ours childfree (1)
Buku

Resensi dan Sinopsis Novel Ours Tentang Childfree Karya Adrindia Ryandisza

RESENSI NOVEL OURS KARYA ADRINDIA RYANDISZA – Isu child free alias keengganan memiliki anak pasca menikah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Banyak terjadi pro dan kontra. Apalagi di Indonesia yang masyarakatnya religius.

Nah, Novel yang satu ini lumayan berani karena bertemakan hal yang tidak biasa tersebut. Mengupas tentang fenomena child free dari perspektif mereka yang tengah menjalaninya.

Istimewanya novel ini merupakan salah satu karya dari Gramedia Writing Project yang merupakan wadah komunitas penulis online dari Gramedia. Lantas, benarkah child free adalah sebuah pilihan?

Resensi Novel Ours Tentang Childfree Karya Adrindia Ryandisza

Meskipun Molzania bukan penganut paham Child Free, tapi Molzania penasaran menelaah perspektif baru yang berbeda. Melalui novel Ours karya Adrindia ini, kita diajak menyelami pikiran dan beragam alasan orang memilih untuk tidak punya anak.

Sebuah bacaan yang ringan dengan gaya yang menyentuh. Membuat pembaca menyelami pemikiran yang bisa dibilang sensitif di Indonesia.

Ohya, tulisan ini sinopsisnya nggak lengkap ya, guys.
Jika kalian ingin membaca novel ini, sudah tersedia di toko buku
Gramedia di seluruh Indonesia. Atau bisa kalian baca di Gramedia Digital untuk versi e-booknya. ^^

Sinopsis Singkat Novel Ours : Punya Anak Itu Pilihan?

Bagi banyak orang, kehadiran seorang anak adalah berkah. Setelah menikah, umumnya orang-orang mendambakan kehadiran momongan. Adanya pepatah “banyak anak, banyak rezeki” memperkuat hal tersebut.

Kehadiran seorang anak dianggap sebagai sebuah anugerah dari Allah swt. Tapi tidak bagi seorang Prita, tokoh utama pada novel ini. Trauma psikologis masa lalu dengan ibu kandungnya memengaruhi keputusannya.

Sosok Prita digambarkan sebagai sosok perempuan milenial yang mandiri dan berpemikiran modern. Beruntung dia memiliki seorang pacar yaitu Andi yang memahami dan menyetujui anggapannya tersebut.

Baca Juga:  Review Book : Orange by Takano Ichigo

blurb novel ours

Singkat kata, mereka pun menikah. Awalnya kehidupan pasca menikah Prita dan Andi mesra dan bahagia. Mereka saling mendukung satu sama lain. Prita menjalani kehidupan sebagai istri yang bekerja. Sedangkan Andi membuka bisnis kafe kecil-kecilan,

Tentunya kehidupan setelah menikah, tak lagi milik mereka berdua. Melainkan juga melibatkan dua keluarga besar. Mulailah banyak terjadi gesekan sana-sini akibat keputusan Prita dan Andi untuk tak memiliki anak. Mertua dan ipar Prita enggan menerima semua itu. Mereka terus meminta Prita dan Andi untuk segera memiliki anak.

Di saat bersamaan, bisnis kafe Andi sedang tidak berjalan mulus. Dirongrong oleh mertuanya, hubungan kedua pasangan muda ini pun berantakan. Kenzo teman sekantornya, ternyata baru saja bercerai. Iaternyata memiliki persoalan rumah tangga yang sama dengan Prita. Belum lagi sosok ibu Prita pun hadir menambah runyam suasana.

Luka lama Prita dengan ibunya kembali tertoreh.
Berhasilkah Prita melalui cobaan demi cobaan? Goyahkah ia dengan keputusannya?

Resensi Novel Ours Karya Terbaru dari Andrindia Ryandisza 

Novel Ours ini mengisahkan kehidupan pasangan muda yang baru menikah bernama Prita dan Andi. Selayaknya pasangan yang baru menikah, masalah problematika khas rumah tangga yang tak kunjung usai.

Mulai dari hubungan dengan keluarga masing-masing, perekonomian hingga rekan kerja di kantor. Uniknya di sini Andi dan Prita menghadapinya dengan tetap berusaha saling mendukung satu sama lain.

Molzania suka dengan hubungan keduanya yang dewasa. Andi sebagai sosok suami teladan yang sangat menyayangi istrinya. Sementara Prita wanita cerdas yang tak tergoyahkan.

penggalan isi novel

Hubungan antara keduanya terjalin apik dan manis. Mereka berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan opini masing-masing. Penulis lihai meramu bagaimana seharusnya hubungan yang harmonis antara suami istri.

Sampai akhirnya, Prita dan Andi memutuskan untuk keluar dari kebiasaan. Di saat itulah hubungan mereka pun hancur berantakan. Masalah bertambah runyam dan pelik.

Baca Juga:  [BOOK REVIEW] "Yuk, Keren Berinternet!" Karya Dian Onasis

Namun satu momen menyadarkan mereka untuk kembali bersama. Kembali pada komitmen awal mereka membina hubungan rumah tangga. Ending yang sebenarnya tak terlalu memuaskan pembaca. Namun dari segi cerita itulah yang terbaik.

Kekuatan novel ini terletak pada gaya bahasa penulis yang cenderung rasional. Banyak aspek sosial dan budaya terkait pernikahan yang ada di Indonesia dikritisi secara terang-terangan oleh penulis. Uniknya pada novel ini, penulis juga membahas isu mental health yang kerap dialami perempuan, yaitu baby blues syndrome.

Fenomena Child Free ditulis dengan alur mengalir dan mudah dipahami oleh pembaca. Molzania menyetujui beberapa nasihat-nasihat terkait pernikahan dan pra-nikah yang tersaji dalam buku ini. Bahwa suami istri harus saling mendukung dan memahami bahkan dari sebelum menikah.

Jujur, Molzania kurang menyukai ending yang dalam novel ini. Berdasarkan pengakuan penulis, novel ini mengangkat isu Child Free secara general. Tidak sama sekali menyangkut sisi keagamaan.

Ini tentu sangat disayangkan sekali karena sejatinya kehidupan Prita dan Andi berasal dari keluarga muslim. Terlebih beberapa keputusan di buku ini menyiratkan keegoisan tokoh utama dalam menjalani hidup. Padahal Prita dan Andi sebenarnya bisa memiliki pilihan-pilihan berbeda yang mungkin bisa lebih bijak bagi keduanya.

Sebuah Bantahan untuk Fenomena Child Free

Untuk lebih memahami Child Free ini, Molzania membaca beberapa referensi. Ada argumen bahwa Alqur’an dan hadis tidak pernah mewajibkan untuk memiliki anak. Namun tidak serta merta ini merupakan perwujudan dari pilihan atas Child Free.

Dalam pandangan Islam, tujuan menikah ialah memiliki keturunan yang mulia. Rasulullah sendiri justru menganjurkan untuk memiliki anak. Sebab di akhirat kelak, Rasul dapat berbangga dengan betapa banyaknya generasi penerus dari umat Nabi SAW.

Novel Ours karya Andrindia ini sarat akan paham feminisme yang mengadopsi pemikiran dari Barat. Konsep feminisme menggaungkan pemikiran tubuhku adalah milikku. Sebenarnya ini tuh bukan merupakan bagian dari budaya di Indonesia.

Baca Juga:  REVIEW Novel "I'll Go to You, When The Weather is Nice" oleh Lee Do Woo

childfree isu feminisme yang berkembang di Indonesia

Buku ini juga menyiratkan pemikiran yang lantang disuarakan oleh kaum feminis. Ketakutan memiliki anak karena takut miskin, takut tidak bahagia, dan lain sebagainya. Pembahasannya tersaji dengan cukup lengkap dan mendetail.

Padahal dalam Alqur’an, Allah swt menjamin bahwa setiap anak memilki rezekinya masing-masing. Sayangnya istilah rezeki dalam novel ini hanya diidentikkan dengan harta kekayaan semata.

Memang ketika memiliki anak, para orangtua diharuskan memikirkan segala sesuatu untuk mendidik dan membesarkan mereka. Dalam hal ini, mereka idealnya mempersiapkan dana pendidikan, kesehatan, investasi, dan sebagainya.

Namun bukan berarti, ini jadi pembenaran alasan untuk enggan memiliki anak. Makanya dibutuhkan dorongan dan kerjasama dari berbagai pihak. Membesarkan generasi penerus bukan hanya tugas orangtua.

Ustazah Elizabeth Diana Dewi kepada Republika mengatakan bahwa masalah-masalah terkait childfree dapat diselesaikan dengan cara :

  1. Berbagi tugas, dimana dapat dimulai dari generasi sebelumnya yang dalam hal ini kakek dan nenek. Mereka harus memilihkan jodoh yang baik sesuai syariat untuk anaknya.
  2. Dorongan dari pemerintah. Pemerintah hendaknya menyiapkan strategi agar alasan-alasan perekonomian yang menyebabkan Child Free dapat diminimalisir.
  3. Peran guru di sekolah juga tak kalah penting untuk menanamkan konsep agama sejak dini.

Fenomena Childfree adalah isu nyata yang sedang berkembang di era masyarakat modern Indonesia. Novel ini menyajikan kisahnya dengan lumayan lengkap. Baik pro dan kontra.

Hendaknya isu childfree ini menjadi bahan perenungan kita bersama. Keputusan akhirnya tetap berada pada masing-masing individu yang menjalani. Setiap pilihan tentu memiliki resiko, bukan?

Identitas Buku:

Judul : Ours
Penulis : Adrindia Ryandisza
Jumlah Halaman : 208
Tahun Terbit : 2021
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Fiksi Metropop

78 Views

12 Komentar

  • Rach Alida

    Kayaknya tak hanya pasangan muda tapi pasangan yang sudah menikah puluhan tahun juga bisa jadikan novel ini sebagai bacaan menarik. Makasih rekomendasinya ya mba 🙂

  • Mutia Karamoy

    Beberapa waktu lalu isu tentang Childfree ini memang booming banget. Meskipun itu adalah pilihan dan hak setiap orang terutama kaum perempuan, tapi sejujurnya saya kurang setuju karena jika berkaitan dengan trauma asalkan kita mendapat pasangan yang baik dan membuat kita nyaman hidup bersamanya, perlahan namun pasti bisa hilang kok. Mungkin ini yang berkaitan dengan keikhlasan untuk memaafkan masa lalu.

  • Katerina

    Dari novel ini pembaca bisa mengetahui perspektif lain soal childfree, ya Moly.

    Saya suka Moly memasukkan hal penting berikut ini dalam ulasan:
    “Dalam pandangan Islam, tujuan menikah ialah memiliki keturunan yang mulia. Rasulullah sendiri justru menganjurkan untuk memiliki anak. Sebab di akhirat kelak, Rasul dapat berbangga dengan betapa banyaknya generasi penerus dari umat Nabi SAW.”

Tinggalkan Balasan