cang nyiat pan
Kuliner

Tradisi Cang Nyiat Pan, Tradisi Cap Go Meh dari Singkawang

Seru!! Itulah kata yang Molzania jeritkan ketika melihat tradisi cang nyiat pan yang merupakan tradisi cap go meh dari Singkawang, Kalimantan Barat. Dikarenakan situasi pandemi, Molzania berkesempatan ikut webinarnya saja yang diadakan oleh tim Aksara Pangan. Acara Seri Gastronomi Indonesia ini diadakan pada tanggal 24 Februari 2020 lalu.

Lewat webinar, Molzania mengenal dari dekat budaya gastronomi tionghoa yang berkembang di Indonesia. Webinar ini dihadiri oleh 3 orang narasumber yaitu, Chef Wira Hardiansyah (IG: @Wirahardiansyah2.0), Bapak Dr. Hasan Karman SH.MM (IG: @hasankarman_) , dan Chef Meliana Christanty (IG: @melianachristanty). Mereka ini boleh dibilang pakar budaya dan kuliner tionghoa.

 

Menariknya kita nggak cuma ngomongin soal perayaan Cang Nyiat Pannya aja. Tapi juga ngomongin soal kuliner kebanggaan masyarakat tionghoa saat perayaan cap go meh. Namanya saja bagian dari gastronomi kan ya? Pastilah ngobrolin soal makanan juga. Baru kali ini deh Molzania ikutan webinar, tapi berasa kenyang soalnya dikenalkan berbagai kuliner yang sedapp.

By the way, apa sih itu gastronomi? intinya tuh ilmu yang membahas soal makanan dari budayanya. Ilmu gastronomi termasuk hal baru yang bagi Molzania pribadi menarik untuk dipelajari. Sendirinya, Molzania juga seorang pecinta makanan. Bahkan punya Youtube juga yang berisi tutorial masakan khas Palembang. Jadi, kenapa tidak membawa kecintaan kita itu menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar icip-icip?

Unik ya? Iya unik banget. Makanya Molzania sangat bersedia dan excited untuk ikutan acaranya. Alhamdulillah. terpilih menjadi perwakilan blogger asal Palembang. Bagian dari hikmah pandemi, banyak ikutan acara online yang keren. Jarak bukan lagi alasan untuk mencari ilmu. Paling ya tinggal koneksi inetnya saja nih yang suka buat masalah. Hehehe..

Asal Usul Tradisi Cang Nyiat Pan

Tradisi Cang Nyiat Pan merupakan bagian dari perayaan Cap Go Meh yang berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat. Kata Cang Nyiat Pan berasal dari bahasa Hakka dapat diartikan sebagai festival yang jatuh pada pertengahan bulan pertama. Konon festival ini sudah dirayakan di China daratan sejak masa dinasti Han (diperkirakan 202 SM-220 masehi).

Baca Juga:  Review Zott Monte Snack Pudding dari Jerman

tradisi cang nyiat pan tradisi cap go meh singkawang

Festival Cang Nyiat Pan sering diidentikkan dengan makanan tang yuan yang dalam masyarakat Indonesia dinamakan wedang ronde. Ternyata masyarakat tionghoa di China daratan suka sekali memakan wedang ronde saat cuaca dingin. Nah saat mereka bermigrasi ke Indonesia, orang tionghoa membawa serta budayanya ke negeri ini. Lantas berasimilasi dengan penduduk lokal Indonesia selama berabad-abad.

Tahu nggak kenapa orang Tionghoa bisa sampai di Kota Singkawang? Ternyata sejarah Cap Go Meh ada kaitannya dengan Kesultanan Sambas pada masa kerajaan dulu. Konon kabarnya, sultan Sambas mendatangkan langsung orang-orang tionghoa untuk bekerja di area pertambangan. Kebiasaan orang tionghoa yang suka bermigrasi lantas memilih tinggal di bumi pertiwi.

Cang Nyiat Pan atau Cap Go Meh diperingati sebagai hari penutup dari perayaan tahun baru. pada malam ke 15 bulan pertama. 

Festival Imlek Perayaan Bagi Tiga Agama

Tradisi Cang Nyiat Pan di Singkawang berlangsung meriah. Tak heran karena banyak penduduk peranakan tionghoa yang tinggal di sana. Sesungguhnya acara Cap Go Meh ini merupakan perayaan bagi tiga agama yaitu buddhisme, taoisme, dan confucianisme. Acara Cang Nyiat Pan ini berlangsung pada malam hari. 

festival cang nyiat pan di singkawang

Saat perayaan Cang Nyiat Pan, masyarakat Singkawang menyaksikan bulan purnama sembari melihat tarian naga dan atraksi barongsai. Mereka semua berkumpul bersama dalam suasana kekeluargaan. Pada perayaan tersebut juga terdapat festival kuliner dimana orang-orang bisa menyantap sajian khas Imlek.

Kalau di kota Palembang, perayaan Cap Go Meh biasanya berpusat di Pulau Kemaro. Tapi di Singkawang, karena mayoritas suku tionghoa tinggal di sana, mereka merayakan Cang Nyiat Pan di seluruh kota secara meriah. Akan sangat menyenangkan, jika bisa melihat secara langsung pastinya. Atmosfernya pasti beda sih daripada cuma di slide webinar. Tapi sebagaimana suasana imlek di Palembang, Molzania membayangkan warna merah mendominasi kota.

Baca Juga:  Pempek Palembang Jumbo Enak dan Murah Meriah

Tatung Penolak Bala yang Kesurupan Roh Dewa

Festival Cang Nyiat Pan tidak lengikap tanpa kehadiran para tatung yang menyemarakkan suasana. Apa itu tatung? Tatung boleh dibilang semacam orang pintar atau dukun. Mereka disucikan karena dianggap sebagai manusia pilihan para dewa. Para tatung itu menggelar upacara menolak bala guna membersihkan seantero kota dari energi negatif.

Menariknya saat upacara berlangsung, para tatung akan berada dalam kondisi tidak sadar. Dengan mengucapkan mantra-mantra tertentu, mereka akan kerasukan roh para dewa. Percaya nggak percaya aja sih. Molzania sendiri menggapnya sebagai bagian dari seni budaya semata. Aslinya sih para tatung itu hanyalah manusia biasa sama kayak kita. Bapak Hasan Karman juga bercerita kalau ia punya teman “tatung” yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Hehehe..

pawai tatung cang nyiat pan

Molzania lantas bertanya-tanya apa ada kriteria khusus untuk menjadi seorang tatung? Ternyata tatung itu merupakan hal yang dapat kita dipelajari. Menurut Bapak Hasan Karman. ada tiga jenis untuk memperoleh keahlian menjadi tatung. Pertama berasal dari keturunan, artinya mereka belajar dari orangtuanya. Kedua, tatung yang sengaja berguru di Kelenteng. Nah yang ketiga adalah mereka yang secara tidak sengaja mendapatkan keahlian tatung. Entah dari mimpi, yang biasanya saat ditolak dia akan sakit. Begitulah kepercayaannya. Hehehe

Sekilas jadi mengingatkan Molzania sama atraksi kuda lumping dimana pemainnya juga kesurupan. Mirip-mirip ya budaya di negeri ini. Nantinya para tatung ini nantinya pada hari puncak perayaan imlek, para tatung akan berkeliling kota dan melakukan ritual sembahyang di kelenteng Tridarma Bumiraya, vihara tertua yang terletak di tengah kota Singkawang.

lelang cang nyiat pan

Di akhir acara, sesajen yang menjadi bagian dari ritual sembahyang kepada kaisar langit akan dilelang. Nah hasil lelangnya itu akan didonasikan kepada para tatung. Pelelangan sesajen itu bertujuan untuk membawa keberkahan menurut kepercayaan tionghoa.

Merindu Kampung Halaman Lewat Masakan Khas Peranakan

Saat perayaan tradisi Cang Nyiat Pan, keluarga peranakan menyajikan ragam masakan tionghoa. Kuliner tersebut menjadi semacam comfort food (sajian kampung halaman) yang dirindukan setiap tahunnya. Acara makan dihadiri oleh keluarga besar secara kekeluargaan. Di Singkawang sendiri, terdapat banyak sekali kuliner peranakan yang menjadi jargon dalam tradisi Cang Nyiat Pan.

Baca Juga:  Kulineran di Kota Angin Nganjuk, Yuk!

Tradisi makan kekeluargaan seperti ini mengingatkan Molzania dengan tradisi ngobeng yang ada di Palembang. Bedanya dalam tradisi Cang Nyiat Pan, terdapat delapan hidangan utama dan hidangan pendamping. Totalnya ada sepuluh hidangan.

kuliner khas tionghoa

Aneka kudapan, nasi dan buah-buahan urut disajikan. Beberapa diantaranya sound familiar dengan kami yang tinggal di Palembang. Ternyata Singkawang juga mengenal dodol, lapis legit, sagu keju, lempok dan bahkan tempoyak. Adapun buah-buahan, biasanya ada jeruk pomelo dan jeruk mandarin.

Seperti halnya ngobeng, satu keluarga biasa mengadakan acara masak-masak bersama. Ada anggapan di masyarakat mereka yang makan di luar saat imlek justru mereka yang tidak punya keluarga (orang asing). Makanya masakan rumahan kemudian menjadi ciri khas kuliner Kota Singkawang. Akibatnya menjamur pula restoran – restoran yang menyajikan masakan rumahan. Hal ini pada akhirnya menjadi komoditas lokal yang menarik wisatawan.

Beberapa makanan peranakan aman untuk muslim konsumsi. Biasanya terdiri dari sayur-sayuran dan berbagai seafood. Namun banyak pula yang mengandung bahan-bahan haram seperti babi dan arak. Biarpun demikian tetap ada cara untuk mensiasatinya yaitu tidak menggunakan bahan-bahan yang haram tersebut ketika memasak. Meski diakui oleh Bapak Hasan mungkin rasanya akan berbeda dengan aslinya. (Nggak papa, yang penting bisa makan senang, hehehe xD)

Kesimpulan

Tradisi Cang Nyiat Pan merupakan pengetahuan baru bagi Molzania. Lewat webinar ini, Molzania jadi lebih mengenal ragam budaya yang ada di Indonesia. Acaranya berlangsung selama kurang lebih dua jam, tapi isinya daging banget. Terima kasih kepada tim Aksara Pangan atas acara yang keren banget ini. Ditunggu webinar gastronomi berikutnya!

Bagi kalian yang ketinggalan, bisa nonton ulang di sini:

Sebenarnya masih banyak hal yang mau Molzania ulas mengenai webinar ini. Jika sobat tertarik, mungkin ke depannya akan Molzania buat dalam beberapa part. Tulis komennya di bawah ya, utarakan mengenai pendapat kalian.  ^^

172 Views

3 Komentar

Tinggalkan Balasan