Fenomena Dilan: Kontroversi Gaya Pacaran Remaja dan Aspek Psikologisnya

Sejak kemunculannya di tahun lalu, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap film remaja berjudul "Dilan 1990" sangatlah tinggi. Terbukti dengan jumlah penonton yang membeludak hingga berjeti-jeti hanya dalam beberapa hari tayang. Pun dengan sekuelnya yang tayang beberapa hari yang lalu. Film "Dilan 1991" yang jalan ceritanya kelanjutan dari kisah percintaan antara Dilan dan Milea itu tembus 3 juta penonton dalam waktu 3 hari tayang. Bahkan Pak Jokowi pun mengapresiasi film Dilan dengan ikut serta duduk manis di kursi penonton.


Fenomena ini membuktikan kalau film Indonesia masih banyak diminati. Ditengah gempuran film-film barat. Seperti biasa sejak tahu kemunculan film "Dilan 1990", Molzania segera berusaha untuk membaca bukunya terlebih dahulu. Jika bagus dan menarik, baru bolehlah untuk dipertimbangkan ikut menonton filmnya.


Baik Buruknya Kisah Dilan Milea


Sayangnya Molzania sama sekali tidak tertarik untuk membacanya hingga akhir. Jadi apa yang Molzania tulis di bawah itu bagian dari sisa-sisa ingatan tentang cerita novel Dilan yang pernah dibaca dulu. Nggak tertarik untuk baca ulang. Apa yang Molzania tulis di bawah merupakan garis besarnya saja. Tidak untuk hal-hal yang lebih mendetail.

Alasannya tidak tertariknya, ya, mungkin karena Molzania udah dewasa kali. Jadi genrenya yang remaja sudah tidak cocok lagi. Menurut Molzania, isi novel ini purely bertema pacaran ala anak abegeh. Semata untuk hiburan, tidak untuk edukasi. Kisah pertemuan Dilan dan Milea yang diwarnai oleh modus-modus dan rayuan maut dari Dilan. Milea yang seorang cewek feminim kelihatan berbunga-bunga, jatuh hati oleh gombalan Dilan.


Membaca novel "Dilan 1990" yang pertama sudah terasa sangat membosankan bagi Molzania. Pilihan untuk membaca secara cepat jadi pilihan bagi Molzania jika sudah seperti itu. Endingnya sudah bisa ketebak, mereka berpacaran. Satu-satunya yang membuat Molzania tertarik ialah diksi yang diucapkan Dilan saat melontarkan rayuan mautnya kepada Milea. Pemilihan kata dan padu padannya sebenarnya sederhana dan klise. Tapi terdengar lucu dan tak biasa. Mirip sewaktu kita sedang menonton stand up komedinya Cak Lontong.

Jangan Rindu, Berat. Kamu Nggak Akan Kuat. Biar aku saja! -Dilan to Milea-

Secara diksi dan pendekatan ke remaja, Molzania belajar banyak dari novel tersebut. Dunia remaja memang sering diwarnai oleh hal-hal yang ajaib dan tidak biasa. Memorinya sulit untuk dilupakan seumur hidup. Perkara taksir-taksiran dengan teman sendiri saja sudah membuat remaja berbunga-bunga sepanjang hari. Girang bukan kepalang, seakan dunia milik berdua.


Kontroversi Cerita Dilan dan Millea


Hal tersebut berlaku pada film Dilan dan sekuelnya ini. Sejumlah kontroversi bermunculan terkait meledaknya film Dilan. Mereka yang kontra menyebutkan bahwa film Dilan ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Isinya hanya pacar-pacaran saja. Tidak bagus ditonton remaja zaman now. Boleh jadi mereka malah meniru-niru adegan-adegan yang tak pantas di film ini. Mereka yang protes kebanyakan berasal dari kalangan orangtua yang memiliki anak remaja.

Terkait hal tersebut, Molzania turut merasakan kekhawatiran para orangtua ini. Sekali lagi, film Dilan dan sekuelnya itu purely bertema cinta-cintaan ala remaja. Bahkan latar belakang Dilan dikisahkan sebagai remaja berandalan. Sering terlibat tawuran dan merupakan anggota pemimpin anak-anak genk motor. Molzania kurang tahu apakah di Bandung sana tahun segitu memang ramai genk motor remaja. 

Karakter pacarnya, Milea, kurang lebih sama. Seorang gadis cantik feminim yang dikelilingi oleh para cowok-cowok dan idola sekolah. Terlahir sebagai remaja ibukota membuat Milea nggak takut berpacaran dengan sosok berandal tapi kaya di sekolahnya dulu. Gaya berpacaran Milea yang sangat terbuka hingga membuat Molzania berpikir tentang kewarasan para tokoh orangtua di novel ini. Jelas ada pengaruhnya dengan keadaan lifestyle modern ala dunia Barat which is membuat Molzania miris.

Adegan-adegan kisah cinta Dilan dan Milea juga beberapa digambarkan terlalu intim. Salah satunya Dilan dan Milea ngobrol intim saat boncengan motor. Dilan pada adegan ini sempat tidak menatap lurus ke arah jalan. Ini jelas berbahaya bagi pengendara motor yang masih remaja. Bisa terjadi kecelakaan. Jujur adegan ini sedikit membikin risih Molzania.


Meski demikian, Dilan diceritakan sebagai siswa yang pintar di sekolah biar kerjaannya pacaran dan berantem melulu. Nggak jelas kapan waktunya Dilan belajar dan bikin peer. Malah ada adegan dia ngebentak guru. Persis kayak sinetron remaja masa kini yang hidupnya di sekolahan, tapi nggak pernah belajar. wkwk. Endingnya Dilan pun diterima di universitas negeri favorit di kota Bandung. Milea pun sama, meski harus gagal move on, dia tetap dapat diterima di Universitas Indonesia. Sungguh menakjubkan!


Dilan dan Milea dari Sudut Pandang Psikologi


Kemunculan tokoh Dilan ini sekaligus menghancurluluhkan karakter tokoh cowok impian utama yang biasanya hadir di novel-novel remaja picisan. Nggak lagi seorang pemain basket, atau anggota boyband tamvann yang pandai. Dilan menjadi sosok superhero di novelnya dengan karakteristik yang menyebalkan seperti itu.

Saat akhirnya kisah cinta monyet itu harus berakhir, ternyata menimbulkan perasaan traumatik pada diri Milea. Beda dengan tokoh Dilan yang tetap calm down, Milea sulit menghilangkan perasaan cinta tersebut. Efek kehilangan Dilan membuat Milea enggan melakukan apapun. Untuk mengobati kondisi kejiwaannya, Milea bahkan pindah kota untuk berkuliah ke Jakarta. Persis kaya' sosok Isabella Swan yang kehilangan Edward Cullen dalam novel sekuel Twilight berjudul New Moon. 

Disini Molzania sedikit merasa gemas dengan tokoh Dilan. Bisa-bisanya dia tidak melakukan apapun! Bahkan untuk sekedar menghibur Milea pun tidak. Inilah mungkin pelajaran moral satu-satunya bagi remaja cewek pembaca novel Dilan. Jangan pernah mencintai sesuatu secara berlebihan! Cukuplah mencintai Allah dan Rasul-Nya yang boleh berlebihan. Jangan sampai jadi kaya' tokoh Milea yang terbawa galaunya meski sudah menikah dengan lelaki lain. Nggak baik sama sekali untuk keluarga yang akan kita bangun nantinya.

Sejujurnya menurut Molzania, tindakan Milea ini tidak layak untuk ditiru. Kalau gagal move on dalam hitungan sebulan dua bulan, bolehlah ya. Tapi ini sudah dalam hitungan tahunan. Mirisnya Dilan sama sekali nggak peduli dengan Milea. Buktinya Dilan kembali ke kehidupannya dan menjalin hubungan dengan cewek baru. Malang sungguh nasib Milea.

Dalam dunia psikologi, apa yang terjadi dalam diri Milea ini dinamakan gangguan kejiwaan. Bagi remaja yang mengalaminya, dampaknya tentu saja membahayakan. Selain bisa menimbulkan depresi, malah bisa menyebabkan penderita bunuh diri. Sebaiknya alih-alih dibiarkan sendirian, remaja depresi karena putus cinta seperti Milea sebaiknya dibawa ke psikolog/psikiater untuk diobati. Di novel ini, tokoh Milea malah bertemu dengan pasangan hidupnya yang juga sama-sama depresi karena putus cinta. Molzania lupa apakah Milea pernah berobat terkait depresinya ini atau nggak. Satu hal yang pasti Milea masih tidak dapat menghilangkan perasaannya tersebut meski sudah menikah lama.


Beberapa waktu lalu viral seorang pemuda yang bunuh diri dengan cara terjun dari lantai lima sebuah mall di Lampung. Usut punya usut diduga alasannya karena putus cinta. Kasus bunuh diri ini menambah daftar panjang pemuda yang nekat mengakhiri hidupnya karena alasan putus cinta. Kondisi remaja yang cenderung labil membuat mudahnya mengambil jalan pintas.

Disini Molzania menghimbau kepada para remaja agar tidak mencontoh kegalauan yang dilakukan Milea. Hey, hidup cuma sekali. Masa' harus dihabiskan dengan gagal move on melulu! Pacaran putus itu, biasa deh bray. Jangan sampe putus menghancurkan hidup kita sendiri. :)


Layak atau Tidak Ditonton?


Sekali lagi tulisan ini ditulis dari sisi pandangan Molzania tentang cerita ini. Bagi sobat bubblelatte yang tidak setuju dengan pendapat Molzania, sah-sah saja. Sekali lagi tulisan ini dimaksud untuk mengungkapkan sisi lain, baik dan buruk, dari Novel Dilan dan sekuelnya. Bagaimanapun Molzania menyambut baik kehadiran novel-novel remaja yang sukses difilmkan di layar lebar.


Terlepas dari kegemilangannya, remaja sebaiknya didampingi orang tua ketika menonton film Dilan. Mereka tetap butuh pengajaran terkait mana yang baik, mana yang buruk dari setiap film yang ditonton. Tujuannya agar mereka paham akan norma-norma di Indonesia, termasuk dalam hal ini aturan agama. Dalam Islam pun, tugas orangtualah yang mendidik anaknya.

Kepribadian seseorang ditentukan oleh dua faktor; eksternal dan internal. Faktor dari dalam (internal) berasal dari diri sendiri. Sementara itu faktor dari luar (eksternal) salah satunya bisa dari tontonan. Orangtua memiliki peranan penting untuk menyeleksi tayangan yang baik dan buruk untuk remajanya. Mengenai layak atau tidak ditonton film Dilan, semuanya tergantung kepada pembaca dan remaja itu sendiri.

Tetapi Molzania jadi ingat film Indonesia berjudul Laskar Pelangi. Film ini juga diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Dulu film Laskar Pelangi ini juga sempat viral, namun situasi penerimaannya berbeda dengan yang sekarang. Sewaktu Laskar Pelangi ditayangkan, era sosmed belum seheboh saat ini. Semua pasti sepakat kalau film Laskar Pelangi jauh lebih mendidik dan inspiratif daripada Dilan. Semoga suatu saat ada film remaja lainnya yang inspiratif mampu sesukses Dilan. ^^

8 comments :

  1. kemaren nonton, karena penasaran saja. kali ini saya sengaja tidak baca buku ke-2 nya.

    ReplyDelete
  2. Ketika saya membaca dan pada akhirnya saya menemukan sebuah kata yang berbunyi "remaja sebaiknya didampingi orang tua ketika menonton film Dilan" .
    Saya yakin 100% ini yang nulis adalah emak² hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sotoy. Tapi memang terinspirasi dari emak2 sih hahaa ...

      Delete
  3. film pertama aku ga nonton. film kedua ini apalagi hahahahaha. novelnya jg ga tertarik. dr awal dgr kisahnya ttg remaja pacaran, udh bikin ga mau blaaas sih utk nonton. palingan aku ttp baca review dr para bloggers aja mba :D. berasa ikut nonton juga :D. eh btw, jd di film yg skr sampe nikah ama beda org masing2 mereka??

    ReplyDelete
  4. Duh belum nonton karena kalo nontin harus ke bioskop kota sebelah. Tapi kalo diliat banyaknya pro kontra, memang betul harus dalam pengawasan orangtua biar anak nggak salah arah. Apalagi fase remaja. Orangtua layaknya seperti kawan dengan tidak membangun tembok tinggi untuk anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, sebetulnya pengawasan ini juga berlaku untuk film2 remaja lainnya. :)

      Delete

Sharing is caring ! Give your comment here please :

My Instagram

Copyright © BuBBLeLaTTe . Made with by Molzania Design