Jangan Mau Kalah! Bersama Kita Bisa! Sebuah Dukungan dari Blogger Difabel

Kurang lebih satu bulan lagi, Indonesia akan menghadapi perhelatan olahraga internasional tingkat Asia yang lebih dikenal dengan nama Asian Games 2018. Tahun ini Indonesia terpilih untuk menjadi tuan rumah dimana kota Jakarta, Palembang, dan beberapa tempat di provinsi Jawa Barat dan Banten ditunjuk sebagai tempat diselenggarakannya event tersebut. Sebagai warga kota Palembang, tentunya Molzania sangatlah bangga menjadi saksi sejarah wakil-wakil Asia saling berkompetisi menjunjung tinggi semangat sportivitas.



Asian Games 2018 merupakan ajang Asian Games yang ke-18. Tahun ini memperlombakan 40 cabang olahraga; terdiri dari 32 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang olahraga non olimpiade. Antara Jakarta dan Palembang, kota Jakarta mendapatkan jatah cabang olahraga terbanyak. Di Kota Palembang sendiri digelar hanya 10 cabang olahraga, yaitu; sepak bola, basket, tenis / soft tenis, voli, kano / kayak, dayung, menembak, thriatlon, sepak takraw dan panjat tebing.

Palembang sendiri sudah sejak bertahun-tahun lalu bersiap menghadapi Asian Games. Dibuktikan dengan pembangunan LRT atau kereta api cepat yang melintang di seantero kota. Pengerjaannya dimulai pada tahun 2015 lalu. Artinya sudah sekitar 3 tahun proyek ini dikerjakan.





Secara keseluruhan, masyarakat Palembang dibuat takjub dan terpesona dengan progress pembangunan LRT dari tahun ke tahun. Istimewanya proyek LRT Palembang yang pertama di Indonesia. Puluhan alat berat dikerahkan menjadi pemandangan sehari-hari warga Palembang. Kemacetan pun tak dapat dihindarkan. Adakalanya Molzania merasa kesal dengan macet akibat pembangunan LRT. Tapi jika dipandang itu untuk kepentingan bersama, ya sudah rasa kesalnya harus dihilangkan.

Awalnya sih tidak terlihat, tapi semakin lama bentukan jalan layang LRT makin tampak. Tak jarang kami masyarakat Palembang merasa ngeri menyaksikan beton-beton penyangga tiang LRT yang malang melintang di jalan-jalan itu. Bisa dibayangkan besi sebesar itu menimpa kepala dan tubuh kita, pastilah akan langsung tewas. Hehehe… Tapi emang serem banget deh besi-besi dan beton-beton raksasa itu. Sungguh, pengalaman pertama melihat dengan mata kepala pembangunan LRT yang super panjang di kota Palembang.







Asian Games 2018 Ajang Pembuktian Diri Sendiri

Tidak hanya untuk Palembang dan Indonesia, ataupun para atlet yang ikut serta bertanding, tapi event Asian Games 2018 ini juga menjadi ajang pembuktian bagi diri Molzania sendiri. Nah beberapa waktu lalu, untuk membuktikan antusiasme Molzania terhadap event ini, Molzania semangat untuk mengikuti seleksi volunteer Asian Games yang ada di website mereka. Biarpun Molzania orangnya susah untuk berjalan sendiri dan harus menggunakan tongkat, tapi Molzania bela-belain untuk ikut berpartisipasi dalam psikotes dan wawancara seleksi tersebut.





Lokasi gedungnya sendiri ada di lantai 3 sebuah kampus. Tidak tersedia lift untuk naik ke atas. Untuk menuju kesana, bagi orang seperti Molzania tentu tidaklah mudah. Molzania harus menggunakan walker dan dibantu ayah untuk naik tangga agar tidak jatuh. Molzania sengaja datang ke lokasi tes sehabis subuh untuk menghindari keramaian. Dilihatin oleh banyak orang karena beda sendiri cara berjalannya membuat Molzania merasa malu. Makanya Molzania mesti datang pagi-pagi buta biar sepi.






Tesnya sendiri Molzania yakin dengan kemampuan diri. Walaupun berstatus disabilitas, tapi Molzania berusaha untuk tetap percaya diri. Soalnya selain tes psikotes, juga ada tes wawancara dan studi kasus. Dalam tes wawancara, Molzania memperkenalkan diri dalam 3 bahasa; Inggris, Jepang dan Korea. Yah, biarpun masih taraf pemula, setidaknya itu menjadi ajang unjuk bakat buat Molzania. Molzania betul-betul ingin membuktikan setidaknya bagi diri sendiri bahwa disabilitas bukanlah halangan untuk terus maju.

Sayangnya Molzania hanya sampai pada seleksi tahap pertama. Selanjutnya Molzania gagal menjadi volunteer karena nggak lolos psikotes dan wawancara. Ya sudahlah nggak papa, menurut teman Molzania yang pernah jadi volunteer pas ajang Sea Games lalu, seorang volunteer dituntut untuk cakap mobilitas dan kuat fisik. Untuk berjalan jauh, Molzania membutuhkan kursi roda agar lebih cepat sampai. Mungkin Molzania belum cocok jadi seorang volunteer Asian Games jika kriterianya seperti itu. 

Walaupun kecewa, tapi Molzania merasa senang dan bangga. Bisa lolos tahap administrasi saja sudah bahagia. Berkali-kali melamar pekerjaan dengan menyebutkan disabilitas tidak pernah bisa lolos seleksi berkas. Sudah menjadi suratan, Molzania tak menjadi volunteer. Mungkin Molzania bisa menempuh jalan yang lain.


Disabilitas dan Asian Games 2018

Mewakili kaum disabilitas, Molzania tentunya tak mau ketinggalan untuk ikut dukung bersama Asian Games. Lewat apa? Tentunya lewat karya. Berhubung Molzania hanya bisa menulis, maka Molzania menyumbangkan sedikit opini pribadi tentang dukungan Molzania terhadap Asian Games di Kota Palembang. Bahwa kaum disabilitas pun ingin semarakkan Asian Games 2018.






Apalagi Molzania juga termasuk bagian dari wong Plembang. Jadi memang sehari-hari sudah melihat secara langsung progressnya sejak awal. Mudah-mudahan ketika penyelenggaraan Asian Games bulan Agustus nanti berlangsung, pemerintah dapat memfasilitasi teman-teman disabilitas untuk berpartisipasi. Bisa menonton event secara langsung tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri untuk kaum disabilitas seperti Molzania.

Beberapa bulan belakangan ini, pemerintah provinsi Sumatera Selatan rutin mengadakan temu komunitas muda. Tidak terkecuali komunitas blogger dimana Molzania ikut serta juga diajak. Kelanjutannya nanti akan diselenggarakan panggung festival kerjasama dengan Kemenpar menjelang pelaksanaan Asian Games nanti. Tentu sangat senang jika disabilitas bisa ikut memeriahkan acara.





Sayangnya sih beberapa fasilitas disabilitas di kota Palembang malah rusak. Itu Molzania rasakan sendiri ketika mau ke toilet khusus disabilitas di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II seminggu yang lalu. Kedua-dua toilet baik di kedatangan domestik atau internasional tak bisa digunakan. Pintu masuk toilet disabilitas yang memang berbentuk pintu geser tidak bisa berfungsi sehingga harus didobrak oleh petugas kebersihan. Penampakannya toiletnya pun terlihat memprihatinkan, kotor dan rapuh. Masukan nih untuk pemerintah provinsi Sumatera Selatan agar memperhatikan fasilitas disabilitas yang sudah ada agar dijaga dengan baik.


Padahal sejatinya Asian Games 2018 kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Bukan tidak mungkin, di masa mendatang akan ada lagi event Internasional lain yang berlabuh di Indonesia. Semoga apa yang terjadi pada Molzania diatas sudah diperbaiki, sehingga kaum disabilitas dapat menikmati kemeriahan Asian Games dengan lebih baik.



Molzania.com merupakan blog pribadi milik Firsty Ukhti Molyndi. Memiliki hobi menulis sejak kecil. Blog ini sebagai sarana menyalurkan minat dan aspirasinya.