Antologi

PERKEMBANGAN EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA TAHUN 2014

Oleh : Firsty
Ukhti Molyndi
Jurusan
Akuntamsi
Universitas
Terbuka
Abstrak
Pesatnya perkembangan ekonomi syariah di dunia juga
mendorong perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Setiap tahun ekonomi
syariah terus tumbuh di kisaran angka 5,6% per tahun. Diprediksi angka ini akan
terus meningkat tahun 2015 dimana saat ini Indonesia telah menduduki peringkat
empat besar dunia. Namun pencapaian ini ternyata sangat tidak sebanding dengan
ekonomi konvensional. Pendapatan bank syariah sangat jauh berada di bawah bank
konvensional. Untuk itu diperlukan efisiensi perbankan syariah dan sejumlah
langkah sosialisasi yang melibatkan semua pihak baik pemerintah, perbankan dan
masyarakat untuk mewujudkan perekonomian syariah yang mampu bersaing dengan
ekonomi konvensional.
Keywords:
ekonomi, syariah, perbankan syariah

Pendahuluan
Pesatnya pertumbuhan ekonomi Islam dunia
yang semakin tinggi, juga mendorong
kemajuan ekonomi berbasis Islam di Indonesia. Kondisi Indonesia dengan
mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, menjadikan ekonomi Islam tidak
bisa lagi dipandang sebelah mata. 
Dari segi global, aset keuangan berbasis
syariah pada tahun 2014 mencapai angka 17,3 persen lebih tinggi dari tahun
sebelumnya. Atau dengan kata lain, aset ini telah mencapai jumlah dua trilyun
di seluruh dunia.
Sementara itu di Indonesia setiap
tahunnya ekonomi syariah terus tumbuh di kisaran angka 5-6% seiring dengan
membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5%. Diprediksi angka ini akan
terus meningkat pada 2015 dimana saat ini Indonesia telah berada dalam posisi
empat besar di bidang industri asuransi syariah. 
Ekonomi syariah sendiri merupakan ilmu
ekonomi yang menerapkan nilai-nilai Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Pada pelaksanaannya, ekonomi syariah banyak meninggalkan praktek-praktek yang
diterapkan oleh ekonomi konvensional yang dianggap banyak menguntungkan para pemilik
modal. 
Ekonomi syariah mulai masuk ke Indonesia
pada tahun 1991 ditandai dengan berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank
Muamalat. Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah lembaga-lembaga keuangan
lainnya yang kemudian menyatu dalam wadah organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah
(MES).
Berdirinya MES menjadi cikal bakal
menjamurnya trend ekonomi syariah ke seluruh pelosok Indonesia. Sejumlah
bank-bank Islam bermunculan menyediakan berbagai jasa-jasa keuangan berbasis
syariah. Dari mulai produk asuransi, pegadaian hingga leasing berbasis syariah. 
Para ulama yang menjadi panutan
masyarakat pun turut andil dalam memajukan dan mengedukasi masyarakat untuk
mulai menggunakan produk-produk berbasis syariah. Anggapan bank konvensional
yang banyak menggunakan sistem riba, menjadi keunggulan tersendiri untuk
bank-bank berlabel syariah dimana mereka menggunakan sistem bagi hasil sesuai
dengan prinsip-prinsip yang islami.
Pada sisi lain, pada kenyataannya
bank-bank syariah belum mampu sepenuhnya bersaing dengan bank-bank
konvensional. Dibandingkan dengan pendapatan bank-bank konvensional, pendapatan
bank-bank syariah sangat jauh berbeda. Dikemukakan Direktur Keuangan Bank
Syariah Mandiri, Agus Dwi Handaya, pendapatan bank-bank syariah hanya mencapai
200 trilyun, sementara bank-bank konvensional lain berada di kisaran angka 2-3
ribu trilyun.
Selain itu adanya fakta lain bahwa
market share ekonomi syariah secara nasional juga tergolong sangat rendah yakni
hanya lima persen. 
Melihat potensi ekonomi syariah yang
begitu besar di masa depan, penulis tergerak untuk turut dalam memberikan opini
dan masukan bagaimana cara agar perkembangan ekonomi syariah bisa membaik di
tahun-tahun mendatang sehingga di kemudian hari terbentuk gerakan ekonomi
syariah yang terus tumbuh dan meningkat serta mampu menghadapi persaingan
dengan bank konvensional?
Tulisan yang disajikan ini bersifat
deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi literatur dari buku-buku, jurnal
dan pendapat para ahli yang dipublikasi maupun tidak yang sesuai dengan topik
bahasan pada penelitian ini.
Pembahasan
Ekonomi ialah ilmu yang mempelajari
cara-cara seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang
tak terbatas, tapi di sisi lain faktor-faktor pemuas kebutuhannya terbatas.
Dengan kata lain, ekonomi merupakan cara manusia untuk bertahan hidup yang
biasanya dilakukan dengan cara melakukan interaksi tukar-menukar barang dengan
manusia lainnya.
Dalam pandangan Islam, ekonomi berarti
keseimbangan. Maksudnya ialah kecukupan yang masih berada dalam koridor jalan
yang benar, yaitu Al-Qur’an dan al-Hadis. 
Sedangkan syari’ah merupakan kata yang
berasal dari Bahasa Arab yang mengandung arti jalan menuju air. Maksudnya ialah
jalan menuju sumber kehidupan.
Pada konsep syar’iah terdapat dua konsep
utama, yakni ibadah dan muamalah. Masing-masing konsep ini harus menyatu, tak
boleh terpisahkan. Pun di dunia modern. Oleh karena itu, agar semuanya dapat
berjalan dengan baik, perlulah dibentuk sebuah lembaga keuangan dalam bentuk
perbankan bercirikan syar’iah. Ini akan memudahkan masyarakat untuk melakukan
aktivitas ekonomi dan sosial demi memenuhi kebutuhan hidupnya. 
Perbankan dalam Pasal 1 angka 1 UU No.
21 tahun 2008 diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut tentang bank
syariah dan Unit Usaha Syariah mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara
memproses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. (Imaniyati, Sri. 2013, p.66).
Di Indonesia, sejak tahun 1992,
perbankan syariah mulai diakui kedudukannya dengan dikeluarkannya Undang-Undang
No. 7 tahun 1992 yang mengubah nama ‘Bank Berdasarkan Konsep Bagi Hasil”
menjadi “Bank Berdasarkan Prinsip Syariah”. 
Pada akhir tahun 2014, jumlah unit
perbankan syariah di Indonesia sudah mencapai 197 unit, dengan perincian; 12
bank umum syariah, 22 bank umum konvensional yang memiliki Unit Usaha Syariah
(UUS) dan 163 bank pembiayaan rakyat syariah. 
Untuk itu dalam rangka memajukan
perekonomian syariah di Indonesia, diperlukan salah satunya peran perbankan
syariah. Maka diperlukanlah efisiensi perbankan syariah. Efisiensi ini
digunakan untuk mengukur kinerja perbankan-perbankan syariah. Bila perbankan
itu efisiensinya baik, maka kinerjanya pun baik. Demikianlah pula sebaliknya.
Bila perbankan syariah berefisiensi buruk, maka kinerjanya pun buruk.
Ada sejumlah metode efisiensi yang bisa
digunakan untuk mengukur tingkat kinerja perbankan di Indonesia, diantaranya;
1. Data
Envelopment Analysis
(DEA), merupakan teknik pemrograman linear untuk
mengukur efisiensi relatif masing-masing organisasi unit yang dalam hal ini
adalah bank. Menurut Charles, Cooper dan Rhodes (1978), pemrograman linear digunakan
untuk memaksimalkan nisbah antara input dan output. (Hidayat, Rahmat. 2014, p.99)
2. Stochastic
Frontier Approaches
(SFA), teknik parametrik untuk mengukur tingkat
efisiensi. Merupakan teknik yang paling sering digunakan untuk menentukan
besaran jumlah pendapatan. 
3. Recusive
Thick Frontier Approaches
(RTFA), diperkenalkan pertama kali oleh Kalirajan
dan Obrona (1994), lalu dikembangkan oleh Berger dan Humphre (1992), merupakan
pengembangan dari teknik Thick Frontier
Approaches
(TFA) dimana teknik ini dapat memperkirakan panel data untuk
mengestimasi limit produksi. 
4. Disposible
Free Hull
(DFH), termasuk teknik parametrik dengan mengubah besaran input
ke output dalam rangka membuat peringkat tingkat efisiensi dan membandingkan
antar individu dengan limit production
probability frontier. 
Konsep efisiensi perbankan ini telah
diterapkan pada perbankan konvensional di banyak negara di dunia. Terbukti
efektif untuk mengukur tingkat efisiensi pada beberapa tingkatan negara, mulai
dari negara maju, negara transisi, hingga negara berkembang.
Di Amerika, teknik ini telah lama
diterapkan pada perbankan konvensional. Hasil kajiannya terbukti lebih efektif
mengatasi berbagai persoalan perbankan di negara tersebut. Sepanjang tahun
1984-1998, diketahui bahwa adanya hubungan yang kuat antara efisiensi dan tingkat
input dan output. (Rahmat.2014)
Pada negara-negara yang sedang mengalami
proses transisi, masuknya bank asing meningkatkan efisiensi perbankan di
negara-negara tersebut. Hal ini berdasarkan kajian yang dilakukan Hasan dan
Marton (2003), Drabiaya (2003, dan Fries dan Taci (2005)
Sementara itu, teknik efisiensi
perbankan ini sudah lama diterapkan pada perbankan konvensional di Indonesia. Hanya
saja, teknik ini lebih baru diterapkan pada perbankan syariah. Berdasarkan
pendekatan DFA, bank konvensional memang sedikit lebih efisien dibandingkan
bank syariah. Tetapi berdasarkan pendekatan DEA, faktor penyebab
ketidakefisienan bank syariah terletak pada sumber daya manusia.
Menurut Kajian Bank Indonesia tahun
2002, tiga permasalahan utama yang dihadapi perbankan syariah ialah: (1)  Kurangnya pengetahuan dan pemahaman produk
perbankan syariah, (2) Terbatasnya cakupan pasar perbankan syariah, (3) dan
Faktor pembiayaan.
Untuk itu, langkah kedua yang harus
dijalankan untuk meningkatkan daya saing perbankan syariah dalam rangka
mengembangkan perekonomian syariah di Indonesia di masa depan ialah
sosialisasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
sosialisasi merupakan proses seseorang untuk belajar mengenal lingkungannya.
Jadi sosialisasi disini dimaksudkan untuk agar masyarakat lebih mengenal dan
tertarik pada ekonomi syariah dan mau aktif berpartisipasi dalam menyukseskan
kinerja perbankan syariah. Pada akhirnya bila hal ini bisa terus berjalan
dengan konsisten bisa mendorong perkembangan ekonomi syariah lebih baik lagi di
kemudian hari. 
Sosialisasi ini sangat penting untuk
memecahkan ketiga permasalahan diatas.  
Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia,
Din Syamsuddin, organisasi keagamaan harus berperan dalam mendorong
perekonomian syariah. Selama ini cara pandang masyarakat Indonesia belum open minded, sehingga masih butuh
sosialisasi. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia masih belum tertarik
menggunakan jasa perbankan syariah dalam aktivitas ekonominya.
Sosialisasi ini haruslah melibatkan
semua pihak. Baik ormas keislaman, pondok pesantren, ulama, yayasan maupun
lembaga pendidikan. Diharapkan dengan dukungan semua pihak, cakupan pasar
perbankan syariah bisa lebih luas. 
Selain itu, sosialisasi ini juga
diperlukan untuk menarik sejumlah investor, baik dari kalangan pemerintah
ataupun swasta untuk aktif memajukan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. 
Menurut Direktur Keuangan Bank Syariah
Mandiri (BSM) Agus Dwi Handoyo, permodalan yang kuat ini nantinya akan
menyebabkan likuiditas meningkat. 
Ia mencontohkan, di Malaysia sektor
perbankan syaraih mendapatkan porsi yang cukup besar dalam APBN yang dibuat
oleh pemerintah. 
Terakhir, sosialisasi juga penting untuk
meningkatkan sumber daya pada perbankan syariah. Hal ini dikarenakan banyak
lulusan perbankan yang lebih memilih bank konvensional untuk berkarier
dibandingkan bank syariah. Sehingga kehadiran bank syariah selama lebih dari
satu dasawarsa ini belum terlalu populer.
Kesimpulan
Dengan melakukan efisiensi perbankan
syariah, diharapkan perbankan syariah mampu meminimalisir berbagai masalah dan
hambatan yang ada, sehingga hal ini bisa membuat perekonomian syariah menjadi
lebih baik di masa mendatang.
Pentingnya kajian efisiensi ini
dilaksanakan setiap tahunnya agar dapat mengetahui solusi terbaik bagi setiap
permasalahan yang dihadapi perbankan syariah khususnya di Indonesia.
Selain itu, diperlukan pula usaha-usaha
sosialisasi antara pihak-pihak terkait, yakni pemerintah, perbankan dan
masyarakat untuk lebih memusatkan perhatian pada perekonomian syariah.
Bagaimanapun, melihat pangsa pasar perekonomian syariah global bukan tidak
mungkin akan membuat Indonesia menjadi lebih baik lagi. Atau bahkan menjadi
pusat percontohan perekonomian syariah dunia.
Daftar Pustaka
Aset
Perbankan Syariah Global Capai  2
Trilyun AS pada 31 Maret  2015. Diambil tanggal 31 Maret 2015 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/31/141559626/Aset.Perbankan.Syariah.Global.capai.2.Triliun.Dollar.AS
Ekonomi Syariah pada 11 Maret 2015. Diambil
tanggal 31 Maret 2015. 
http://id.wikipedia.o/wiki/Ekonomi_syariah
Hidayat, Rahmat. 2014. Efisiensi Perbankan
Syariah Teori dan  Praktek.
Bekasi:
Gramata Publishing
Data Envelopment Analysis pada 23 Maret 2015 diambil pada 17 April 2015 http://en.wikipedia.org/wiki/Data_envelopment_analysis
Din Syamsudin : Lembaga Keislaman Harus Sosialisasikan Ekonomi Syariah pada 25 Maret 2015           diambil pada 24 April 2015. http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/15/03/25/nlqvay-din-lembaga-keislaman-harus-sosialisasikan-ekonomi-syariah
Fauzia, Ika Yunia, & Riyadi, Abdul   Kadir. 2014. Prinsip Dasar Ekonomi Islam
Perspektif       Maqashid al-Syari’ah.
Jakarta: Kencana Prenadamedia Group
Imaniyati, Neni Sri. 2013. Perbankan Syariah
Dalam Perspektif Hukum Ekonomi
. Bandung:
CV. Mandar Maju
Ini Penyebab Perkembangan Syariah Melambat pada 27 Februari 2015 diambil pada 2 April 2015           http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariahekonomi/15/02/27/nkftwc-ini-penyebab-perkembangan-perbankan-syariah-melambat
Pengertian
Sosialisasi pada 29 Juni 2015. Diambil tanggal 27 April 2015
. http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/pengertian-sosialisasi.html
Sejarah
pada 28 Maret 2001 Diambil tanggal 31 Maret 2015. 
http://www.ekonomisyariah.org/sejarah
Sejarah
Perkembangan Ekonomi Syariah di
Indonesia pada 10 Juli 2008
Diambil tanggal 31 Maret 2015.
https://wiwie17.wordpress.com/2008/07/10/sejarah-perkembangan-ekonomi-syariah-di-indonesia/
Statistik
Perbankan Syariah – Desember 2014
pada 18 Februari 2015 Diambil tanggal 27
April 2015
http://www.bi.go.id/id/statistik/perbankan/syariah/Documents/SPS%20Desember%202014.pdf
Karya Ilmiah ini didaftarkan untuk prasyarat kelulusan sarjana S1 Jurusan Akuntansi Universitas Terbuka tahun 2015″
68 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *