Antologi

Menjadi Agen Pulsa Cilik

Pulsa saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi
semua orang. Baik tua maupun muda. Seiring dengan menjamurnya perangkat
telekomunikasi tanpa kabel, atau yang biasa kita sebut handphone. Di Indonesia
saja, pengguna handphone berbagai merk mulai dari tingkat biasa hingga
smartphone canggih melebihi jumlah penduduk itu sendiri. Menurut data US Census
Bureau, pengguna handphone di Indonesia tahun 2014 sudah mencapai angka 281
juta, lebih banyak 15% dari jumlah penduduk pada tahun tersebut. 
Angka
yang terbilang fantastis itu, membuat industri telekomunikasi pun berkembang
pesat. Tidak hanya perangkat kerasnya yang terus diperbaharui, tetapi para
pelaku usaha provider pun berlomba untuk memberikan pelayanan terbaik bagi
pelanggannya. Termasuk ketika kita mencoba berbicara tentang bisnis jualan
pulsa elektrik.


Hal
itulah yang kuutarakan pada adikku yang waktu itu masih kelas satu SMP, ketika
ia ingin membuat usaha sampingan yang tidak mengganggu jadwal sekolahnya.
“Jualan pulsa murah aja dek,” kataku bersemangat. Jualan pulsa itu tidak banyak
resikonya, dan bisa dipakai sendiri pula.


Aku
teringat temanku dulu semasa sekolah. Ia mengumpulkan uang dari berjualan
pulsa. Pembelinya tentu saja teman-temannya sendiri. Termasuk diriku. Jadi kita
gak perlu jauh-jauh ke kantin sekolah untuk beli pulsa. Cukup beli dengan
temanku itu saja.

Sebelumnya
aku sempat hunting di internet tentang jualan pulsa murah Jakarta. Kenapa aku
memilih Jakarta? Karena lumayan banyak pilihannya. Ternyata rata-rata untung
yang dipatok dari jualan pulsa elektrik Jakarta tidak terlalu besar. Namun
pasarnya sangatlah menjanjikan. Semua orang yang punya hp, pasti butuh pulsa.
Bisnis pulsa ini cocok untuk siapa saja yang baru memulai bisnis skala kecil.
Tak ada salahnya jika adik mencoba berbisnis ini.


Namun
adik tak langsung mengiyakan. Malah bertanya banyak hal padaku. “Tapi kak di
sekolah sudah ada yang jualan pulsa di kantin!” keluhnya. “Terus untungnya bisa
dipake jajan gak?” tanyanya. “Apa gak kena marah guru kalo jualan pulsa?” Adik
bertanya lagi.


Alih-alih
menjawab pertanyaannya, aku mengajaknya ke konter pulsa langganan. Singkat kata
adikku menjadi downline konter pulsa tersebut dengan modal didapat dari uang
tabungannya sendiri. Seluruhnya berjumlah tiga ratus ribu rupiah.


Langkah
pertama aku menyuruhnya untuk melakukan kegiatan promosi terlebih dahulu.
“Beritahukan ke teman-teman dan gurumu di sekolah bahwa kau jualan pulsa, “
perintahku. Dan adik lalu mengirimkan sms dan broadcast bbm ke semua kontak di
hapenya. Satu pekerjaan telah selesai.


Adikku
pun mendapatkan pelanggan pertamanya. Tebak siapa? Wali kelasnya sendiri. Dia
senang bukan main. Bagai mendapatkan durian runtuh, adik memamerkan selembar
uang lima puluh ribu plus seribu rupiah penghasilan pertamanya. “Bagus, “
pujiku. “Lanjutin promonya dek ke temen-temen sekolah, “ nasihatku.


Minggu-minggu
awal adik jualan pulsa, kelihatannya sih lancar-lancar aja. Namun tidak juga
sih sebenarnya. Adik mengadu kepadaku kalau ia sering dijadikan obyek hutangan
teman-temannya. “Kemarin temenku ada yang ngutang kak, “ keluhnya, “sudah tiga
hari belum bayar-bayar.”


Gawat
nih, pikirku. Kalau ini terus dilanjutkan, bisa merugi nantinya. Aku pun
menyuruh adik untuk mencatat nama siapa-siapa saja teman-temannya yang berutang
pulsa. Awalnya ia ragu-ragu, soalnya jadi mirip ibu-ibu kreditan. Kemana-mana
bawa catatan hutang hehehe…

Pengusaha itu mesti tegas pada
customernya. Kalau mau terus diutangin, bisa bangkrut nanti usahanya. Kalau
dalam Akuntansi, neracanya defisit karena tumpukan piutang yang berlebihan. So,
kita mesti bijak kalau mau jadi seorang entrepreneur.

Adik
manggut-manggut mendengar penjelasanku. Bila perlu tidak usah dikirim pulsanya
kalau ujung-ujungnya hutang melulu, aku mewanti-wanti. Sejak saat itu, ia mulai
tegas pada teman-temannya. Yang kemarin sudah berhutang, esok-esoknya harus
bayar dulu hutangnya baru bisa beli pulsa lagi.


Tiga
bulan berikutnya, uang yang terkumpul sudah lumayan banyak. Adik termasuk supel
dan ramah sih dalam pergaulannya. Jadi teman-teman yang berhasil dirayunya
lumayan banyak. Ia juga menerapkan prinsip jemput bola. Setiap hari ngider dari
kelas ke kelas untuk cari pelanggan.
Pinginnya sih semua
penghasilannya dijajanin semua, tapi aku menolak mentah-mentah ide tersebut.
Sebaiknya sebagiannya dijadikan modal saja, pikirku. Lalu untungnya ditabung
dan disedekahin ke pembangunan masjid dekat rumah. Biar berkah, kataku meniru
Upin dan Ipin. Adikpun ngedumel dalam hati. Namun walau ngedumel, ia tetap
menyetujuinya.

Seiring berjalannya waktu,
kegiatan adik di sekolah pun bertambah. Apalagi sekarang ia sudah duduk di
kelas 1 SMU. Otomatis bisnis pulsanya mulai terlantar. Adik merasa kesulitan
bila harus pergi ke konter untuk isi ulang. Aku pun berpikir cepat. Kebetulan
sekali, kami seolah dipertemukan dengan pojok pulsa.

Lewat pojok pulsa, adik tak
perlu repot-repot isi ulang ke konter pulsa langganan. Cukup aku yang
mengisinya via online dengan menggunakan m-banking. Proses registrasinya juga
mudah dan cepat. Nominalnya bisa diisi berapapun. Pojok pulsa sarana bisnis
pulsa yang tepat untuk orang-orang yang butuh kepraktisan.


Kini aku pun bisa jualan pulsa.
Kalau dulu aku harus menghubungi adek agar bisa diisikan pulsa. Sekarang tak perlu
lagi. Aku hanya tinggal membuka akun kami di web pojok pulsa, lalu isi pulsa
sendiri. Sepertinya semua anggota keluarga bisa ikut jualan pulsa. Untung yang
didapat juga lebih besar daripada isi ulang di konter. Jualan pulsa di Pojok
Pulsa juga ada sistem downlinenya loh. Semakin banyak downline kita, maka
semakin besar pula bonus yang kita dapat.



Coba dari dulu udah ketemu sama Pojok Pulsa ya, nggak?

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: