Memahami Generasi Z Lewat Film "My Generation"

Dunia remaja merupakan masa-masa pencarian jati diri. Krisis PD, pubertas, dan kelabilan jiwa kerap mereka alami. Tak jarang ini menimbulkan apa yang disebut orang dewasa sebagai pemberontakan dan pembangkangan terhadap norma-norma sosial di masyarakat. Padahal mungkin saja itu semua diakibatkan oleh rasa keingintahuan dan eksistensi diri yang berlebih.
Memahami Generasi Z Lewat Film "My Generation"
Banyak orang tua yang terlalu khawatir dengan tingkah polah remaja mereka. Jadi mereka memberlakukan banyak larangan-larangan yang justru membuat remaja menjadi tertekan. Kebanyakan remaja pasti pernah melakukan banyak hal konyol. Kekonyolan mereka ini terkadang bisa disalahartikan oleh orangtua seperti yang digambarkan lewat film "My Generation". Film My Generation merupakan film yang diadaptasi dari problematika yang sering dialami oleh orangtua dan anak remaja zaman sekarang. 

Penasaran? Sama Molzania juga. Sebelum menonton filmnya di bioskop, mending tonton dulu trailernya disini:


Bercerita tentang ulah konyol 4 sekawan dalam proses pencarian jati diri. Mereka adalah Orly, Suki, Zeke dan Konji. Suatu hari mereka membuat video protes kepada para guru-guru, orangtua dan pihak sekolah. Video tersebut menjadi viral dan mereka berempat pun dihukum. Hukumannya mereka tidak dapat ikut studi tur saat liburan sekolah. Mereka lalu memutuskan untuk 'liburan' dengan cara mereka sendiri. Tak dinyana liburan yang dialami mereka berempat menjadi suatu hal yang tidak terduga, namun sarat akan makna dan pengalaman baru.


Apa yang coba ditengahkan dalam film ini merupakan potret kehidupan remaja masa kini yang lebih dikenal dengan sebutan Generasi Milenial atau Generasi Z (Gen Z). Dibandingkan dengan generasi X dan Y, tentunya generasi Z ini lebih kompleks karena mereka hidup dimana teknologi canggih sudah berkembang. Para tokoh remaja yang digambarkan dalam film ini hadir karakteristik dan jalan ceritanya masing-masing.

Hal yang unik lainnya dari Film "My Generation" ini dibintangi oleh pendatang baru yang belum pernah memiliki pengalaman berakting seperti Bryan, Alexandra Kosasie, Lutesha, Arya Vasco. Mereka semua akan beradu akting dengan sejumlah pemain senior seperti Surya Saputra, Indah Kalalo, Ira Wibowo, Tyo Pakusadewo, Karina Suwandhi, Aida Nurmala dan Joko Anwar. Tambahan lainnya, film ini disutradarai oleh sutradara kawakan Upi Avianto yang sudah malang melintang di dunia perfilman. Lewat tangan dinginnya sejumlah film Indonesia beken pernah dibuat, seperti Realita Cinta dan Rock & Roll, My Stupid Boss dan 30 Hari Mencari Cinta. Rencananya film ini akan tayang di bioskop pada tanggal 9 November 2017.



Penggambaran yang dibuat dalam sekilas teaser diatas memang terkesan vulgar. Pergaulan bebas dan perilaku menyimpang selama ini seringkali dianggap tabu oleh masyarakat. Tapi ini adalah kenyataan pelik yang harus dihadapi oleh orangtua. Bagaimana sebaiknya sikap para orangtua selaku orang dewasa menjadi pertanyaan yang harus kita jawab bersama untuk menghadapi ego remaja yang meledak-ledak.

Mungkin ada beberapa adegan di film ini yang penuh dengan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan adat ketimuran. Namun lewat film ini, kita akan diajak untuk lebih berpikir terbuka bahwa situasi ini benar-benar ada di luar sana. Bukan malah ikut-ikutan menghujat ataupun mendiskreditkan para remaja yang tersesat tersebut, melainkan memikirkan solusi untuk mengarahkan para generasi muda lebih baik lagi.



Film ini tidak hanya layak ditonton oleh remaja, namun juga para orangtua. Sebaiknya juga ketika menonton, remaja didampingi oleh orangtuanya masing-masing. Lakukan kegiatan pendampingan  sembari berdiskusi mengenai apa pendapatnya. Bagaimanapun untuk lebih memahami dunia remaja, orangtua harus melakukan pendekatan secara langsung. Salah satu caranya ialah dengan melihat dan memahami apa yang sedang "trending" saat ini. Dan film ini secara tidak langsung akan mengajarkan para orangtua tentang cara mendidik anak mereka yang tentunya berbeda dari apa yang mereka terima dulu.

"Parents tend to forget, they were once teenagers, too." 
"Orangtua cenderung lupa, mereka dulu pernah menjadi remaja."

Tugas pokok orangtua ialah memberikan teladan. Bahkan Rasulullah saja memberikan contoh berupa akhlak yang baik untuk menghadapi kejahilan (bodoh, bahasa Arab, red) ummatnya. Bagaimanapun anak merupakan cerminan pribadi orangtuanya. Ingin punya anak yang berakhlak mulia? Dimulai dari diri sendiri dong ah...

Molzania.com merupakan blog pribadi milik Firsty Ukhti Molyndi. Memiliki hobi menulis sejak kecil. Blog ini sebagai sarana menyalurkan minat dan aspirasinya.