Sunday, August 20, 2017

5 Pepatah dan Peribahasa Wong Palembang Jaman Dulu

Posted by with 6 comments
Masih dalam rangka ingin mengenalkan kota Palembang, Molzania mau memperbanyak postingan tentang wong plembang. Bolehlah berbangga sedikit mengenai kota kelahiran Molzania ini. Secara kota Palembang bakal mengadakan event internasional berkelas Asia tahun depan. Bangga? Pasti. Ini membuktikan bahwa Palembang bukan lagi kota yang dipandang sebelah mata. Pembangunan sedang dilakukan besar-besaran disini.

Pepatah-Pepatah dan Peribahasa Wong Palembang Lama
Lupakan sejenak tentang Palembang modern. Mari kita flashback sejenak. Berbicara tentang Palembang, tak asik rasanya jika tidak membicarakan kisah jaman dulu. Palembang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan melayu. Kebudayaan ini terkenal dengan kesastraannya yang mempunyai ciri khas tersendiri. Sebagaimana kesusastraan melayu, Palembang juga memiliki istilah-istilah peribahasa yang sekarang sudah mulai ditinggalkan. 

Berikut ini Molzania rangkum beberapa peribahasa Palembang zaman dahulu yang mungkin sudah tidak familiar lagi saat ini. Pepatah ini bersumber dari nenek Molzania yang sampai saat ini masih sering berkata-kata dengan menggunakan peribahasa ala Palembang bingen. Palembang bingen artinya Palembang tempo dulu. Tulisan ini juga dibuat sebagai pelestarian tentang sastra Palembang. 

Berikut peribahasa Palembang zaman dahulu :

1. Mak Kapur samo Kunyit 

Artinya seperti kapur dan kunyit. Peribahasa ini untuk menggambarkan dua orang yang persahabatannya sangat erat. Istilah ini merupakan pengamalan dari Kapur dan kunyit yang bila dipadukan keduanya akan menghasilkan

Kapur dan Kunyit
Source: Info-Kecantikan
2. Mak kayo Tata Catok 

Artinya seperti "tata catok". Peribahasa iniuntuk menggambarkan orang pemalas. Tata catok sendiri berarti palu yang dipukulkan pada paku. Maksudnya orang pemalas biasanya tak banyak inisiatif. Harus digertak dulu, baru bekerja. 

Paku dan Palu
Source: Pixabay
3. Tikus Nandani Labu 

Artinya seperti tikus yang mendandani labu. Peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memperbaiki sesuatu tapi malah bertambah rusak. Tikus ialah hewan pengerat, tidak mungkin ia bisa menghias labu. 

Tikus dan Labu
Source: mulpix.com
4. Saro Ngawak Dako

Artinya susah membawa dengkul. Peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan kehidupan seseorang yang mengalami kesulitan yang berlipat-lipat. Bisa juga untuk menggambarkan kehidupan seseorang yang sangat miskin, sehingga orang itu saking miskinnya sampai membawa dengkul sendiri pun susah. 

Ilustrasi Orang Miskin
Source: Pixabay
5. Dandang Tejerang, Kasur Terbentang 

Artinya dandang (peralatan dapur untuk mengukus) sudah disi air, dan kasur telah terbentang. Peribahasa ini untuk menggambarkan seorang wanita yang mendapat jodoh yang mapan. Hidupnya berubah menjadi serba enak. Kalau ingin memasak, dandangnya sudah siap. Kalau ingin tidur, kasur sudah tersedia.  

Kehidupan Wanita Kaya
Source: Pixabay
Itulah peribahasa-peribahasa khas Palembang bari. Mudah-mudahan bermanfaat bagi sobat bubblelatte yang ingin mengenal lebih dekat dengan budaya Palembang. Adakah peribahasa dengan arti yang sama seperti diatas di tempat kalian berasal? Yuk sharing di kolom komentar! Salam Hangat dari Molzania .. ^_^

6 comments :

  1. eh nandani mirip bahasa jawa ndandani
    asyik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasa Palembang mirip2 bahasa jawa memang hihii

      Delete
  2. dari postingan ini jadi kepikiran buat ngenalin kota Pekanbaru juga mbak. makasih sharingnya mbak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus dong mbak siapa lagi yang ngenalin kota sendiri kalo bukan kita? :D

      Delete
  3. Wah ide bagus nih, kalau bukan wong kito siapo lagi yang nak ngenalko kota awak, hehe
    salam kenal

    ReplyDelete

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...