Thursday, August 24, 2017

Pengalaman Sekolah Swasta dan Negeri di Kota Palembang dari Perspektif Anak Spesial

Posted by with 6 comments
Berbicara tentang masa-masa sekolah, ada saja cerita yang menarik. Salah satu tema yang selalu menarik untuk dibahas ialah pengalaman sekolah negeri vs sekolah swasta. Kali ini Molzania akan membahas hal tersebut dari sudut pandang pengalaman Molzania bersekolah negeri dan swasta di Kota Palembang sebagai anak berkebutuhan khusus. Walaupun kondisi Molzania tidak sama dengan yang lain, tetapi orangtua Molzania memutuskan untuk memasukkan Molzania ke sekolah umum. Disini Molzania pun banyak mengalami suka duka.

Pengalaman Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri di Kota Palembang
bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Bercerita sedikit tentang true story Molzania, dulu sekali antara rentang tahun 1992-1995, Molzania tumbuh normal seperti kebanyakan anak lain. Memasuki usia 3 tahun, Molzania lantas disekolahkan oleh ayah dan mimi di TK swasta dekat rumah yaitu TK Barunawati Palembang. Namun, saat itu Molzania hanya sempat bersekolah selama kurang lebih 3 bulan. Itupun juga sering bolos karena Molzania sendiri anaknya sakit-sakitan. 

Selama kurang lebih 3 bulan bersekolah sebagai anak "normal", tentu saja Molzania bersemangat sekali. Sejak TK, Molzania sudah sangat aktif kalau ada event di kelas. Namun masa-masa indah itu harus diakhiri, ketika Molzania sakit. Kali ini bukan sakit biasa, Molzania menderita penyakit radang otak yang membuat hidup Molzania berubah 180 derajat. Penyakit itu menimbulkan gejala sisa yang membuat Molzania harus menjalani hidup sebagai seorang tuna daksa.

Udah Lupa-Lupa Ingat Seragamnya. Tapi Sepertinya sih Kaya Gini.
Source: Curvetube 
Melihat kenyataan tersebut, mama Molzania lantas bingung ingin memasukkan Molzania ke SD yang mana. Akhirnya dipilihlah sebuah SD Madrasah Ibtidaiyah (MI) Adabiyah 2 Palembang. FYI, Molzania dulu satu sekolah tapi beda beberapa angkatan dengan Dian Pelangi. Alasan mama memilih sekolah itu ialah agar Molzania tidak merasa berbeda dari anak-anak normal yang lain. Pertimbangan lainnya itu termasuk sekolah religius jadi Molzania akan lebih banyak belajar tentang agama Islam. Selain itu lokasinya lagi-lagi dekat rumah. 

Seragam Putih - Hijau Tak Terlupakan
Source: Batam Today
Dulu mama sebelum aku masuk SD, sempat konsultasi dengan pihak sekolah YPAC Palembang. Kata mereka kalau anaknya merasa betah dan nyaman, tidak apa-apa bersekolah di sekolah umum. Di sekolah umum, mereka akan lebih bisa beradaptasi dengan anak-anak normal lainnya. Atas dasar itulah, mama pun optimis menyekolahkan Molzania di sekolah biasa.

Jadilah akhirnya Molzania bersekolah sekolah swasta religius selama beberapa tahun. Disana Molzania tidak merasa kesulitan untuk berbaur dengan anak-anak lain. Meskipun Molzania sendiri sering pula menjadi korban bullying. Tentang ini kapan-kapan akan Molzania bahas di lain kesempatan. Hingga kelas 3 SD, Molzania masih ditungguin mama di sekolah sebagai langkah preventif. Beranjak kelas 4 SD, Molzania tidak lagi ditunggu karena mama repot mengurus adik.

Ini baru area depannya saja.  Sekolahnya sampe ke belakang.
Dulu itu disini ruang kelas 4 dan 5.
Source: Sekolah Kita
Bersekolah disana ada satu hal yang disayangkan oleh mama. Mungkin memang latar belakang teman-teman Molzania bukan golongan yang berada, anak-anak disana suka ngomong kasar. Hal itu sempat terbawa-bawa Molzania sampai ke lingkungan dirumah. Waktu kecil, Molzania suka dimarahin tuh kalo kedapatan ngomong kasar. Padahal sih Molzania kurang tahu juga artinya apaan. Tapi karena sering diomongin temen-temen di sekolah, otomatis Molzania ikut-ikutan. Hehe.

Memasuki kelas 6 SD, Molzania terpaksa harus pindah dari sekolah asal. Hal itu dikarenakan ternyata tidak ada satupun kelas 6 SD yang berada di lantai dasar. Semua kelas 6 berada di lantai dua. Otomatis Molzania jadi kesulitan naik tangga. Akhirnya dengan pertimbangan itu, Molzania diputuskan untuk pindah sekolah.

SD Bina Warga Palembang
Mama kelimpungan lagi mencari sekolah untuk Molzania. Untungnya di dekat rumah, ada satu sekolah swasta negeri yang cocok. Semua kelasnya berada di lantai dasar. Jadilah Molzania bersekolah disana. Perpindahan sekolah dari swasta religius ke sekolah swasta negeri membuat Molzania harus beradaptasi. Termasuk dalam hal pelajaran yang sama sekali berbeda. Di sekolah lama, Molzania belajar Bahasa Arab saja. Tidak ada pelajaran Bahasa Inggris sama sekali. Akan tetapi di sekolah baru, mereka sudah diajarkan Bahasa Inggris sejak kelas 4 SD. Tentu Molzania sangat kesulitan dong belajar suatu bahasa yang benar-benar baru.

Solusinya kemudian Molzania ikut kursus Bahasa Inggris. Molzania betul-betul belajar dari awal waktu itu. Masih ingat ketika baru kursus Bahasa Inggris beberapa minggu, tiba-tiba disuruh ikut Try Out yang ada pelajaran Bahasa Inggris. Boro-boro paham, Molzania malah kesulitan dalam menjawabnya. Akhirnya nilai Bahasa Inggris Molzania dapat nol. Dan itu adalah kali pertama Molzania dapat nilai nol dan paling memalukan.

Sempat Terkendala dalam Belajar Bahasa Inggris
Source: FunkyZach
Di sekolah baru, Molzania memiliki teman-teman dari banyak agama. Dulu sewaktu masih di madrasah, semua teman Molzania beragama Islam. Tetapi di sini, Molzania punya teman-teman dari 5 agama. Ada yang beragama Hindu, Buddha, Kristen dan Katolik. Islam masih menjadi mayoritas tentu saja. Selama ini Molzania hanya tahu tentang agama-agama tersebut dari pelajaran PPKn saja. Mengenal mereka semua membuat Molzania belajar mengenai arti toleransi.

Tidak terasa masa-masa SD sudah dilalui dengan begitu banyak suka maupun duka. Pada saat kelulusan SD, tadinya Molzania mau masuk ke sekolah SMP Negeri sesuai Rayon, tapi ternyata tidak jadi. Alasannya dikarenakan mama Molzania tidak mau lagi menghadapi penolakan sebagaimana saat SD dulu. Akhirnya Molzania bersekolah di SMP Bina Warga Palembang. Disini Molzania sehari-hari menyewa pengasuh untuk menemani Molzania di sekolah.

Spot Tangga Angker di SMP Bina Warga Palembang.
Di ujung tangga ada ruang kelas 1 SMP Molzania.
Source : Smabinawarga1
Tiga tahun Molzania melewati jenjang SMP dengan begitu banyak keistimewaan. Molzania bertemu dengan guru-guru dan teman-teman yang amat mengerti dengan kondisi Molzania. Disini pihak sekolah memberikan Molzania kelas selalu di lantai dasar. Sementara saat pelajaran olahraga, Molzania diijinkan untuk berdiam diri di kelas. Namun sebagai gantinya, Molzania disuruh untuk membuat tugas tersendiri.

Sewaktu tamat SMP, Molzania ingin sekali masuk ke sekolah negeri. Perasaan bosan di sekolah swasta menghinggapi Molzania. Maka Molzania pun nekat untuk ikut tes masuk PPDB SMA Negeri. Alhamdulillah, Molzania lolos dan impian Molzania pun terkabul. Molzania resmi menjadi salah satu dari siswa SMU Negeri 18 Palembang. Dulu sebuah kebanggaan di antara teman-teman, bisa lolos tes masuk sekolah negeri yang terkenal susah untuk ditembus. Untuk bisa tembus kesana, Molzania harus mengalahkan ratusan siswa lain dari sekolah yang berbeda-beda.

Suasana SMAN 18 Palembang
Pengalaman ini menjadi suatu kenangan tersendiri. Hal pertama yang Molzania rasakan ketika masuk di SMU Negeri ialah memiliki teman-teman dari SMP yang bervariasi. Bahkan beberapa diantaranya berasal dari SMP luar Palembang. Disini lagi-lagi Molzania diberi kelas selalu di lantai dasar. Akan tetapi saat penjurusan, Molzania lebih memilih masuk kelas IPS karena ruang laboratorium berada di lantai dua. 

Di sekolah negeri, dalam hal biaya spp terbilang lebih murah. Pada saat Molzania sekolah dulu, biayanya kurang dari Rp. 100.000 per bulan. Bahkan saat kelas 3 SMU, Molzania sempat merasakan program sekolah gratis yang diberikan oleh Pemprov Sumatera Selatan. Saat itu buku-buku cetak dipinjamkan dari pihak sekolah untuk dibawa pulang kerumah. Akan tetapi untuk beberapa buku mata pelajaran yang tidak tersedia secara gratis, kita harus beli sendiri di toko buku.

Gambar Masih Comot Google
Source: Pixabay
Maaf ya sobat foto-fotonya masih comot dari Google. Belom sempat mengubek-ubek album foto jadul xixii... Lagian dulu sewaktu masih bersekolah, Molzania jarang sekali foto-foto bareng temen. Lagian saat itu belum ada budaya selfie seperti masa sekarang. Jadi foto-fotonya akan terbatas pula nantinya. Insya Allah, begitu foto-fotonya ketemu nanti, langsung Molzania post di blog. Muehehee...

*tulisan diikutsertakan dalam event Collaborative Blog "Komunitas Emak Blogger" Kelompok Dian Sastro dengan trigger post "Pilih Sekolah Negeri atau Swasta" karya Mei Wulandari #KEBBloggingCollab 

6 comments :

  1. Wah Molzania bisa merasakan 2 sekolah negeri dan swasta ya. Seru hh punya pengalaman di dua sekolah berbeda. Meskipun begitu, tiap sekolah memang punya kenangan ya mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih perbedaan sekolah negeri dan swasta sama saja sih. Hanya saja kalo di negeri sini lebih prestise soalnya masuknya susah. :)

      Delete
  2. PR banget nih buat aku nanti
    soalnya aq termasuk yg galau juga soal sekolahan
    adakan perang sama neneknya hahaha
    makasih sharingnya ya mak
    salam kenal dan ttp semangat post kolaborasinya

    ReplyDelete
  3. Kisah pengalaman sekolahnya penuh tantangan ya mbak.

    Tapi semua bisa dilewati dengan baik.

    ReplyDelete

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...