Opini

Friend and Family Shaming : Antara Doa dan Harapan

Molly, udah punya pacar? Kapan nikah?

Di usia 20-an tahun ke atas seperti Molzania, seringkali saat lebaran mendapatkan banyak pertanyaan klasik. Berbagai pertanyaan yang seringkali diajukan oleh para orangtua. Jujur awal-awalnya sih biasa saja. Namun lama kelamaan kok ya malah risih.

Secara psikologis, pertanyaan-pertanyaan di atas menimbulkan beban tersendiri. Apalagi jika pertanyaan tersebut diulang-ulang oleh orang yang tak hanya satu jumlahnya, melainkan banyak. Berhadapan dengan seorang disabilitas seperti Molzania, mungkin ada saja yang tidak enak hati melontarkan pertanyaan tersebut. Tapi nyatanya Molzania juga sering mendapat pertanyaan tersebut.

Shaming sendiri berasal dari bahasa Inggris yang artinya ialah memalukan. Iyes, tau mereka yang bertanya bukan bermaksud kepo. Barangkali ada yang cuma iseng bertanya ngalor ngidul. Namun kita haruslah paham situasi. Siapa sih yang mau jomblo terus? Mendingan ketimbang nanya, kenapa nggak cariin jodoh gitu loh.. hehe… Cukup didoakan saja, mana tau dikabulkan.

Semua manusia pasti kepingin sukses. Hidup serba berkecukupan. Punya suami, punya anak dan punya segalanya. Tapi nggak setiap hal bisa kita dapatkan dengan segera, bukan? Mungkin Allah SWT sengaja menundanya agar kita senantiasa bersabar. Percaya deh, banyak pertanyaan yang sebenarnya berpotensi untuk ‘shaming’. Selain hal-hal di atas, pertanyaan-pertanyaan lain yang berpotensi ke arah shaming ialah sebagai berikut :

1. Kapan Punya Anak? 

Berpotensi shaming bagi pasangan baru menikah yang belum dikaruniai anak.

2. Ranking Berapa di Sekolah?

Berpotensi shaming bagi anak-anak yang sedang duduk di bangku sekolah. Kecuali jika si anak memang ranking di sekolah.

3. Udah Kerja Belum?

Berpotensi shaming bagi mahasiswa yang baru lulus dan sedang mencari pekerjaan.

4. Kapan Punya Adik?

Berpotensi shaming bagi pasangan yang baru punya anak satu.

Molzania sendiri saat ini sebisa mungkin menghindari pertanyaan di atas. Dulu mungkin pernah keceplosan. Tapi semenjak tahu bahwa hal-hal tersebut menyakitkan, bahkan mengalami sendiri, berusaha untuk tidak mengajukan pertanyaan yang sama ke orang lain.

Kalaupun segitu keponya, mungkin kita bisa mencoba dengan melihat situasi. Jika kebetulan orang yang mau kita tanyai membawa pasangan, kita bisa menanyainya kapan menikah untuk sekedar berbasa-basi. Itupun masih tergantung penilaian masing-masing orang. Ada yang memang tidak tersinggung dengan pertanyaan di atas. Namun nggak heran ada saja yang merasa tersinggung.

Pilih aman ya hendaknya menghindari pertanyaan di atas. Kalau kalian gimana sobat? Risih nggak sih ditanya-tanyai dengan pertanyaan serupa? Share komen di bawah ya?

285 Views

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *