Antologi

Bisnis Perdana Aku dan Adik

Ini adalah bisnis yang Aku kembangkan bersama Adikku yang baru saja
berumur 13 Tahun pada 4 November lalu. Modal awal bisnis ini hanya lima
puluh ribu, kini omsetnya sudah naik 2000 persen menjadi satu juta
rupiah. Kemajuannya sangat pesat bukan. Padahal bisnis kami baru serius
dijalani dua tahun ini. Itung-itung Aku bisa sembari mempraktekkan apa
yang Aku pelajari di kuliah sekaligus mengajari Adikku, Ikhwan,
berbisnis.
Tahun 2011 awal keterlibatanku
pada dunia bisnis. Adikku mengutarakan keinginannya untuk menjadi
seorang business boy. Hehe… Berhubung Adikku waktu itu masih kelas
enam SD, jadi kurasa kata man belum cocok dikenakannya. 😀
Tentu saja Aku sebagai seorang kakak menyambut baik cita-cita adikku
itu. Adik mengatakan kalau Ia ingin berjualan snack kecil-kecilan. Lalu,
Aku pun melihat peluang bisnis dari sini. Untuk itu, Aku lalu mengajak
Adik untuk pergi ke toko penganan dekat rumah. Untuk modal awal, kuberi
Ia lima puluh ribu. I think atleast kalo usahanya tidak berjalan baik
modalnya tidak terlalu banyak keluar hehee…
Disana, Aku memilihkan hanya snack yang sehat dan dari brand yang
terkenal. Adik bertanya padaku kenapa seperti itu, kak? Kukatakan
padanya kalau kita mau berjualan maka harus memikirkan kualitas barang.
Hanya barang-barang dengan kualitas yang baiklah yang akan dipilih oleh
konsumen. Soal harga, urusan belakangan. Sebagai penjual, hal pertama
yang harus dilakukan untuk menghadapi persaingan di luar adalah
kualitas. Adikku mengangguk-angguk mendengar penjelasanku.
Kedua, Aku melanjutkan, sebagai seorang bussinessman di bidang makanan
maka apabila barang dagangan yang dijualnya berkualitas, maka konsumen
kita pun akan menjadi sehat. Untung yang didapat pun menjadi double:
untung laba dan dapat pahala.
Aku lalu
menunggu respon pertama dari para pelanggan. Dulu, waktu pertama kali
berbisnis. Aku mengajak adik untuk jualan eceran secara keliling.
Sasarannya tetangga dekat rumah dan teman-teman bermain adik. Adik
membawa bungkusan plastik besar berisi snack dan kopi ke rumah-rumah
itu. Tak kusangka ternyata dagangan Adik habis terjual semua. Kubilang
padanya agar menerapkan prinsip pembeli adalah raja sekaligus guru.
Jadi, biar jualanannya laku ia harus ramah terhadap pembeli dan melayani
mereka dengan sabar.
Melihat barang
dagangannya habis dalam beberapa jam saja membuatku semakin bersemangat.
Adik juga terlihat senang. Meski untungnya cuma sepuluh ribu dari modal
lima puluh ribu, tapi setidaknya ini awal yang bagus untuk bisnis yang
kami rintis bersama ini. Keuntungan pun Aku putar kembali sebagai modal.
Sebagai pemain baru, tentunya keuntungan besar bukanlah tujuan utama.
Tetapi mengenalkan usaha pada para customerlah tujuan awal usaha.
Tantangan pertama dari bisnis ini adalah ketika adikku salah menghitung
jumlah harga barang dagangan yang dibeli pelanggan. Yah, namanya juga
anak kecil. Meski maklum, Aku pun menasihati adik agar lebih jeli dalam
menghitung barang dagangan. Karena kalau kuhitung-hitung, kerugian yang
diderita sampai tiga puluh persen. Tentunya gak sebanding dengan
keuntungan yang kami patok sepuluh hingga dua puluh persen.
 Untuk mengatasi hal tersebut, Aku pun membuat pembukuan sederhana untuk
bisnis kami ini. Berapa modal ditambah target laba kami hitung
menghasilkan harga jual. Adik pun lebih berhati-hati dalam melayani
pelanggan diluar sana. Tak lupa, biar adik lebih mudah menghitung Aku
memberinya kalkulator kecil. Cara ini ternyata cukup efektif. Kami bisa
memperkirakan hasil penjualan yang mulai meningkat pesat.
Tiga bulan berikutnya, melihat kemajuan penjualan Aku memutuskan untuk
ekspansi atau perluasan bisnis. Bisnis eceran kelihatannya untung, tapi
Aku mulai berfikir untuk jualan secara grosiran. Apalagi ada adikku
sebagai partner bisnis sekaligus tenaga pemasaran. Aku mulai melirik
usaha grosiran warung-warung sekitar rumah. Bagaimanapun mereka pasti
membutuhkan stok makanan ringan dan kopi untuk berjualan. Kami adalah
pemasoknya.
Tentu saja, karena kami masih
tergolong pelajar- Aku seorang mahasiswi, sedangkan Adik masih pelajar
SD-Jadi, kami memutuskan untuk mengembangkan bisnis secara
perlahan-lahan. Kami masih mempertimbangkan kegiatan belajar yang masih
harus kami lakukan. Maka kami putuskan untuk berbisnis dikala waktu
luang saja. Bila Aku atau adik sedang ada ujian sekolah atau kampus,
maka kami tunda dulu bisnisnya hingga kami selesai ujian.
Tantangan kedua yang kami hadapi ketika berbisnis grosiran ke
warung-warung adalah mempertimbangkan kapan saat yang tepat untuk
menawarkan barang kami ke pemilik warung. Terkadang kami datang disaat
mereka sudah punya stok barang. Entah mereka beli sendiri di luar sana
atau memang ada pemasok lain yang sudah datang. Akibatnya barang kami
tidak laku terjual. Kami pun harus getol mencari ke warung lain yang
stoknya tipis.
Sejak Adikku masuk SMP tiga tahun lalu, Ia mengusulkan padaku agar memasok barang dagangan ke
kantin sekolahnya. Kujawab, kenapa tidak?, toh Aku sudah mencontohkan
kepada adik kalau Aku juga memasok snack di kantin kampus. Adik senang
sekali mendengarnya. Ia pun berbicara pada pemilik kantin yang juga guru
di sekolahnya itu keesokan harinya. Ternyata gurunya itu setuju. Mereka
mendukung keinginan adikku yang ingin menjadi pengusaha. Setiap minggu
Adik bertugas untuk membawa makanan ringan. Jumlahnya tidak
tanggung-tanggung, satu kotak penuh! Jumlah yang sangat besar bagi bocah
SMP seperti adik. Apalagi karena itu omset kami pun bertambah
berkali-kali lipat. Kini sudah mencapai satu juta rupiah setiap
bulannya.
Tantangan selanjutnya untuk
bisnis kami adalah saat snack dan kopi harganya naik berapa ratus perak
saja satu kotaknya. Bagi pengusaha grosiran seperti kami ini tentunya
hal tersebut akan mempengaruhi jumlah laba usaha. Tak jarang kami harus
putar otak dalam memilih barang yang akan kami jual. Karena biasanya
konsumen warung kami tidak mau tahu. Mereka tetap bersikeras harga lama,
padahal harganya sudah naik dari agen besar. Langkah yang kami ambil
selanjutnya adalah selektif memilih barang dagangan. Barang yang
kira-kira naik di pasaran, kami tak beli lagi. Kami hanya membeli snack
sehat yang terjangkau dengan kantong pelanggan. Tentunya kami tak mau
kehilangan customer tetap yaitu para pemilik warung.
Kedepannya kami ingin sekali memiliki warung atau toko sendiri. Tapi
tentunya modal yang harus kami keluarkan akan sangat besar. Bila usaha
kami nanti berkembang pesat, tidak ada salahnya kami mempertimbangkan
beli atau sewa toko. Untuk sekarang, tugasku hanya mengembangkan usaha
dan mengajari adikku berbisnis saja. Biar ketika adikku sudah dewasa
nanti, ia sudah punya pengalaman berbisnis yang bisa digunakannya untuk
bisnis yang lebih besar lagi.
22 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: