Pengalaman Difabel Ikutan Rekrutmen Volunteer ASIAN GAMES 2018 di Palembang

Tulisan ini udah Molzania tulis lama. Tapi mau diposting mundur maju. Mau dihapus sayang banget. Haha. Daripada sayang udah ditulis tapi nggak diposting. Ya udah deh mending diposting sekarang saja. Dibaca aja ya ceritanya di bawah. Hihii..


Woro-woro pendaftaran rekrutmen Asian Games itu sudah sejak tahun lalu. Dari bulan September 2017. Molzania udah daftar nih rekrutmen pertama itu. Bulan November dapat email lolos dan persiapan untuk psikotes wawancara. Tetapi jadwalnya belum diberi tahu. Eh tau-tau ternyata di cek di fanpage sudah ada jadwalnya. Molzania sama sekali nggak dikirimin email walau pemberitahuan lolos sudah diberitahu.

Yaudah deh, belom rezeki pikir Molzania. Hikmahnya ya waktu pertama itu lokasi tes semua berada di Jakarta. Molzania NGGAK memungkinkan pergi ke sana, karena waktunya mepet juga. Akhirnya ikhlasin ajalah. Waktu berlalu INASGOC kembali membuka rekrutmen volunteer ASIAN GAMES 2018 di Palembang. Nggak mau sia-sia, Molzania kembali daftar. Meskipun nggak berharap banyak sih.

Sebagai difabel tau sendiri kan hambatannya. Molzania susah untuk berjalan kemana-mana. Jatuh terus lebam dan luka itu hal yang biasa. Kalau jauh harus pakai kursi roda biar bisa cepet dan nggak ngos-ngosan. Kalau jaraknya dekat, ya sebisa mungkin pakai tongkat biarpun pelan. Tetapi Molzania itu orangnya kepo bin sotoy. Tetap aja ngelamar buat jadi volunteer Asian Games. Kalau nggak ikutan, kayaknya merasa berdosa gitu loh. Motivasinya sih pengen ketemu Lee Min Ho oppa, siapa tau oppa datang ke event Asian Games. Haha... *abaikan*

Dua bulan berlalu, nggak ada pemberitahuan apapun mengenai kelanjutan proses rekrutmennya. Eh tau-tau beberapa hari lalu, Molzania dapat juga surat cinta dari INASGOC. Lolos tahap administrasi itu sesuatu banget bagi Molzania. Selama ini ngelamar kerja via online, baru kali ini lolos tahap administrasi. Jadi yang pertama Molzania lakuin ialah mengucap syukur pada Allah SWT. Alhamdulillah...



Tetapi masalahnya lokasi tesnya itu ada di lantai 3. Gedungnya nggak ada lift pula. Tapi Molzania nggak mau ngelepasin satu peristiwa penting dalam hidup ini. Pengalaman tes psikotes dan wawancara kerja. Bertemu dengan teman baru dan melakukan banyak hal. Maka H-2 sebelum acara, Molzania hunting lokasi. Buat melihat apakah Molzania bisa naik ke lantai 3 atau tidak menggunakan tongkat. Ayah Molzania menilai gedungnya safely buat Molzania naik. Alasannya tangganya nggak terlalu curam, meski berulir. 

Iya sih Molzania BISA naik tangga, but I would have a BIG effort and cost my energy so badly. Bagi Molzania naik tangga itu sama kaya lari satu kilo. Very... very.. very tired. Tapi Molzania berusaha untuk semangat terus bisa ngikutin proses rekrutmen volunteer Asian Games. Ini kesempatan langka yang belom tentu Molzania bisa lakukan lagi lain kali.

Disini lokasi tes rekrutmen Asian Games kemarin :)
Sempat mundur maju untuk ikutan. Soalnya kalau kata temen Molzania yang pernah ikutan volunteer Sea Games 2012 dulu, tugas volunteer itu berat (kaya Dilan aja xD). Butuh mobilitas tinggi. Molzania ikutan ini juga nggak berharap banyak kok. Cuma ingin menambah pengalaman. Setidaknya untuk berbagi di blog dengan sobat bubblelatte semuanya. 

Solusinya Molzania melakukan simulasi terapi H-3 agar kaki nggak kaku untuk berjalan naik tangga. Selama H-3 itu Molzania bangun pukul 3 pagi lalu melakukan terapi. Biasanya nih Molzania terapinya pagi pukul 6, sekarang dipercepat jadi pukul 3 pagi. Itu ngantuk banget guys, beneran. Tetapi supaya demi tampil baik pas hari H, rela deh melakukan segalanya. Soalnya jadwal tesnya itu juga pagi pukul tujuh. Jadi pas hari H sudah biasa bangun untuk terapi sendiri.

Tiga hari berlalu, tibalah hari H rekrutmen. Molzania pergi dari rumah pukul setengah enam, walau tesnya itu baru mulai pukul tujuh. Alasannya Molzania ngejar waktu biar pas sampe lokasi masih lengang. Kalau kesiangan takut macet, Molzania jadi tambah jauh jalannya. Pas sampe lokasi, itu masih gelap banget. Peserta yang datang masih sedikit. Baru ada beberapa panitianya. 

Rasanya deg-degan nungguin seperti apa bentuk tesnya nanti. Untuk meminimalisir, Molzania mencoba kenal-kenalan sama sesama peserta rekrutmen. Cewek-cewek cantik baju putih bawahan hitam udah siap aja berjejer rapi. Molzania nggak mau kalah ahh terus pasang muka senyum. Pas pukul tujuh, proses registrasi dimulai. Semua peserta berjejer membentuk barisan. Karena kalah cepet, jadilah Molzania mendapat antrian paling belakang. Alhamdulillah ada salah seorang teman bernama Delfi mau memberi tempat pada Molzania. Hikz.


Saat registrasi, kita dimintain ktp sama sms pemberitahuan kelulusan dari INASGOC. Setelahnya disuruh masuk ruangans satu persatu. Tes psikotes dimulai pukul delapan. Dari 250 peserta batch pagi hari pertama, hanya 120-an peserta yang hadir. Tes psikotesnya dibagi menjadi dua part. Part pertama itu dibatasi waktu, dan part kedua tidak ada pembatasan waktu. Artinya semua jawaban harus terisi penuh.

Psikotes tahap pertama itu berupa gambar-gambar. Ada 4-5 subtest yang harus dikerjakan. Karena dibatasi waktu, Molzania nggak sempat mengisi 2 nomor. Masing-masing subtest ada 5-15 soal. Terus selanjutnya part kedua itu lebih kepada tes kepribadian. Ada dua pernyataan terkait sifat dan karakter kita, pilih mana yang paling mendekati. Jumlah soalnya 225.



Tidak hanya tes psikotes isi-isi LJK, disana juga ada FGD. FGD itu Forum Group Discussion. Kita diberi soal studi kasus terkait volunteer Asian Games 2018, dan diminta untuk menyelesaikannya. 120-an peserta dibagi menjadi 20 kelompok dan menempati dua ruangan tes. Molzania kebetulan masuk kelompok 20 atau paling buncit. Tes FGD ini satu grup terdiri dari 5-6 orang.

Nah di tes FGD, kita diperbolehkan menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia. Sendirinya FGD terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama FGD ialah perkenalan tentang diri kita. Pada perkenalan, Molzania mencoba menyapa dalam 3 bahasa; Korea, Inggris dan Jepang. Cuma modal ngomong; annyeonghaseyo sama hajimemashite doang kok. Selanjutnya berbicara dalam bahasa Inggris.

Nah yang kedua itu masuk ke studi kasus tadi. Soalnya terdiri dari dua pertanyaan. Kasusnya berupa simulasi tentang kejadian yang biasa terjadi pada saat opening ceremony. Bila ada Ketua Partai tak sengaja membawa anak lalu duduk di bagian depan tempat barisan para Dubes sementara masalahnya kita sendiri sedang mengantar dubes Korea Utara, pas sampe disana ternyata kursinya diduduki oleh Ketua Partai dan anak isterinya tersebut, lalu apa yang akan kita lakukan dan sebaiknya dikatakan pada kedua belah pihak? Intinya seperti itu.


Dalam FGD, bukan benar atau salah yang dicari. Melainkan pendapat dan opini kita, sampai terjadi kesepakatan dalam kelompok diskusi. Karena ada anggota kelompok Molzania yang kurang cakap berbahasa Inggris, maka kita semua sepakat berbicara dalam dua bahasa. Apa coba tebak? Indonesia dan Palembang. Haha.. kembali ke selera asal. Palembang seleraku... hihii

Entahlah apakah pengawasnya mengerti bahasa kami. Dengar-dengar sih pengawasnya berasal dari luar kota Palembang. Dengan demikian berakhirnya FGD, berakhir pulalah proses rekrutmen volunteer Asian Games. Kabar pengumuman lolos atau nggaknya akan diberitahukan nanti. Kalau lolos sih, harus siap-siap ikutan General Training 2 kali tanggal 20-an Mei 2018. Pas bulan puasa itu loh, ini aja rasanya udah capek banget. :'(

Sayangnya sih Molzania nggak lolos rekrutmen volunteernya. Hihii.. barangkali memang nggak cocok dengan kondisi fisik Molzania sendiri. Ya dikasih kesempatan ikut rekrutmen udah bersyukur banget. Setidaknya Molzania bisa jadi bahan postingan di blog ini. Okedeh, saatnya move on. Semoga di ajang selanjutnya, Molzania diberi kesempatan lebih dari ini. :)

Molzania.com merupakan blog pribadi milik Firsty Ukhti Molyndi. Memiliki hobi menulis sejak kecil. Blog ini sebagai sarana menyalurkan minat dan aspirasinya.