REVIEW Film 212 The Power of Love : Dari Anak Durhaka Menjadi Pemuda Sholeh

Sebenarnya sih mundur maju mau nonton film di bioskop lagi. Pengalaman sebelumnya sewaktu nonton film Terbang : Menembus Langit, Molzania jatuh terduduk di tangga bioskop. Biarpun sering jatuh, tetap aja loh ya Molzania merasa malu. Apalagi diliatin oleh orang se-bioskop. Mau taroh dimana muka ini coba.

Finally, setelah ngambek mau juga dibujuk oleh mama buat ikutan nonton. Habis cerita filmnya juga bikin penasaran. Lebih tepatnya karena ingin bernostalgia. Inget kan peristiwa 2 tahun lalu yang bikin heboh se-antero jagad raya tentang 7 juta umat muslim berkumpul bersama di Monas demi menuntut hukuman untuk penista agama dari kalangan pejabat? Yap, ide film 212 The Power of Love itu dari situ.


Film ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Rahmat, diperankan oleh Fauzi Baadila, yang berprofesi sebagai jurnalis majalah Republik lulusan dari Universitas Harvard Amerika. Sayangnya sikap Rahmat ini bertolak belakang dengan namanya. Ia sangat antipati dengan agama Islam, dan tulisannya cenderung menjelek-jelekkan umat muslim.

Padahal aksi bela Islam itu murni perjuangan umat Islam menegakkan keadilan. Akibatnya Rahmat pun banyak musuh dan tidak disukai berbagai pihak. Walaupun tampaknya Rahmat memiliki banyak musuh, ia masih memiliki seorang sahabat yang selalu menasehatinya. Namanya Adhin.


Walaupun tampak urakan dengan jenggot dan rambut gondrongnya, tokoh Adhin, diperankan oleh Adhin Abdul Hakim, tak setuju dengan tulisan Rahmat dan kerap memprotesnya. Biarpun begitu, Adhin tampil sebagai sosok sahabat setia dan sering mengikuti Rahmat kemanapun.

Suatu hari, Rahmat terpaksa pulang ke kampung halamannya di Ciamis karena suatu hal yang urgent. Ditemani sahabatnya Adhin, Rahmat terpaksa harus membuka lagi luka lama dengan keluarganya. Sang Ayah diketahui bernama Ki Zainal ternyata ialah seorang ustadz di kampungnya. Disaat bersamaan, terjadilah peristiwa 212 yang mana ratusan muslim di Ciamis memilih untuk berjalan kaki menuju Jakarta. Disitulah rupanya momen hidayah masuk ke dalam sanubari Rahmat.

Bagaimana Kelanjutannya? Nonton Sendiri dong.. ;)

Secara keseluruhan, film ini lumayan menarik. Isinya kurang lebih terdiri dari 60% komedi yang penuh hikmah, 20 persen menguras air mata, dan 20 persen terakhir biasa saja. Sepanjang film kita disuguhkan kekocakan duo sahabat, Rahmat dan Adhin, dengan segala candaan dan tingkah polah mereka berdua. Termasuk usaha mereka untuk mendekati Yasna, seorang cewek muslimah alim teman semasa kecil Rahmat. Tentunya ini tidaklah mudah.


Apa yang disuguhkan kepada penonton dalam film ini ialah murni kedekatan hubungan antara ayah dan anak. Rahmat mulanya digambarkan sebagai sosok yang durhaka kepada orangtua, rupanya aksi 212 itu mendekatkan dirinya dengan sang ayah karena satu alasan. Alasan itulah yang mengembalikan sosok Rahmat dari yang semula durhaka menjadi sosok pemuda sholeh.


Melalui film ini, kita seakan diajak bernostalgia saat peristiwa 212 berlangsung. Ada beberapa scene khas yang mengingatkan pada peristiwa damai tersebut. Rasa geram melihat kelakuan Rahmat yang cenderung tak sopan, berganti momen haru tatkala lafaz takbir dipekikkan. Semuanya disajikan dalam film 212 : The Power Of Love yang tayang selama 1 jam 50 menit.

Kekurangannya film ini lebih kepada sisi teknis. Penyatuan antara video 212 asli dan scene artisnya tampak tidak halus, sehingga dari sekelibatan mata kita sudah bisa mengetahui bahwa adegan yang berlangsung di latar belakang itu editan. Bukan asli. Tapi itu masih bisa dimaklumi. Me-remake aksi 212 bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk itu diperlukan penambahan beberapa potongan video asli peristiwa 212 untuk mendramatisir bahwa seolah-olah scene tersebut benar-benar berada pada peristiwa 212.

Selanjutnya ada beberapa adegan yang menurut Molzania tampak tidak masuk akal. Tapi Molzania nggak bisa bilang karena nanti jatuhnya jadi spoiler. wkwk

Itu menurut Molzania sih. Haha. Jangan dibully ya netizen. Molzania berusaha untuk memberikan pendapat secara objektif. Keseluruhan film ini Molzania suka sih. Apalagi ada beberapa tokoh artis dan penulis islami kesayangan yang menjadi cameo di film ini. Sebut saja Ari K Untung, Bunda Asma Nadia, Peggy Melati Sukma, Irfan Hakim dan lain-lain. Berasa lagi nonton parade para artis terkenal pada peristiwa 212. Haha.

Good job buat sineas-sineas muslim yang melahirkan karya fenomenal serupa film 212 : The Power of Love. Katanya sih film ini laris manis di berbagai kota. Kemarin sewaktu Molzania nonton, ada 2/3-lah bangku bioskop terisi. Molzania nontonnya kan pada hari dan jam kerja. Bisa dimakluminlah. Akhir kata, Semangat menembus 7 juta penonton !! ^_^

Molzania.com merupakan blog pribadi milik Firsty Ukhti Molyndi. Memiliki hobi menulis sejak kecil. Blog ini sebagai sarana menyalurkan minat dan aspirasinya.