Antologi

Berantas Korupsi Dimulai Dari Diri Sendiri, Berbuat Lebih Untuk Bangsa

Jika
saya ditanya tentang apa itu Indonesia? Saya akan lantang menjawab kalau
Indonesia adalah negeri yang besar. Indonesia itu negeri yang kaya akan sumber
daya alam dan manusia. Terdiri dari puluhan ribu gugusan pulau-pulau yang
membentang dari sabang sampai merauke. Memiliki banyak flora dan fauna yang
beraneka ragam. Sebuah negeri indah yang diciptakan oleh Allah SWT yang
terletak di tengah-tengah dunia. Beriklim tropis dan diapit oleh dua benua;
Asia dan Australia.



Sayangnya kebesaran negara Indonesia
tercoreng oleh banyaknya masalah yang melanda negeri ini. Salah satunya adalah
korupsi. Bahkan masalah yang satu ini sudah mendunia. Sebuah riset Transparency
International menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat 62 terkorup dari
117 negara di dunia. Peringkat pertama diduduki Somalia, lalu peringkat kedua
diduduki Korea Utara.


Sementara itu untuk skala Asia
Tenggara, posisi indonesia tahun ini memang lebih baik dari negara-negara lain
seperti Kamboja, Myanmar, Laos. Timor Leste, dan Vietnam. Tetapi Indonesia
tertinggal jauh dibanding macan-macan Asia Tenggara lainnya yaitu Singapura,
Brunei, Malaysia, dan Thailand. Bahkan berdasarkan
Political and Economic Risk
Consultancy
(PERC)—lembaga peringkat yang berbasis di Hongkong,
Indonesia menempati peringkat kedua setelah pada tahun 2012 lalu berada di
posisi puncak. Peringkat pertama negara terkorup di dunia tahun ini diduduki
Filipina. Meski tergolong perubahan, namun hal ini belumlah termasuk kemajuan
mengingat IPK Indonesia masih stagnan.
Beberapa waktu lalu masyarakat
Indonesia dikejutkan oleh korupsi proyek pengadaan Al-Quran Tahun 2012 di
Kementrian Departemen Agama yang sampai saat ini masih terus berlanjut. Kasus
ini diduga melibatkan Wakil Menteri Agama. Dana yang dikorupsi diperkirakan
mencapai 21,7 M. Sungguh miris mengingat barang yang dikorupsi merupakan kitab
suci umat Islam yang seharusnya bebas dari KKN. Tentunya ini merupakan sebuah
penghinaan bagi negara Indonesia yang merupakan negara mayoritas muslim
terbesar.
Belum lagi, kasus Hambalang dan Century
yang seperti benalu di negeri ini. Korupsi Pemberantasan Korupsi (KPK) seakan
jalan di tempat dalam menyelesaikan kasus itu. Tahun demi tahun terus
berganti,  tak pernah terkuak siapa
dalang besar di baliknya. Beberapa nama bermunculan, tetapi itu tak menuntaskan
perkara. Kasus Hambalang dan Century ibarat benang ruwet yang tak mudah diulur.
Apa yang dijabarkan diatas sungguh
sangat miris. Mengingat negeri ini negeri yang besar dan luas. Negara Indonesia
menempati urutan keempar negeri terluas di dunia. Penduduk negeri ini mencapai
230 juta. Mau dibawa kemana negeri ini bila kekayaannya terus digerus dengan
tamak oleh pejabatnya yang tak bertanggungjawab?


Korupsi sudah sangat mengakar dalam
diri masyarakat Indonesia. Bahkan itu sudah membudaya jauh sebelum berita
korupsi mencuat dimana-mana. Masyarakat sudah menganggap biasa hal-hal kecil
yang termasuk ke dalam kasus korupsi. Budaya contek-mencontek di kalangan
pelajar termasuk korupsi dalam lingkup yang kecil.


Memberantas korupsi memang tidaklah
mudah. Namun bukan tidak mungkin tidak bisa diberantas. Semua harus kembali
pada diri setiap individu di negeri ini masing-masing. Kedisiplinan harus
ditumbuhkan sesegara mungkin. Dengan bersikap disiplin, setiap orang
bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing. Sehingga keselarasan di
tengah-tengah masyakat akan menjadi kenyataan.


Budaya disiplin sudah banyak
dicontohkan oleh negara maju. Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat
kedisiplinan penduduk yang tinggi. Sejak kecil anak-anak di Jepang sudah
diajari untuk hidup disiplin. Tentu saja itu awalnya tak mudah dan memerlukan
proses. Budaya ini dikembangkan dari hal-hal kecil. Sebagai contohnya, pemerintah
Jepang memerlukan waktu hingga 100 Tahun untuk membiasakan penduduknya mencuci
tangan sebelum makan.
Individu-individu yang sudah
menerapkan sikap disiplin dalam kehidupannya, maka selanjutnya adalah
berlomba-lomba dalam berbuat baik. Alangkah indahnya bila Indonesia dipenuhi
oleh jiwa-jiwa baik yang senantiasa berbuat kebaikan dimanapun kapanpun. Saling
mengingatkan sesamanya untuk berbuat baik. Pemerintah menerima kritikan yang
baik dari rakyat dan menerapkan aturan negara dengan baik. Sebaliknya, rakyat
mendukung apapun keputusan yang baik dari pemerintah.


Cara melakukan itu semua tentu saja
dimulai dari diri sendiri. Mencoba jadi pribadi yang baik dan taat aturan.
Hidup dengan penuh disiplin dan bertanggungjawab. Percuma kalau aturan hanya
dibuat, tapi tidak dijalankan. Terakhir, kita mesti bersabar menunggu hasilnya.
Mulailah dari sekarang agar hasilnya lebih maksimal.
3 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: