Antologi

Adikku Si Peneliti Cilik

Credit : Okezone.cpm
Suatu sore, adikku Ikhwan pulang ke rumah dalam keadaan baju
kotor penuh noda tanah dan lumpur. Adik masih duduk di kelas 4 SD. Lantas Mama
pun memarahinya dan bertanya pada Ikhwan mengapa bajunya bisa kotor. Maklum, dirumah
kami tidak ada pembantu. Kalau tak aku yang mencuci, mamalah yang menggantikan.
Dan kebetulan pada saat itu aku sedang sibuk dengan les untuk persiapan ujian
nasional. Dengan entengnya adik menjawab kalau saat itu ia ingin membuktikan
tumbuhan monokotil dan dikotil apakah benar ciri-cirinya sama seperti yang ada
dalam buku ipanya sehingga adik pun mengobrak-abrik kebun tetangga untuk
mencari tahu.
Adikku
sejak awal masuk sekolah dasar memang sangat menggemari pelajaran IPA. Terutama
tentang flora dan fauna. Mungkin ia terinspirasi mama yang seorang lulusan
sarjana pertanian. Di rumah kami yang lama, mama memelihara berbagai jenis
tanaman hias dan bumbu penyedap semisal daun pandan dan daun jeruk. Jadilah
sejak kecil adikku ikut-ikutan memelihara tanaman di rumah. Kacang hijau hasil
tanamannya kini sudah berbuah entah sudah berapa generasi.
Credit : Rinso Indonesia

Semenjak
kami pindah rumah, halaman kami yang tak seluas rumah kami yang lama membuat
hobi adikku akan tanaman sedikit berkurang. Namun, ia tetap konsisten dengan
peliharaan kacang hijaunya yang kini buahnya sudah segelas penuh sehingga
terkadang aku mengeluarkan celotehan ingin mencuri sedikit kacang hijaunya
untuk dibuat bubur. Adikku pun sering ngambek bila aku menggodanya.
Tak
berapa lama kami pindah adikku mendapatkan teman baru yang sebaya tetangga
sebelah rumah. Teman adikku itu mempunyai seorang nenek yang sering dipanggil
nenek etek karena beliau orang padang sedang di padang panggilan etek berarti
bibi. Di rumah temannya itu adikku serasa mendapat angin surga untuk hobinya.
Nenek etek memelihara banyak jenis tanaman hias dan bumbu penyedap. Persis
seperti yang dilakukan Mama dulu. Hobi adikku pun kembali tersalurkan.
Hampir
setiap hari sepulang sekolah, adikku terburu-buru mengerjakan PR agar sorenya bisa
berkunjung ke rumah Nenek Etek untuk menyiram tanamannya. Mulanya Mama mengijinkan.
Namun, setiap selesai berkunjung baju adik selalu kotor penuh noda tanah.
Rupanya adik tak hanya menyiram tanaman di rumah Nenek Etek, namun juga
membantunya memasukkan tanah ke dalam pot baru. Mama pun sempat melarang adikku
main ke rumah Nenek Etek. Biarlah Mama sendiri yang mengajarkan adik tentang
tanaman di rumah. Lagian, kami juga punya beberapa tanaman hias dan bumbu
penyedap meski tak sebanyak dulu. Semua itu dilakukan agar baju adik tak kotor
lagi.
Baru
seminggu menerima hukuman dari Mama, adikku sudah tak tahan. Ia pun merengek
minta dibebaskan. Bersamaan dengan itu, Nenek Etek berkunjung ke rumahku.
Beliau menanyakan mengapa adikku akhir-akhir ini jarang berkunjung ke rumahnya.
Rupanya beliau kangen pada celotehan adikku ketika berkunjung yang akan membuat
suasana rumah menjadi ramai.
Mama tak enak hati lalu mencabut larangan adik main ke rumah
Nenek Etek. Adikku senang bukan kepalang. Mama pasrah dengan baju adik yang
selalu kotor. “Tak apalah namanya juga anak laki, “ ujar Mama. Untung, Mama
punya sahabat setia yaitu Rinso pembersih noda pakaian. Pakaian adik yang penuh
noda tanah pun jadi bersih lagi seperti baru. “Semoga ada hikmahnya, Ma”
lanjutku.
Adikku tak hentinya mengejutkan kami dengan tingkah lakunya.
“Ma, aku ingin jadi professor ahli lingkungan, “ celotehnya di suatu sore.
Sorot matanya penuh keyakinan ketika mengucapkan itu membuat Mama dan Aku
tertawa. Adikku pun meneruskan alasan mengapa ia bercita-cita menjadi professor
ahli lingkungan. Rupanya ia terinspirasi dengan cerita gurunya di sekolah.
Menurut gurunya, Negara Indonesia termasuk negara yang kaya akan sumber daya
alam. Dengan menjadi seorang professor ahli lingkungan, adik bisa memanfaatkan
sumber daya alam yang dimiliki Indonesia untuk kepentingan rakyat banyak.
Apalagi ditambah dengan isu global warming yang semakin mengkhawatirkan.
Seorang professor ahli lingkungan bisa mengantisipasi global warming agar tak
menyusahkan semua orang. Sungguh cita-cita yang mulia. Kecil-kecil adikku sudah
berpikiran seperti orang dewasa saja… hihihi
Keinginan tersebut ternyata terus berlanjut. Sewaktu duduk
di kelas enam SD. Adikku berkeinginan mengikuti lomba IPA di sekolahnya. Mama
pun mendukung. Untuk menambah pengetahuan adikku, Aku mengajaknya pergi untuk
menyusuri sawah bertatap muka langsung dengan petani. 

Beruntungnya di kota Palembang masih terdapat areal
persawahan meski tidak di tengah kota. Tepatnya di daerah Jakabaring. Disana
adikku mendapat pengetahuan secara langsung dari petani yang sedang mengolah
sawah. Kami bertemu dengan Pak Ivan dan Pak Maman. Ternyata padi yang ditanam
di sawah mereka termasuk padi jenis IR. Mereka hanya menanam bibitnya saja
disana. Karena waktu itu sedang musim kemarau, maka sawah mereka pun kering.
Adikku memandang hal tersebut dengan wajah prihatin. Sejak itu, adik bertekad
untuk selalu menghabiskan nasinya. “Kasihan petani, kalo nasi gak dihabisin
lalu dibuang” celoteh adikku seperti orang dewasa.
Tak dinyana setelah menunggu beberapa saat, adikku
dinyatakan sebagai Juara 1 Lomba IPA antar kelas di sekolahnya. Betapa bahagianya adikku saat
menerima piala yang diserahkan langsung oleh kepala sekolah dihadapan
teman-temannya. Dengan bangga, adikku memamerkan pialanya di depan aku, Mama
dan Ayah. Kami pun turut senang melihatnya. Tak lupa, adikku membawa pialanya
ke rumah Nenek Etek yang lalu memberinya hadiah bibit bunga anggrek.
Sampai sekarang adikku tak pernah melupakan cita-citanya. Ia
sangat berharap bahwa di kemudian hari ia betul-betul bisa mewujudkan impiannya
itu. Sekarang kegemaran adik bertambah. Adikku tak lagi hanya menggemari
tanaman, tapi juga fauna. Hampir setiap weekend, ia bersama ayah pergi
memancing. Pulangnya, adik membawa ikan hasil pancingannya. Adik ingin meneliti
tentang ikan sekarang. Bagaimana cara ikan berenang dan beranak pinak, wah
beragam pertanyaan yang dilontarkannya terkadang membuat kami kewalahan.
Ohya, akhir-akhir ini sepertinya cita-citanya bertambah.
Seiring usianya yang kini menginjak dua belas tahun, adikku memantapkan diri
menjadi professor ahli lingkungan sekaligus pengusaha. Ia mulai berjualan snack
kecil-kecilan. Wilayah pemasarannya memang hanya sebatas tetangga dekat rumah,
namun keuntungan yang diperoleh adikku cukup lumayan. Adikku berceloteh kalau
keuntungannya ingin ia tabung saja agar bisa digunakan untuk membiayai kuliah
professor ahli lingkungan. Ahh, adikku… semoga cita-citamu terkabul ya :’)

Diikutsertakan dalam lomba Cerita Dibalik Noda 2 Tahun 2013 yang diadakan oleh Rinso Indonesia dan berhasil masuk 10 Pemenang Utama Ide Cerita Terbaik 

6 Views

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: