Antologi

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 4

Kyaa… baru buat flash fiction langsung deh diposting. hihihii… Fresh from the oven, sengaja diundur dua hari pembuatannya karena kemaren fokus utk ngejar vote di kafebrownies hehehe
Finally, ini dia chapter yang paling kutunggu-tunggu, kita kedatangan dua namja tampan bernama Yesung dan Donghae super junior. I love them all…
Kyaa,,, sempet down pas kemaren tahu kalo Kyuhyun sudah punya istri, gak tahunya cuma di virtual wedding We Got Married hihihii… -Pengen daftar juga T.T- Padahal cintaku udah perlahan pudar untuk dia, hihihiii… Sekarang kaga ada halangan lagi deh, maju terus pantang mundur buat Kyuhyun Oppa :-*
Chapter ke 4 ini kubuat bener2 gak ada hubungannya sama sekali dengan chapter2 sebelumnya. Ceritanya Yesung Oppa baru pulang kampung dari Jerman ke Kota Seoul. Dia tinggal di rumah sepupunya Lee Donghae.

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 4

Episode Sebelumnya:
“Iya, deh.
Mian, “ ujarku seraya mencomot keripik pisang yang tergeletak di
sebelah Sungmin. “Like dongsaeng, like hyung, “ candaku yang sebenarnya
tak lucu. Kata-kataku tadi malah membuat Ryeowook dan Sungmin semakin
marah padaku. “Mwo?” kataku melihat reaksi mata mereka yang membulat
besar.
“Kuharap Kibum datang besok,” kataku lagi, “Aku akan meneleponnya besok”. Bantal-bantal pun berterbangan ke arahku. 
Chapter 4
Kim Jong Woon aka Yesung POV
Pesawat baru saja meninggalkan landasan pacu Bandara Frankfurt. Hari
ini aku akan kembali menjejakkan kakiku di Kota Seoul setelah selama
tiga belas tahun aku meninggalkan kota kelahiranku itu. Aku tersenyum
kecil ketika mengingat sepuluh tahun hidupku yang begitu menyenangkan di
Kota Seoul. Begitu banyak kenangan indah tersimpan disana.
“You need blanket, Sir?” tawar Pramugari. Aku mengangguk. Pramugari itu
lalu memberikan aku selimut. Kuterima selimut prmberiannya dengan
senang hati. Aku memang agak kedinginan. Ini merupakan penerbangan malam
hari pertamaku. Kukenakan headset di telingaku, lagu Christina Perri
pun mengalun merdu di telingaku.
                I have died everyday waiting for you
                Darlin’ dont be afraid I loved you a thousand year
                I’ll love you for a thousand more
Aku ketiduran beberapa waktu setelahnya. Tak banyak yang kuingat,
waktuku kuhabiskan berkelana di alam pikiranku. Tahu-tahu pramugara
sudah memberitahu bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Cuaca di
Kota Seoul sedang cerah saat ini. Ah, kampung halamanku tersayang. Aku
pulang, batinku berkata.
“Terima kasih
telah melakukan penerbangan dengan Germany Air, semoga selamat sampai
tujuan anda.” Ujar Pramugara muda di depan. Kelihatannya usianya tak
berbeda jauh denganku. Beberapa saat kemudian pesawat pun mendarat ke
tanah dengan mulus. Setelah mengemasi barang-barangku, aku pun turun
dari pesawat.
Hah, ini dia, Seoul City,
Kota Seoul. Aku menghirup nafas dalam-dalam menghirup udara yang dingin
berAC di bandara Incheon. Diluar sepupuku, Lee Donghae sudah menungguku.
Dia tersenyum-senyum kecil menatapku. “Mwo?” tegurku.
“Semakin bongsor saja badanmu,” kata Donghae seraya menepuk-nepuk
pundakku. Hmm… Bongsor… Harus kuakui badanku memang tinggi. 178 cm,
kurang dua centi lagi adalah tinggi ideal yang kuinginkan. Lee Donghae
membantuku memasukkan barang-barangku ke mobil. “Cukup hoshh…hosh,
banyak juga barangmu,” ujarnya sambil terengah-engah. Aku terkekeh
pelan. Kutahu ia hanya bercanda.
Dua jam
kuhabiskan dengan menikmati obrolan seputar perbincangan hangat Kota
Seoul dari Donghae. Ia banyak bicara, sedangkan aku hanya mendengarkan
sekilas. Mataku terus saja memandangi jalan-jalan Kota Seoul yang
memesona. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kota Seoul tak banyak
berubah seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya. Hampir sama seperti
waktu terakhir aku meninggalkannya menuju Jerman.
“Donghae,” panggilku. Ini kali pertama aku berbicara padanya sejak
mendarat di bandara Incheon beberapa waktu yang lalu. Sejenak suasana
mendadak hening. Donghae terlihat menanti-nanti apa yang hendak
kukatakan. Sambil tersenyum, aku pun bertanya, “Bisakah kau mengantarku
ke suatu tempat?”
Lee Donghae POV
Entah apa yang tengah dipikirkan oleh sepupuku yang baru tiba dari
Jerman ini. Dia malah mengajakku makan di kedai Ramen di pinggir Kota
Seoul. Katanya dia kangen dengan masakan jepang itu. Aku hanya bisa
memandangi Yesung dengan perasaan yang campur aduk. Sudah lima tahun
semenjak aku lulus SMU di Jerman dan pindah ke Korea sekarang, tak
sekalipun aku memakan mi kuah Ramen. Aku memang tak menyukai masakan
pedas.
                “Kau harus mencobanya, “ sahut
Yesung. Mulutnya penuh dengan mi Ramen. “Ini benar-benar joheun (enak), “
ujarnya lagi. Yesung sudah menghabiskan dua mangkuk besar Mi Ramen.
Sementara aku hanya bisa memandangi Yesung kelu. Air putihku bahkan
masih utuh. Ckckck… Hyungku yang satu ini memang benar-benar
tamyogseuleoun (rakus)
“Manjog?” tanyaku.
Yesung mengangguk. Suara sendawanya memecah kedai ramen yang kecil ini.
Beberapa orang melirik ke arah kami. “Beruntunglah dongsaengku ini
tinggal di kota Seoul sehingga aku bisa ditraktir mie Ramen,” kata
Yesung tergelak. Terserahlah, aku mau selekasnya pergi dari sini. Bau
kuah Mie Ramen yang bergentayangan memenuhi ruangan semakin membuatku
mual.
Yesung tertawa melihat reaksiku
selepas keluar dari kedai. Dengan satu kantong kertas di tangan, Aku
menumpahkan isi perutku disana. Setelah merasa lega, barulah aku
menyusul Yesung ke mobil. “Kau menyiksaku!” ujarku dengan mimik serius
sesampaiku di mobil.
Bukannya
mengasihiniku, Yesung malah menunjukkan sesuatu padaku. Sepasang
kura-kura kecil yang menurutnya imut-imut. “Kau ingat dulu aku pernah
berkata ingin memilikinya?” tanyanya. Aku mengernyitkan dahi. “Rasanya
tak pernah, hyung” balasku polos.
“Namanya
ddangkoma, dan ini ddangkochan,” jelas Yesung. Sesungguhnya aku tak
pernah tahu perbedaan kura-kura milik Yesung. Keduanya tampak sama. Tapi
kata Yesung ddangkoma itu kura-kura namja, sedang ddangkochan itu
kura-kura yeoja. Benar-benar aneh, pikirku.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, giliran Yesung yang bicara
banyak. Sementara aku hanya bisa mendengarkan karena perutku masih
terasa mual. Yesung bercerita sangat banyak tentang kura-kura
peliharaannya. Dia membelinya karena ia merasa sendirian di Jernan.
Terlebih ketika ia harus tinggal pisah dengan kedua orangtuanya. Ia
betul-betul merasa kesepian.
“Asi?
Sepertinya dugaanku untuk memiliki teman kura-kura ternyata salah, ia
bahkan tak bisa berbicara,” terang Yesung polos. Aku tak bisa menahan
diriku untuk tidak tertawa. Ucapannya yang polos ditambah mimik mukanya
yang lugu membuat tawaku semakin kencang. Rasa mual yang kurasakan tadi
mendadak tergantikan oleh sakit perut akibat banyak tertawa. Mulutku tak
hentinya berkata, “Pabo kau, hyung!”.
Akhirnya beberapa jam kemudian, mobil yang kukendarai tiba di rumah. Aku
menurunkan barang-barang Yesung dari dalam mobil. Sebenarnya barang
yang dibawa Yesung tidak cukup banyak, hanya terdiri dari beberapa koper
dan sebuah kardus besar. “Oleh-oleh untukmu,” kata Yesung ketika
kutanya apa isi kardus besar itu yang segera saja kusambut dengan
jeritan kesenangan.
“Jeongmal Gomawo,
Yesung hyung,” ujarku padanya seraya tersenyum lebar. Tak sabar rasanya
membuka kotak oleh-oleh yang diberikan Yesung padaku.~to be continued~^^
Note Block:
joheun : enak
tamyogseuleoun : rakus
Manjog? : Puas
Asi : kau tahu
19 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: