Antologi

Edward,, Maafkan Aku

Aku tak pernah ingin merasakan kehidupan seperti ini .
Tergolek lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit lengkap dengan selang infus yang
memanjang di tangan. Kepalaku terasa sangat pusing, badanku menggigil. Aku
terlihat menyedihkan, seperti mayat hidup wajahku pucat.
“Edward…”
desah lembut seseorang di sampingku. Perlahan namun pasti, mataku membuka.
Ternyata disaat badan kita selemah ini, membuka mata saja membutuhkan tenaga
ekstra. Aku kepayahan. Bias pertama yang kulihat adalah cahaya lampu yang berwarna
putih menyilaukan. Lalu siluet selanjutnya adalah wajah teduh seorang perempuan
yang sangat kukenal. Ibuku.
Credit to : Kesehatanmuslim.com
“Bu, “
ujarku lemah. Sangat lemah hingga nyaris tak terdengar. Kupastikan hanya kami
berdua saja yang tahu. Kutatap wajah Ibu, ia pun terlihat sama denganku.
Terlihat cantik meski kulihat kantung matanya menghitam. “Ibu, apa yang kau
lakukan?” desisku marah. Lagi-lagi terdengar menyerupai bisikan. Aku merasa
frustrasi.
“Sstt…”
Ibu memperingatkan. Apa-apaan ini? Meski disaat-saat seperti ini beliau masih
saja mengurusiku?! Aku tahu persis Ibu sedang sakit sekarang. Aku tahu bahkan
sebelum ia mengatakannya kepadaku. Instingku selalu bergerak lebih tajam
daripada perasaanku. Aku kasihan pada Ibu.
                            
“Bu,
tidurlah…”
Pada saat yang bersamaan, bunyi pintu terdengar. Kami berdua
terlonjak kaget. Itu Dr. Cullen, Carlisle Cullen tepatnya seperti itulah yang
kutahu. Ia adalah dokter penjaga di rumah sakit ini. Wajahnya misterius membuat
nyaliku ciut. Seperti ada sesuatu yang ia rahasiakan yang tak boleh kutahu.
Seperti makhluk dongeng atau semacamnya. Vampire, barangkali. Instingku memang
dapat diandalkan.
“Ehem…Ehem” Mr. Cullen pura-pura terbatuk. Ia memegang
sebuah notes kecil. Entah apa isinya. Ia menoleh ke arah aku dan Ibu. “Mrs.
Masen berbaringlah, kuharap kau juga sebaiknya beristirahat…” ucapnya tegas.
Dengan berat hati, Ibu meninggalkanku dan kembali ke ranjangnya. Aku
membiarkannya.
“Edward,  kau
sebaiknya tidur lagi. Kondisimu tak terlalu menguntungkan saat ini” Perintah
Dr. Cullen. Aku mengiyakan. Semakin sering melihat cahaya lampu, semakin
membuat rasa pusingku kembali hebat. Dan kuharap keputusan untuk memejamkan
mata lagi juga menaksa Ibu untuk tidur juga.
Malam terasa sangat panjang. Aku tak tahu sudah berapa lama
aku tertidur. Mataku seolah tak bisa kubuka lagi. Apakah aku akan mati?
Lekaslah malaikat maut menjemputku agar Aku bisa bersama Ayah yang sudah berada
di Surga. Tapi bagaimana dengan Ibu? Perempuan itu tak boleh menyusulku. Akan
kutahan dia sebisaku. Biarlah dia lebih lama berada di dunia.
Seperti inikah rasanya mati? Berkutat terlalu lama dalam
kegelapan. Rasa dingin menyerang semua sendi-sendiku. Kudengar disebelahku tak
ada suara. Barangkali Ibu masih tertidur. Aku ingin sekali bangun dan gantian
menjaganya. Tapi mataku tak bisa kubuka.
Tiba-tiba, badanku terasa melayang. Kematian telah semakin
dekat. Aku tersenyum membayangkan perjalanan hidupku selama tujuh belas tahun.
Siluet-siluet Ibu, Ayah, Nenek dan Kakek perlahan menghampiri. Jiwaku terasa
damai dan sejuk. Angin terasa membelai seluruh 
pori-pori kulit.
Kini semuanya terasa bagaikan mimpi. Usia tujuh belas tak
dirasa lama. Rasa panas menjalari leher. Aku menikmati sensasi pencabutan
nyawa. Rasa panas itu seperti terbakar. Aku kebakaran. Masuk dalam api yang menyala.
Inikah neraka? Tapi dimana semua orang? Aku menemukan diriku sendiri dengan
perasaan yang terbakar. Terus menerus terbakar. Seolah api ini tak kunjung
padam. Aku kesakitan dan terus berteriak memohon pertolongan. Tapi tak ada
seorangpun mendengar raunganku.
Aku meronta sekuat tenaga. Kudengar malaikat maut
berteriak-teriak, “Maafkan… Maafkan Aku…”. Kenapa dia meminta maaf dam
justru menyesal telah memasukkanku ke pemanggang raksasa? Aku kembali meraung.
Tidak. Tidak, sepertinya ada yang salah. Tak ada yang
seperti ini. Apa aku makhluk terkutuk? Aku baru bisa berpikir jernih saat rasa
sakit terbakar itu perlahan mereda. Siapa Aku sebenarnya? Aku siapa? Tak ada
seorangpun yang berhasil kuingat. Dan ketika kubuka mata, tampak malaikat
mautku sedang menyeringai berdiri di depan pintu. Aku tersentak.
“Maafkan Aku, Edward. Aku mengubahmu menjadi Vampire…”
*diikutsertakan dalam Lomba Internasional Twilight Fanfiction by Fanpage Stephenie Meyer”
57 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *