Opini

Film Kartun Anak yang Tidak Mendidik Hingga Inspiratif Generasi 90-an

Sewaktu kecil-sebagaimana anak-anak milenial yang lain, kerjaan Molzania hobi nonton film kartun. Dulu banyak banget tontonan film kartun Molzania. Minggu pagi saat-saat paling heboh. Sukarela bangun pagi demi nonton tayangan favorit. Nggak seperti hari-hari sekolah cenderung malas-malasan. Malah kalau bangun siangan dikit bakalan protes sama mama kok nggak dibangunin.

Sekarang lagi heboh protes iklan Blackpink Shopee pada jam tayang anak-anak. Informasi terbaru, iklan tersebut dilarang untuk diputar di stasiun TV oleh KPI. Sebenarnya isu tersebut bukanlah hal baru. Beberapa tayangan anak-anak pada era milenial juga mendapatkan sorotan yang menuai kontroversi. Sebut saja film kartun Tom and Jerry dan Crayon Shinchan yang sempat heboh era 2000-an. Ada pula film kartun Candy Candy yang mana Molzania waktu kecil sempat baca di salah satu majalah anak “Bintang Kecil”, tayangan tersebut tidak boleh ditonton karena mengandung unsur tidak islami. Terakhir, film Spongebob Squarepants yang sempat dihentikan penayangannya karena berisi tayangan tidak mendidik.

Molzania mengalami semua itu. Bedanya dulu Molzania berperan sebagai seorang anak, karena memang masih kecil. Perasaan Molzania pada waktu itu sempat merasa kecewa. Maklum film yang biasa Molzania tonton tiba-tiba dilarang tayang. Otomatis mengganggu siklus film minggu Molzania dong. Haha.. Orangtua Molzania dulu sih tidak melarang untuk menontonnya. Molzania cuma dikasih liat koran dan majalah yang berisi berita tentang kontroversi film kartun Molzania tersebut. Mereka lalu memberitahu dan menasihati Molzania kalau ada adegan yang kurang pantas. Lama kelamaan Molzania paham benar dan salah. Baca Juga: Film Kartun Favorit Cewek Generasi 90-an

Pada akhirnya Molzania mengetahui bahwa walaupun film kartun, tetapi kadang mengandung hal yang bertentangan dengan norma di masyarakat Indonesia. Crayon Shinchan misalnya, dulu Molzania masih bingung, adegan mana aja yang kurang pantas. Molzania pun diberitahu mama kalau Crayon Shinchan itu sebenarnya bapak-bapak yang berada di tubuh anak kecil. Mama menunjuki beberapa adegan Shinchan yang ‘kegatelan’ ketika melihat wanita-wanita seksi nan cantik. Cara Shinchan yang tersipu-sipu ketika digoda, dan sebagainya.

Mama lantas bertanya pada Molzania, “apa iya ada anak umur lima tahun sudah bersikap seperti itu?”. Molzania lantas menggeleng. Membayangkan adik-adik kecil yang Molzania temui yang masih berusia lima tahun. Darisitu Molzania pun belajar hal baru. Meskipun begitu Molzania tetap saja menonton film Crayon Shinchan, meski tidak setiap minggu. Pengecualian saja jika film yang biasa Molzania tonton sedang tidak tayang. Baca Juga: Permainan yang Diadaptasi dari Kartun

Beranjak remaja muncul film Spongebob Squarepants. Film kartun tersebut Molzania tonton bersama adek laki-laki. Dia tergila-gila dengan film kartun yang tokoh-tokohnya berasal dari laut tersebut. Hampir setiap hari, baik pagi hingga malam, adik Molzania selalu menonton film tersebut. Dulu sempat ada tuduhan kalau Spongebob Squarepants mengandung unsur LGBT karena pertemanan sesama lelakinya dengan Pattricks. Mereka juga kerap berpenampilan ala wanita dalam beberapa adegan.

Dulu Molzania pada masa itu sama sekali belum paham soal LGBT. Menurut Molzania sih ya baik-baik saja. Hanya hiburan semata. Toh adegan-adegan di reality show di tv seperti Extravaganza, yang booming saat itu, juga kerap menampilkan pria yang berpakaian wanita. Meskipun mama mewanti-wanti agar tak menonton Spongebob, kami lagi-lagi tidak dilarang 100 persen. Melainkan hanya ditunjuki dan diingatkan mana yang benar dan salah. Suatu hari mama sempat melontarkan pengakuan terkait alasannya. Ternyata mama tidak melarang karena merasa percuma, toh di sekolah semua teman-teman kita juga menonton kartun tersebut.

Biarpun beberapa film kartun tidak mendidik, tapi ada pula film kartun yang inspiratif. Salah satunya yang paling mengena ialah petualangan si lebah cilik bernama Hatchi. Serial kartun dari Jepang tersebut mampu membuat perasaan jadi teraduk-aduk. Bagaimana tidak? Ceritanya berisi tentang perjalanan pencarian Hatchi untuk bertemu ibunya yang sangat berliku. Cocok ditonton untuk anak bandel yang sering tidak patuh pada mama seperti Molzania. Hihii..

Hatchi anak yang sebatang kara

Pergi mencari ibunya

di malam yang sangat dingin

teringat mama.. 

Betapa ya, dulu kalau nonton film kartun ini Molzania selalu sembunyi-sembunyi. Takut ketahuan mama. Takut dinasehatin jangan bandel nanti kaya’ si Hatchi. Hikz. Kan males aja gitu loh, gede gengsi hehe.. Tapi si Hatchi ini sukses bikin Molzania nangis sampe sesenggukan. Terutama saat menjelang ending hingga endingnya, huhuu…

 

Tayangan berikutnya yang Molzania pikir inspiratif berjudul Chibi Maruko Chan dan Hamtaro. Molzania sudah lupa sih ceritanya seperti apa. Tapi seingat Molzania, adegan di film kartun Chibi Maruko Chan berisi tentang cerita sehari-hari anak perempuan. Kenakalannya dalam masih taraf yang biasa. Lebih banyak cerita yang mengandung pesan moral penuh hikmah. Salah satunya adalah cara menghormati orangtua dan kakek nenek, karena itu merupakan kebiasaan orang Jepang sendiri.

Kemudian ada lagi tayangan Hamtaro yang berisi tentang cara menyayangi hewan peliharaan. Dari film tersebut, beneran loh banyak teman Molzania yang jadi hobi memelihara hamster. Kalau Molzania sih nggak dibolehin mama, alasannya Molzania bukan tipe penyayang binatang. Orangnya jijikan kalau melihat kotoran, padahal kan kalau melihara binatang itu mesti rajin membersihkan kandangnya juga.

Molzania sempat bingung beda Hamster dan tikus? 

Soalnya beberapa kali melihat tikus got item buntut panjang

kok nggak ada lucu-lucunya ya?? Malah serem..

Walaupun ceritanya banyak yang berpusat pada Hamtaro dan teman-teman hamsternya, tapi ada pula sesekali kisah persahabatan antar pemiliknya. Ceritanya Hamtaro dimiliki oleh Laura yang merupakan siswa pindahan di sekolah barunya. Di kelas ia bersahabat dengan Maria, pemilik hamster Ribbon. Hamtaro yang kesepian ditinggal pemilknya sekolah, lalu berusaha mengikuti Laura keluar dari sarangnya, melewati pipa kecil dari kamar Laura, tetapi tersesat dan malah bertemu dengan tikus got bernama Boss. Baca Juga: Nostalgia dengan Film Kartun Favorit Cowok Generasi 90-an Yuk

Darisana muncul satu persatu hamster kesepian lain, termasuk Ribbon sendiri. Hamtaro pun tak kesepian lagi karena telah ada teman-temannya. Mereka pun melakukan petualangannya sendiri, alih-alih kepikiran tentang pemiliknya. Hamtaro baru akan kembali ketika Laura tiba di rumah sepulang sekolah.

Terakhir film kartun inspiratif menurut Molzania adalah Ghost At School. Disini meskipun seram dan banyak menceritakan tentang hantu-hantu legendaris di Jepang, film Ghost At School juga bercerita tentang persahabatan kakak beradik pada seekor kucing yang bisa bicara karena dimasuki hantu. Meski awalnya, sang kakak merasa kesal karena si kucing terkadang menganggu.

Endingnya sangat menyentuh karena ternyata hantu yang terdapat dalam tubuh kucing keluar dari tubuh kucing, setelah persahabatan yang mereka jalin dalam memberantas hantu-hantu jahat. Mereka pun berpisah untuk selama-lamanya. Di akhir film juga dikisahkan kalau cinta seorang ibu tak lekang oleh waktu. Meski maut memisahkan, tapi lewat buku harian mamanya kakak beradik itu belajar bagaimana mengusir hantu-hantu yang mengganggu di sekolahnya.

63 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: