Antologi

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 5

Behind The Chapter:

Sebenernya chapter 5 ini gue masih masukin adegan Yesung dan Donghae POV. Kemaren sempet ngigo nulis 2 chapter sekaligus cz ide2 gue lagi banyak di kepala. Di chapter 5 ini, gue mau memperjelas peran Yesung dan Donghae yg pada chapter sebelumnya peran mereka ga jelas. *dikeroyok ELF* xD

Ceritanya makin kompleks aja cz di akhir chapter lima ketahuan ternyata si Donghae “bermasalah” dgn Cho Kyuhyun, terus si Yesung juga kliatannya ada dejavu dgn Moon Hyung Soo alias Firsty Ukhti Molyndi melalui korean name generator hehehe..

Ngayal emang enak banget ya, suka-suka bikin story sendiri sesuai kemauan sendiri dan tidak dapat diganggu gugat. Tadinya gegara ngedengerin lagu No Other semalam, sisi maskulinitas gue yang ada di Kim Jong Woon POV mendadak tergantikan sisi feminisitas pada POV Donghae. Jadilah disana si Donghae berubah manja banget sama si Yesung T,T Mian oppa… -,- *digetok Donghae*


Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 5

 

Episode Sebelumnya:
Akhirnya beberapa jam
kemudian, mobil yang kukendarai tiba di rumah. Aku menurunkan
barang-barang Yesung dari dalam mobil. Sebenarnya barang yang dibawa
Yesung tidak cukup banyak, hanya terdiri dari beberapa koper dan sebuah
kardus besar. “Oleh-oleh untukmu,” kata Yesung ketika kutanya apa isi
kardus besar itu yang segera saja kusambut dengan jeritan kesenangan.

Jeongmal
Gomowa, Yesung hyung,” ujarku padanya seraya tersenyum lebar. Tak sabar
rasanya membuka kotak oleh-oleh yang diberikan Yesung padaku.

Chapter 5
Kim Jong Woon aka Yesung POV
Tidur
semalaman rasanya tidak cukup untuk menuntaskan jetlagku ini. Buktinya begitu
aku membuka mataku, badanku masih terasa sangat capai. Tulang-tulangku serasa
mau rontok berguguran seperti bunga sakura di Jepang. Oke, Oke, itu terlalu
berlebihan. Aku memang tidak bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk
menjelaskan betapa diriku ini sangat butuh istirahat total.
“Hyung,
bangunlah,” Sebuah suara hangat menyapaku. Aku membuka mataku perlahan. Tampak
bayang-bayang Donghae menyeruak di depan mataku. Wajahku hanya beberapa inchi
dari wajahku. Aku nyaris kehilangan jantung karena terkejut.
“Oh,
kau Donghae,” ujarku lemah, “Kukira siapa?”. Donghae tergelak. Ia mengatakasn
keadaanku sama persis seperti ddangkoma yang cangkangnya lepas. Sialan, belum
apa-apa ia sudah berani menghina kura-kura kesayanganku itu. Aku menjitak
kepala Donghae pelan. Ia mengerang kesakitan.
Belum
sempat ia membalas seranganku tadi, aku buru-buru melarikan diri menuju meja
makan. “Wah, sepertinya enak,” pujiku saat melihat makanan yang tersaji di meja
makan. Aku segera mengambil piring, lalu menyantap sajian yang terhidang di
meja makan. Rasanya tidak pedas, namun lumayan enak. Aku menyukainya.

“Apa
yang akan kau lakukan hari ini, hyung?” tanya Donghae padaku. Sambil tetap
mengunyah makananku, aku memikirkan kemungkinan hari ini akan dihabiskan untuk
membeli perlengkapanku selama sebulan tinggal di Seoul. Jadi, aku tak mempunyai
pilihan selain mengatakan, “Ke Supermarket”. Tak kusangka, rencana dadakanku
itu disambut baik oleh Donghae. “Ide bagus, hyung,” katanya
setuju.
“Aku
harap kau mau menemaniku hari ini, dongsaeng“ tawarku. Donghae mengangguk. Ia
mengatakan bahwa hari ini dia libur bekerja maka ia akan bersamaku seharian. Aku
menyetujui pemikirannya itu. Maka, sehabis mengurusi makan ddangkoma dan
ddangkochan, kami berdua sepakat menuju supermarket yang terletak tak jauh dari
rumah Donghae dengan berjalan kaki. Kupikir itu lebih menyenangkan, karena kami
memiliki waktu untuk mengobrol satu sama lain.
“Mengapa
kau tak memilih kuliah di Jerman?” tanya Donghae. Kami sampai pada topik
tentang rencanaku melanjutkan kuliah S2 di Seoul. Aku tersenyum kecil. “Kurasa
aku ingin lebih dekat dengan dongsaengku ini,” ujarku lembut. Donghae terkekeh
pelan, lalu mengucapkan terima kasih. “Kau sendiri kenapa kabur ke Seoul, huh?
Tak berpikir untuk kuliah sama sekali?” tanyaku penasaran.

“Ah,
kau juga tahu. Otakku ini nggak seencer dirimu, hyung,” bla, bla, bla Donghae
terus saja berbicara. Kami sedang berada di rak yang berisi mie instan saat
dari arah depan pintu masuk supermarket aku melihat seorang yeoja dengan
beberapa orang laki-laki membuntutinya di belakang. Mereka kelihatan saling
mengenal satu sama lain. Yeoja itu tampak bersemangat, di sebelahnya ada
seorang namja yang kelihatan lebih muda terus saja mengoceh ini itu tanpa
henti. Sementara tiga orang namja di belakang mereka hanya tersenyum-senyum
kecil melihat tingkah kedua dongsaeng mereka itu.
“Sepertinya
aku mengenal mereka…” bisikku pelan. Belum selesai aku bicara, kelima orang
yang kumaksud itu berjalan pelan ke rak mie instan tempatku berada.
Lee Donghae POV
“Mwo?
Ahh, tidak. Kau tak mengenal mereka, “ sungutku kesal. Dengan segenap
kekuatanku, aku menarik tangan Yesung ke tempat yang jauh-sangat jauh-dari rak
mie instan. Aku sangat kesal jika saat aku sedang serius berbicara, lawan yang
ada di hadapanku malah sibuk memperhatikan hal lain. “Jeongmal Mianhaeyo, aku
tak akan melakukannya lagi,“ ucap Yesung lembut sambil mengelus kepalaku pelan.
“Kau
anggap aku seperti ddangkoma, huh?” kataku masih mengambek. Permintaan maaf
Yesung sebenarnya sudah kuterima, tapi ada sebuah perasaan yang sulit untuk
dijelaskan ketika ia mengelus-elus kepalaku layaknya ia mengelus cangkang
ddangkoma seperti yang ia lakukan tadi pagi saat membersihkan kandang kura-kura
itu. Aku mengerang pelan.
“Woops,
mari kita pulang saja,” ajak Yesung. Aku membuntutinya keluar dari supermarket
yang menyebalkan ini. Berharap kelima orang aneh yang tadi dibicarakan Yesung
tak berada bersama kami. Aku kembali berusaha merebut perhatian hyungku itu dan
membuatnya tergelak dengan cerita-cerita lucu dariku.

“Jangan
mempersulit dirimu sendiri, “ hibur Yesung saat kami tiba di rumah. Aku
pura-pura tak memperhatikan, malah sibuk menatap layar hapeku. Berharap
seseorang meneleponku, lalu mengajakku jalan-jalan ke luar kota. Cuaca musim
panas di kota Seoul sedang tidak bersahabat. Aku memutuskan untuk bertelanjang
dada siang ini. Kutanggalkan pakaianku lalu kutaruh di keranjang. Yesung
mengganti pakaiannya dengan yang lebih longgar.
Kuputuskan
untuk berjalan ke kulkas, mengambil sesuatu yang dingin disana. Aku menemukan
sekotak besar susu cair sisa disana lalu kuminum isinya hingga habis. Mulutku
belepotan susu dan kulap dengan tanganku. “Mwo?” tanyaku saat Yesung tergelak
melihat aksi minumku tadi.
“Seharusnya
aku membelikanmu sekotak besar susu cair baru tadi, “ ucap Yesung lembut. Aku
berusaha tersenyum semanis mungkin, namun senyumanku malah terkesan tidak tulus
di mata Yesung. “Kau masih marah, hah?” tanyanya lagi seraya terbahak keras.
“Kau
terkadang begitu menyebalkan,” ketusku dengan maksud bercanda. Aku pun ikut
tertawa bersama Yesung. Sampai akhirnya kami berdua memutuskan mengurung diri
ke kamar kami masing-masing. Aku kan tak hendak kehilangan hari liburku.

Di
atas ranjangku yang empuk, aku memikirkan kejadian yang barusan terjadi.
Suasana hening menyeruak memenuhi rumah. Sepertinya Yesung hyung sudah tidur,
lamat-lamat kudengar suara seperti orang mengorok di kamar sebelah. Biarlah aku
tak hendak menganggu Yesung, bisa-bisa giliran dia pula yang mengambek karena
tidurnya diganggu.

Cho
Kyuhyun, Apakah dia tadi melihatku? Kurasa tidak. Jalhamyeon. Ne, Jalhamyeon. Dia
adalah orang yang paling menyebalkan seantero Korea. Cho Kyuhyun musuh
bebuyutanku. Kenapa aku harus bertemu dengannya hari ini? Disaat hari sedang
libur pula. Tidak puaskah dia sudah membayangi hari-hariku di tempat kerja?
Dasar pegawai kesayangan Manajer Shin, desainnya yang menurutku seperti
gambaran anak TK diterima.  Menyusahkan
saja, sungutku lagi. Tak hendak mengingatnya lagi, kuputuskan untuk tidur siang
ini.~to be continued~^^

Note Block:
Jalhamyeon : Semoga

4 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: