Antologi

Karena Semua Manusia Sama

Beberapa
tahun lalu, menjelang waktu maghrib, sebuah mobil terperosok ke dalam got tepat
di depan rumahku. Ayah yang melihatnya langsung bergegas menolong. Ternyata
pemiliknya orang keturunan Chineese. Tetapi karena ban mobilnya masuk cukup
dalam, ayah dan pemiliknya kesulitan mengangkatnya. Alhasil setengah jam
berlalu upaya mereka berdua sia-sia. Suasana sekitar sedang sepi, hanya ada
ayah disana.
Tak berapa lama, serombongan
anak-anak kecil yang hendak ke masjid lewat. Mereka semua pun dipanggil oleh
ayah untuk membantu mengangkat ban mobil. Badan mereka yang kecil-kecil, namun
terlihat bersemangat akhirnya mampu meloloskan mobil dari lobang got. Mobil pun
bisa berjalan kembali tanpa hambatan. Sebagai tanda terima kasih, pemilik
kendaraan memberi selembar uang lima puluh ribu kepada anak-anak itu. Tak lupa
sebaris senyuman untuk ayah. Anak-anak yang tadi menolong pun bersenang hati,
lalu membagi rata uang yang telah mereka terima.
Lain waktu, mobil kami mogok di
tengah parkiran ketika selesai mengurus paspor di Kantor Imigrasi. Tak ada
waktu untuk mencari bengkel terdekat, karena letaknya lumayan jauh dari pusat
kota. Tiba-tiba ada rombongan turis asli negeri Tiongkok mendekati kami. Mereka
berbicara menggunakan bahasa yang tak kami mengerti. Ayah berusaha menjelaskan
dengan bahasa isyarat. Untungnya mereka semua mengerti. Kemudian, ayah
bersama-sama turis tersebut mendorong mobil kami sekuat tenaga. Sesaat kemudian,
mobil yang tadinya mogok pun berjalan kembali.


Berbuat baik itu ibarat menabung,
ayah menjelaskan. Ketika kita menolong orang lain, suatu hari nanti kita juga
pasti akan ditolong. Menolonglah tanpa mengharapkan apapun dari manussia,
tetapi berharaplah hanya pada Allah SWT. Bila kita mengharapkan manusia, maka
hanya sakit yang kita dapatkan. Karena boleh jadi manusia itu akan lupa kepada
jasa-jasa kita. Sebaliknya ketika kita hanya mengharapkan timbal balik dari
Allah, maka Allah SWT tidak akan pernah membuat kita kecewa.
            
Nasihat yang diberikan ayah, kuingat
lekat-lekat di kepala. Kata-kata inilah yang membuatku sadar, lalu berusaha
untuk dapat menjalankannya dengan baik. Ketika aku menjalankannya, benar saja
hati ini jauh lebih plong. Tidak ada keraguan lagi untuk membantu orang lain.
Selama itu di jalan kebaikan, insya Allah dengan keikhlasan aku merasa jauh
lebih baik.
Aku juga berusaha untuk menularkan
semangatku pada adik. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, kau harus
menolongnya. Tak peduli apa atau siapa, tak perlu memandang mereka apa. Terlebih
itu keluarga terdekat. Tetapi kemanusiaan juga butuh etika, jangan sampai
bantuan yang kita berikan itu malah membuat kita terjebak. Misalnya jika ada
orang yang menyuruh kita menyerahkan bungkusan, kita juga mesti tau isinya apa.
Siapa tahu didalamnya ada narkoba atau bom. Maka kita membutuhkan nurani,
dengarkan kata hati saat akan menolong orang lain. Bisikan hati kita yang masih
bersih bisa memberitahukan apakah sisi kemanusiaan kita diperlukan atau tidak.
Itu prinsip-prinsip yang sudah kujalani dan berusaha kutularkan kepada semua
orang. 
2 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: