Lestari Hutanku, Bangkit Ekonomiku, Bijak Bestari Negeriku

Tujuan manusia hidup di dunia ialah sebagai khalifah. Allah SWT sudah menciptakan jagad raya dan seisinya. Sehingga selanjutnya sudah seharusnya tugas manusia yang menjaganya. Sayangnya semakin banyak manusia yang kurang memahami, bahkan cenderung acuh tak acuh terhadap alam. Alih-alih bersahabat dengan alam, manusia malah merusaknya. Hanya sebagian kecil dari kita yang mau memikirkan kondisi alam. Padahal usia bumi semakin menua.


Imbasnya ulah menyakiti bumi tersebut, manusia sendiri yang menanggungnya. Setiap tahun sebanyak 60 juta orang di dunia terpapar cuaca ekstrim. Tidak peduli itu di belahan bumi Amerika, Australia, bahkan Afrika semua terkena dampaknya. Sedikit demi sedikit kondisi alam mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk. Akibatnya tak jarang bencana juga melanda negeri ini. Di Indonesia sudah ada kurang lebih 2481 bencana yang mengakibatkan 10 juta penduduk mengalami kesulitan dan tinggal di pengungsian.

Kondisi alam di Indonesia sendiri memprihatinkan. Hutan sebagai bagian dari pelindung alam makin banyak ditebang. Julukan Indonesia sebagai paru-paru dunia karena memiliki hutan urutan ketiga terluas di dunia kini dipertanyakan. Data yang dimiliki oleh Forest Watch Indonesia, pada tahun 2018 luas hutan alam di Indonesia berkurang 718 ribu hektar. Hutan alam ini tersebar di tiga provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan Maluku Utara. Diperkirakan pada tahun 2020 nanti, 75% hutan di Kalimantan akan gundul. (2016, WWF)


Untuk itu, Yayasan Doktor Sjahrir Indonesia dan APP Sinarmas beberapa waktu lalu, mengajak diskusi blogger Palembang. Acara santai yang diselenggarakan di restoran Kuto Besak Theater tersebut bertajuk "Forest Talk with Blogger Palembang". Tema besarnya tentang "Lestari Hutanku". Kota Palembang terpilih sebagai kota kedua yang dikunjungi setelah Jakarta.

Sebanyak tak kurang dari 50-an lebih blogger dan wartawan hadir pada kesempatan tersebut, disini juga hadir beberapa narasumber, yaitu Ibu Dr. Amanda Katili Niode, selaku Manajer Climate Reality Indonesis, ibu Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia, dan ibu Ir. Titi Murni Resdiana, MBA dari Kantor Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim. Tidak hanya paparan seminar, acara juga diisi oleh pameran produk lokal dan kerajinan asli Sumsel serta meet n greet dengan beberapa pengusaha lokal.



Dampak Perubahan Iklim Makin Memburuk, Bumi Makin Terpuruk


Menurut Ibu Amanda Katili, dalam pemaparannya, dampak perubahan iklim semakin nyata kita rasakan. Efek tersebut bisa dilihat dari naiknya permukaan air laut dan suhu global, cuaca ekstrem, pengasaman samudera dan fenomena es mencair. Semuanya akibat kegiatan manusia yang berimbas kepada timbulnya emisi gas rumah kaca. Kita semua turut menyumbang andil dalam degradasi lingkungan sedikit demi sedikit.

Ibu Amanda Katili menerangkan tentang dampak perubahan iklim bagi bumi kita. 

Berdasarkan data World Research Institute tahun 2012, penyumbang gas emisi rumah kaca terbesar berasal dari penggunahan lahan/kehutanan dan energi. Sisanya berasal dari transportasi, pertanian, limbah, dan industri. Sementara itu menurut BPS, angka kerusakan alam terkait emisi gas setiap tahunnya cenderung bertambah. Mencapai puncaknya pada tahun 2015 lalu.

Molzania sendiri pernah menjadi korban dari kebakaran hutan yang melanda Sumatera dan Kalimantan. Saat itu kualitas udara memburuk. Rasanya sesak sekali. Penyakit ISPA bergentayangan. Asap terlihat dimana-mana menurunkan jarak pandang. Langit yang tadinya biru seketika memutih. Selama berbulan-bulan merasakan hal tersebut.

Suasana mencekam pada saat bencana asap di Palembang

Ada dua solusi yang ditawarkan oleh Bu Amanda dalam menghadapi perubahan iklim, yaitu lewat adaptasi dan mitigasi. Lewat adaptasi, kita berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Maka kita akan melakukan usaha untuk menyelamatkan manusia dan alam. Tujuannya untuk mengurangi dampak dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Sedangkan dengan adanya mitigasi, manusia berupaya untuk sebisa mungkin menahan laju perubahan iklim. Menurunkan level gas emisi rumah kaca di atmosfer, yaitu dengan cara mengurangi kegiatan manusia yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Berbagai cara yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan lingkungan

Berbagai upaya yang telah dilakukan diantaranya menghasilkan alternatif energi terbarukan, mengurangi penggunaan sampah plastik, menciptakan mobil listrik ramah lingkungan, dan memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan ketimbang daging.

Nikmat dunia itu sembari nyimak materi sembari ngemil juga. :P

Masalah Deforestasi Hutan di Indonesia dan Komitmen untuk Menyehatkannya


Tahukah Sobat apa definisi hutan? Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hutan merupakan sebuah wilayah yang luasnya lebih dari 6,25 ha, terdiri dari pohon dewasa yang tingginya lebih dari 5 meter dan tutupan kanopinya lebih dari 30%.

Lebih jauh, Bu Atiek menjelaskan, saat ini laju deforestasi hutan Indonesia tinggi. Pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam hal ini ialah perusahaan swasta dan masyarakat sekitar hutan. Mereka melakukan hal-hal mencakup illegal logging, penebangan hutan untuk keperluan tertentu hingga pengalihfungsian lahan menjadi sawah, kebun, dan ladang.

Bu Atiek menjelaskan tentang masalah deforestasi di Indonesia

Jika ini terus dibiarkan, bisa menjadi masalah besar. Hutan bukan hanya kehilangan cadangan karbonnya, juga berakibat kepada rusaknya habitat hewan dan tetumbuhan liar. Lebih dari itu, pembukaan lahan lewat pembakaran hutan rawa gambut bisa mengakibatkan meluasnya kebakaran hutan.


Sejumlah hal dilakukan untuk menyelamatkan hutan kita. Diantaranya dengan mengembalikan fungsi hutan kita melalui pembangunan koridor ekologi. Hal ini sudah dicanangkan oleh pemerintah, seperti misalnya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Lewat program ini, maka timbulnya bencana ekologi dikurangi dan perlindungan satwa liar dapat ditingkatkan.

Ini adalah contoh gambar wilayah habitat orangutan yang terputus
akibat penerbangan liar dan penggundulan hutan. So sad!

Lantas, apakah masyarakat umum dapat berkontribusi menjaga hutan? Jawabannya bisa dong! Caranya bisa dengan mendukung pelestarian hutan dimulai dari lingkungan sendiri. Selain itu, bisa pula dengan turut menggalakkan produksi kayu yang berkelanjutan. Bagi penggemar kuliner dan travelling, kalian bisa melakukan kunjungan pariwisata hutan dan mengonsumsi produk-produk hutan.

Bertemu dengan Mbak Mellin, pemilik Mellin Gallery. (namanya mirip, Molyn-Mellin xD)
Memulai usaha bisnis kerajinan kayu dari selepas kuliah. 

Berbagai produk kayu yang dijual Mellin Gallery.
Berbahan utama bahan kayu panglong diambil dari limbah pabrik.
Lalu dicat dan dikemas sehingga menambah nilai jual.  

Bertemankan Pohon Bersama Membangun Ekonomi Kreatif


Sebenarnya dengan senantiasa menjaga hutan, kita sendirilah yang akan merasakan manfaatnya. Ragam pepohonan dan tetumbuhan yang hidup di alam bisa kita gunakan sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Baik batang, getah, daun, bunga dan semua yang berasal dari pohon dapat kita manfaatkan. Asal tidak digunakan secara berlebihan. Asal ada upaya regenerasi setelah pemanfaatannya.

Mbak Murni sedang memberikan materi tentang pohon sebagai sumber ekonomi kreatif.

Hal ini sejalan dengan Perpres nomor 59 tahun 2017 dimana jajaran pemerintah dan aparaturnya berkomitmen untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih baik lewat pembangunan yang berkelanjutan. Resolusi PBB menetapkan tenggat waktu tahun 2030 nanti semua negara di dunia sudah berhasil menerapkan sistem ini demi terwujudnya kemaslahatan manusia dan bumi.

Sebagai wujud pelaksanaannya, pemerintah membangun program prioritas pembangunan desa yang mengajak semua pihak untuk dapat berpartisipasi. Para pihak itu yang dimaksud ialah aparatur desa, pengusaha lokal, dan warga desa itu sendiri. Secara tidak langsung, diharapkan dengan adanya program ini ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa dapat terwujud.

Mbak Anggi, dari Galeri Wong Kito, mengisahkan pengalamannya dalam membesarkan
bisnis tekstil khas Sumatera Selatan. Khususnya kain songket dan jumputan. Dari yang awalnya memakai
bahan sintetis sekarang sudah memilih bahan organik dari hutan karena ingin peduli lingkungan.

Pameran Produk Lokal dan Kerajinan Khas Sumatera


Selain pemaparan materi tentang hutan dan lingkungan hidup, kita Blogger Palembang juga diajak untuk melihat dari dekat dan mencicipi berbagai produk olahan hutan Indonesia. Pada kesempatan kali ini, ada 3 macam jenis usaha yang dipertunjukkan. Kesemuanya berasal dari pengusaha lokal asli Sumatera.

Pak Janudianto sedang menjelaskan program CSR Sinarmas yang diberi nama
Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program ini telah banyak membantu memberdayakan masyarakat hutan. 

Ada yang berasal dari usaha lokal masyarakat Desa Makmur Peduli Api (DMPA). DMPA itu program CSR milik APP Sinarmas untuk memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. FYI, APP Sinarmas merupakan produsen penghasil pulp dan kertas di Indonesia yang menerapkan kebijakan konservasi hutan. Lewat program ini, perusahaan berkomitmen untuk melindungi hutan dan mencegah deforestasi dengan mendirikan hutan produksi untuk bahan baku perusahaan. Saat ini sudah banyak masyarakat sekitar hutan yang terbantu berkat adanya CSR Sinarmas ini.

Berfoto bersama produk hasil hutan dari UMKM DMPA.

Aneka keripik dan biji-bijian produk hutan hasil karya 'emak-emak' UMKM DMCPA.

Kerupuk dan kemplang, kuliner lokal menggunakan produk hasil hutan.

Nah beberapa produknya UMKM DMPA juga ditunjukkan pada acara ini. Kata Pak Janudianto, selaku Kabid. Pengembangan Program CSR Sinarmas, mengatakan bahwa sebagian besar yang aktif di UMKM DMPA itu adalah dari kalangan emak-emak. Berarti secara tidak langsung, program ini turut memberdayakan perempuan desa.

Selain produk-produknya DMPA, pada acara tersebut, juga ada pameran dari usaha lokal milik wong kito galo. Berbagai hasil kerajinan daerah yang berasal dari produk olahan kayu dari para pengrajin asal sumsel diperlihatkan. Para pelaku usaha yang hadir juga dipersilahkan untuk berbagi cerita inspiratif dalam membangun usaha dari nol.

Bahan pewarnaan tekstil yang digunakan oleh Mbak Anggi.

Mbak Anggi sedang melayani berbagai pertanyaan yang diajukan oleh blogger.

Mbak Anggi sedang memeragakan pembuatan kain jumputan dari pewarna alami hasil hutan.
Diantaranya daun-daunan.

Video pembuatan kain jumputan khas Sumsel.


Peran Blogger dalam Pengendalian Lingkungan Hidup


Suatu kehormatan bagi Molzania dapat turut serta dalam acara yang edukatif tersebut Molzania jadi turut merenungkan kejadian di sekitar kita. Lewat pemaparan dan seminar tersebut, Molzania jadi paham bahwa bumi saat ini sedang sakit. Semua itu akibat ulah manusia yang ditugasi Allah SWT untuk menjaganya. 

Berfoto bersama blogger Palembang kece.. :)

Tahun 2013 lalu, Molzania pernah memenangkan lomba menulis yang erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Ceritanya terinspirasi oleh pengalaman adik yang sedari kecil sudah menyukai pelajaran IPA dan peduli dengan alam di sekitarnya. Ini semua tak lepas dari peran mama yang rajin memelihara tanaman.

Sewaktu besar nanti, dia bercita-cita menjadi professor ahli lingkungan. Ketika ditanya apa sih yang memotivasinya bercita-cita demikian? Ia menegaskan kalau Indonesia ialah negeri yang kaya sumber daya alamnya. Tetapi sayangnya banyak orang Indonesia yang tidak peduli, sehingga dibutuhkan professor-professor handal untuk memperbaiki lingkungan.

Lantas bagaimana dengan Molzania sendiri? Sebagai seorang blogger, sudah tugas Molzania untuk turut menyebarkan pengetahuan dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya memelihara lingkungan. Salah satunya lewat literasi. Kiranya hal ini bisa menginspirasi sobat Bubblelatte yang telah berkenan untuk membacanya. Efeknya akan lebih banyak orang-orang yang terpengaruh oleh hal-hal baik untuk lingkungan masa depan yang lebih baik. Semuanya itu demi terwujudnya peran serta masyarakat Indonesia akan pemberdayaan lingkungan hidup.

Asikk menang Juara 3 Lomba Livetweet.

Penyerahan hadiah lomba oleh bu Amanda Katili.

Itulah sebenarnya tugas utama seorang influencer. "Influence" dalam Bahasa Inggris berarti memengaruhi. Tentunya bertujuan ke arah yang lebih baik. Tetapi lebih daripada itu, seorang blogger juga manusia. Seorang manusia ditugasi oleh Allah SWT untuk menjaga alam. Sisi humanis ini membuat seorang blogger tak hanya bertugas untuk menyebarkan ide, tetapi juga mesti ikut berpartisipasi menjaga lingkungan di sekitarnya.

Selain hal tersebut, Molzania juga hidup sebagai manusia dan anggota masyarakat. Ada pepatah yang mengatakan bahwa memberikan teladan itu mudah, tetapi menjadi teladan itulah yang sulit. Nah mumpung sebentar lagi kita akan merayakan Hari Bumi Internasional. Tepatnya tanggal 22 April 2019 nanti. Kita bisa memulainya dari diri sendiri.

Isi goodiebag dari Acara Forest Talk with Blogger Palembang.

Dibonusin aneka macam kuliner dari UMKM DMPA. :D

Beli gantungan kunci robot lucu dari Mellin Gallery untuk kenang-kenangan.

Tiga Hal Kecil dan Sederhana yang Bermanfaat Bagi Lingkungan


• Menanam Tanam-Tanaman dan Pohon di Halaman Rumah
Sewaktu adik dan Molzania masih kecil, mama sudah aktif mengikutsertakan anak-anaknya dalam urusan menanam dan memelihara aneka macam tanam-tanaman, bunga dan pohon di halaman rumah. Manfaatnya selain mengajari anak sedari dini mencintai lingkungan, juga menghemat budget dapur. Rumah jadi lebih adem dan cantik karena ada bunga-bungaan yang beraneka warna.

• Membuang Sampah Pada Tempatnya
Kalau tidak bisa mengurangi konsumsi sampah plastik, setidaknya jangan buang sampah sembarangan. Tidak seperti masyarakat negara maju, terkadang sulit mendisiplinkan diri untuk membuang sampah pada tempatnya. Padahal membuang sampah pada tempatnya pun bukan ukuran dapat menyelamatkan lingkungan. Masalahnya sampah yang kita buang tetap akan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dan mencemari lingkungan di sekitarnya yang boleh jadi jauh dari lingkungan kita. Duh, jadi serba salah kan ya? Nggak ada jaminan juga sampah-sampah itu tidak akan dibuang ke laut atau sungai. Jadi menurut Molzania sih, ini masih jadi problematika tersendiri.

• Reduce, Reuse dan Recycle
Program ini bertujuan untuk mengurangi pembuangan sampah plastik yang dapat mencemari lingkungan dengan cara meminimalisir, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah.

18 comments :

  1. Reduce, reuse dan recycle😍😍

    ReplyDelete
  2. Tulisan yg bagus dan kesimpulan nya Kita melakukan 3 hal di paragraf terakhir. Semangattt utk Kita semua, jaga bumi ini sama2

    ReplyDelete
  3. Astaga itu poto pas mbak Anggi lagi demoin eco print, daku terpelongo 🤣

    ReplyDelete
  4. Acara seperti ini semakin membuka mata kita akan perubahan yang terjadi di bumi kita. Informasi yang bagus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga makin banyak acara edukasi utk blogger yee ..

      Delete
  5. Mantap, oleh-oleh yang dibawa banyak yaa

    ReplyDelete
  6. Betul, dengan hutan yang lestari, maka perekonomian juga akan tumbuh.

    ReplyDelete
  7. keren mbak moldy ��
    nyesel kmarin ga beli gantungan kunci juga ��

    ReplyDelete
  8. ih pingin belajar bikin kain jumputan pakai daun

    ReplyDelete
  9. liat poto jembatan ampera yang penuh kabut itu sedih, soalnya parah nian waktu "musim" kabut

    ReplyDelete

Sharing is caring ! Give your comment here please :

My Instagram

Copyright © BuBBLeLaTTe . Made with by Molzania Design