikahan, serta menggampangkan dorongan perzinahan diantara para wanita. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh pria. Keduanya baik berlainan jenis maupun sejenis.

penyakit HIV AIDS bergentayangan

Menurut sensus yang dilakukan oleh US Census Bureau pada tahun 2009, sekitar 45 persen penduduk Amerika yang menikah pada rentang usia 25-34 tahun. Bandingkan dengan usia menikah penduduk Amerika yang mencapai 79 persen selama tahun 1960 rata-rata berada di atas 18 tahun.

Kita bisa melihat tayangan-tayangan yang tidak pantas dipertontonkan secara terang-terangan di layar kaca maupun online. Youtube, Netflix, film Hollywood, film Bollywood bahkan drama korea pun tak luput menjajakan adegan tersebut.

Bahkan ada beberapa tayangan yang memang diperuntukkan untuk anak dan remaja. Gaya hidup yang seperti ini sangat ditentang oleh Islam. Allah mewanti-wanti umat-Nya untuk menghindari perzinahan.

Seorang muslim feminis bernama Mona Eltahawy terang-terangan mengajak muslim Arab untuk melakukan revolusi sosial, politik, dan hubungan untuk membebaskan wanita dari segala bentuk pengekangan.

Menurutnya berbagai konsep dan pandangan Islam mengekang kebebasan wanita. Pandangannya berhasil memengaruhi banyak muslim dan tentu saja mendapatkan dukungan dari Barat.

Baca Juga:  Qur'an Challenge : Hapalan Satu Ayat

mona elthahawy, feminis muslim, dan bukunya

Dengan adanya kebebasan tersebut, konsep perzinahan yang dilabeli dosa oleh agama Islam dan Kristen akan menghilang. Dia malahan lebih menyukai pendekatan pragmatis yang mengijinkan zina diiantara orang-orang yang telah dewasa.

Semakin bebasnya kehidupan seorang wanita, artinya akan tersedia banyak pilihan yang bisa diambil.

 

Pandangan Feminis yang Menghancurkan Tatanan Keluarga

 

Sister Farhat Amin mengemukakan beberapa contoh pandangan feminisme yang menyesatkan diantaranya, yaitu:

1. Baik laki-laki dan wanita memiliki peran dan tanggungjawab yang sama. Itu artinya mereka berdua memiliki peran ganda sebagai pencari nafkah dan sekaligus mengurusi rumah tangga.

2. Suami tidak seharusnya diberikan peran sebagai pemimpin rumah tangga. Ini akan menegasikan konsep keseimbangan yang diatur oleh Allah terkait keluarga.

3. Di Barat peranan seorang ayah menjadi tidak berharga dan cenderung menjadi cemoohan

4. Jika seorang ayah berusaha untuk melindungi anak gadisnya dan bersikap tegas sebagai seorang suami, sikap ini lantas dituduh sebagai bagian dari patriarki, terbelakang dan pria toksik.

5. Perempuan sesungguhnya mencari kesetaraan yang semu. Faktanya wanita sama sekali tidak berharga kecuali menjadi makhluk ekonomi, diperbudak kapitalis

6. Kapitalis membuat pria mengutamakan karier sebagai tujuan hidup mereka, dan itu juga yang dilakukan oleh wanita. Zaman sekarang, uang dan uang yang paling penting.

 

Selain fenomena yang dikemukakan di atas juga terdapat berbagai fakta. Sebuah artikel berjudul “Mengapa Perempuan Masih Tidak Bisa Mendapatkan Semuanya?” tahun 2012 yang ditulis oleh Anne Marie Slaughter, seorang pakar hukum berkebangsaan Amerika, menyebutkan “Perempuan zaman sekarang dibesarkan dengan pemahaman feminis.”

foto anne marie slaughter

“Kita masih tidak bisa mencapai kesepakatan antara dua pilihan: keluarga atau karier. Dalam upaya menghancurkan budaya patriarki, dimana wanita beramai-ramai turun ke dalam bursa kerja, ini akan membangkitkan mesin kapitalis yang pada akhirnya akan menjadi beban tanggungan bagi wanita.”, tambahnya.

 

Dampak dari Paham Feminisme

 

Menurut Sue Palmer dalam buku “Perempuan Abad 21” menulis, “Ketika peran seorang ibu dipandang hanya sebagai hambatan bagi karier seorang wanita, maka itu akan menimbulkan efek negatif terhadap konsep diri wanita dan perempuan”.

Baca Juga:  Tanda-Tanda Khusnul Khatimah

Pada tahun 2013, UN mempublikasikan laporan mengenai kesejahteraan anak-anak pada 30 negara maju. Inggris menempati peringkat 16, sementara Amerika Serikat menduduki peringkat ke 26. Survey NHS tahun 2017 menyebutkan bahwa 1 dari 8 anak mengalami masalah mental.

gambar anak-anak

Peran keluarga sebagai satu kesatuan ditolak. Ini artinya sisi individualis ambil bagian. Anak-anak yang berada di lingkungan wanita berkerja berkemungkinan memiliki mental yang tidak stabil.

Orangtua yang berkerja siang dan malam (cenderung meninggalkan anak-anak mereka), akan kehilangan waktu kebersamaan di meja makan. Jika hal ini memengaruhi suatu komunitas, maka akan muncul suatu komunitas yang cenderung egoistik.

Sister Farhat Amin menegaskan para ibu semestinya tahu batasan diri. Bila ingin tetap berkarier, hendaknya tetap memperhatikan kebutuhan dan kondisi anak-anaknya di rumah. Peran sebagai ibu tetaplah menjadi yang utama bagi wanita yaitu sebagai pengayom anak-anaknya.

  

Berkaca dari Pandangan Islam

 

Paham Feminisme tidak sama dengan Islam. Feminisme datang dari pemikiran manusia yang tentu saja tidak sempurna. Bahkan cenderung menyimpang dan mengutamakan kebebasan.

Feminisme yang kita kenal saat ini sudah dipengaruhi oleh banyak sekali pendapat dan opini. Maka dari itu sangat jauh berbeda tujuannya dengan tujuan awal pendirinya.

Sementara itu, Islam bersumber dari wahyu Allah. Tidak dapat diubah dan diganggu gugat. Tujuan diciptakannya manusia yaitu untuk menyembah Allah swt. Maka dari itu, di dalam Alqur’an dan Assunnah dapat kita temukan aturan-aturan dan larangan yang harus dipatuhi oleh umat Islam.

Islam memandang wanita 

Allah menciptakan umat manusia sama di hadapan-Nya. Islam mengutamakan prinsip keadilan. Baik laki-laki dan perempuan. Masing-masing diberikan hak dan tanggungjawab.

Berbeda dengan feminis yang mengutamakan hak asasi. Islam membuat laki-laki dan perempuan berbeda hak dan tanggungjawabnya. Perbedaan itu bukan berarti Allah menyayangi salah satunya.

Bahkan dalam Alqur’an, perempuan punya satu surah tersendiri. Surah An-nisa. Allah bahkan mendengar gugatan dari perempuan dalam surah Al-Mujadilah. Hak waris perempuan dan laki-laki memang 1:2. Laki-laki diperintahkan untuk menjaga ibu dan saudara perempuannya.

Baca Juga:  Sejarah dan Asal Mula Paham Feminisme

Dalam agama Islam, keluarga itu merupakan anugerah Allah swt yang penting. Dengan adanya keluarga, kita merasa aman dan nyaman. Ayah, ibu dan anak-anak merupakan satu kesatuan yang saling terhubung.

Baik di dunia maupun di akhirat. Mereka masing-masing diberikan tanggungjawab dan haknya pun harus diberikan sesuai ketentuan agama Islam. Kesetaraan bukanlah fondasi pernikahan dan keluarga.

Mengenai finansial, istri memiliki hak penuh atas pendapatannya. Tidak ada kewajiban istri menafkahi keluarganya. Seorang suami dilarang mengambil uang istrinya tanpa persetujuannya.

Jika suami melakukan KDRT atau tidak memberi nafkah, istri berhak meminta cerai. Islam menyediakan ketentuan ini untuk wanita supaya terhindar dari penganiayaan yang dilakukan suami.

Islam memandang keluarga

Ada dua opsi yang diberikan; perceraian dengan persetujuan istri atau diputuskan oleh hakim. Masalahnya ketentuan ini hilang pada negara-negara muslim. Terakhir kali tersedia pada era kerajaan Ottoman.

Pada keluarga muslim memang yang dijadikan pemimpin adalah suami, tetapi tanggungjawabnya juga besar untuk menjaga keluarganya. Suami bertugas mencari nafkah.

Memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarganya. Ada banyak ayat di Alquran terkait pernikahan dan keluarga. Istri pakaian suami, dan suami pakaian istri. Artinya suami dan istri harus saling melindungi dan menjaga satu sama lain.

Adapun peran ibu tak kalah penting dalam Islam. Seorang anak diwajibkan berbakti dan bersikap sopan kepada ibunya. Jika kedua orangtua sudah sepuh, seorang anak wajib memeliharanya.

Jika kita belum bisa menikah karena berbagai alasan, maka hendaknya berpuasa untuk menjaga diri dari hawa nafsu. Kita diperintahkan untuk mencari jodoh yang berkualitas.

Ada 4 kriteria yang bisa dipilih; karena wajahnya, karena hartanya, karena kedudukannya dan yang terpenting itu adalah karena ketaqwaannya.

Kesemua hal yang diatur dalam Islam, tidak ada di negara-negara Barat saat awal paham feminisme berkembang. Makanya wanita melakukan protes dan gugatan demi kesetaraan dengan kaum pria.

Beruntunglah kita yang sudah terlahir sebagai muslim. Hendaknya kita sebagai seorang muslim senantiasa belajar tentang agama Islam dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh. ^^

634 Views

Tinggalkan Balasan