Thursday, July 20, 2017

Belajar dari Dua Legenda Dua Negara: Putri Hase vs Putri Kandhita

Posted by with No comments
Hari ini Molzania akan menceritakan ilmu yang Molzania dapat dari event Jakarta Foundation beberapa waktu lalu. Untuk cerita lengkapnya baca saja artikel mengenai "Nobar Film The Daughters". Disini, Molzania akan bercerita mengenai kisah Putri Hase dan Putri Kandhita saja, agar kalian lebih memahami isi cerita dari film tersebut.

Legenda Putri Hase dari Jepang
Sumber : Pixabay
Cerita diawali dengan pemaparan legenda Putri Hase dari Jepang. Legenda yang menurut Molzania cukup menguras air mata. Putri Hase merupakan putri bangsawan asal prefektur Nara, Jepang yang baik hati dan cantik jelita. Sebagaimana halnya putri bangsawan, putri Hase dididik dan diperlakukan layaknya putri raja. Meskipun begitu, Putri Hase tumbuh menjadi gadis yang baik hati dan berbakat membuat puisi. Konon puisinya sampai bisa menghentikan bencana di Jepang. Tak hanya itu, Putri Hase juga piawai bermain alat musik tradisional Koto.

Sayangnya, ibu tiri dan saudara-saudaranya iri dengan kehidupan Putri Hase yang bergelimang kasih sayang sang raja yang menjadi ayahnya. Mereka pun bersengkokol untuk mengusir putri dari Istana. Ibu tirinya menghasut putri Hase untuk keluar dari istana. Dia berkata sang ayah merasa risih dengannya dan memintanya untuk meninggalkan istana. Dengan sedih Putri Hase pun pergi dari istana.

Ilustrasi Putri Hase Tersesat
Sumber : Pixabay
Putri Hase mengembara seorang diri. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Sampai suatu ketika, Putri Hase merasa sangat lelah dan bersandar di pinggir tebing. Putri Hase jatuh tertidur. Dalam mimpinya ia bermimpi tentang ibu tirinya yang menyuruhnya melompat dari tebing agar bisa kembali mendapatkan kasih sayang sang ayah.

Ada dua ending legenda Putri Hase yang dikisahkan; Putri Hase meninggal bunuh diri lompat dari tebing; kedua putri Hase ditemukan dalam keadaan selamat oleh ayahnya, sang ibu tiri dihukum, dan Putri Hase hidup bahagia. Pada event film "The Daughters" kemarin, ending yang dipilih penulis ialah ending yang kedua.

Bunga Simbol Kesedihan
Sumber : Pixabay
Tak berbeda jauh dengan Putri Hase, kehidupan Putri Kandhita juga bak Cinderella. Sang ibu tiri dan saudara-saudaranya yang lain mencoba untuk menyantetnya. Akibat dari perbuatan itu, Putri Kandhita pun mengalami sakit kulit yang parah. Segala obat yang diminumnya tak ada yang mempan. Hingga akhirnya, ia pun dihasut oleh sang ibu untuk pergi meninggalkan istana karena takut tertular.

Di tengah perjalanan tak tentu arah, putri Kandhita bermimpi bahwa ibunya menyuruhnya untuk melompat ke laut. Ia disuruh untuk melompat ke laut agar terbebas dari penyakit kulit yang dideritanya. Didorong oleh keinginannya untuk sembuh dan kerinduan yang mendalam pada ayahnya, putri menuruti perintah tersebut. Ia pun terbebas dari penyakit, namun tak lagi berwujud manusia. Putri Kandhita menjelma menjadi Nyi Roro Kidul, ratu pantai selatan.

Jelmaan Putri Kandhita : Nyi Roro Kidul
Sumber : zonasejarahkita
Kalau Molzania perhatikan, terdapat dua kesamaan yang terdapat pada cerita tersebut. Sang tokoh karakter utama meninggal bunuh diri. Hal ini lebih dikarenakan mereka berdua mudah merasa putus asa. Tentu saja ini sangat tidak baik. Padahal bisa saja mereka berdua justru memiliki kisah yang berakhir happy ending seperti halnya Cinderella. Walaupun memiliki ibu tiri yang sama-sama jahat, Cinderella tetap sabar hingga akhir. Kesabarannya berbuah manis dengan kehadiran pangeran yang dipersuntingnya.

Kisah ending Putri Hase dan Putri Kandhita tidak layak untuk ditiru. Bagaimanapun bunuh diri bukanlah jalan pintas untuk mengentaskan masalah. Pada hakikatnya, Allah SWT tidak memberikan cobaan diluar batas kesanggupan hamba-hambaNya. Jadi serumit apapun masalah jika kita mencoba untuk menahannya sedikit saja, solusi pun akan datang. Sebagai seorang muslim, kita wajib berikhtiar dan berdoa.

Bunuh Diri bukan Solusi
Sumber : Pixabay
Memang bagi bangsa Jepang yang merupakan penganut agama Shinto, bunuh diri sudah merupakan tradisi. Mereka mengenal berbagai istilah bunuh diri. Baik itu Seppuku, Harakiri, Ningen Gyorai, dll. Menurut harian Liputan6.com, alasan utama yang mendasari seseorang untuk bunuh diri ialah rasa malu. Kalau di masa lalu, setia pada majikan dan malu karena kalah perang, pada era modern rasa malu itu berubah pada perusahaan dan malu jika namanya tercoreng. Tak heran angka bunuh diri di Jepang tertinggi di dunia (sumber: Kompas).

Jepang bukan bangsa muslim jadi wajar saja. Itu sudah merupakan bagian dari tradisi yang tidak bisa dipisahkan. Yang bikin nggak wajar jika ada seorang muslim melakukan hal serupa. Bangsa Indonesia tidak mengenal tradisi bunuh diri karena Indonesia merupakan bangsa pejuang. Segala sesuatu yang kita lakukan untuk mendapat perhatian manusia lain terutama terkait dengan ibadah sebutannya riya'. Semestinya kita meniatkan segala hal yang kita lakukan hanya karena Allah.

Tradisi Bunuh Diri di Jepang
Sumber : Asian Wiki
Ingat kisah "penggembala kambing dengan anaknya"? Awalnya mereka berdua berusaha untuk menuruti apa kata orang. Pada akhirnya mereka kebingungan sendiri karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa memenuhi keinginan semua manusia. Hikmah yang bisa diambil ialah segala masukan baik berupa kritikan maupun saran itu sebaiknya difilter terlebih dahulu. Pilih-pilih mana yang membangun; kalau tidak membangun isinya berupa caci maki sebaiknya tinggalkan saja.

Jatuh dan gagal berkali-kali itu hal yang biasa. Masa' maunya berada di atas terus? Emang situ awan? Nggaklah. Manusia itu kadang berada di atas dan juga kadang berada di bawah. Kalau menghadapi masalah, sebaiknya dicoba untuk menghadapinya terlebih dahulu. Dalam kasus putri Hase dan putri Kandhita, mereka berdua seharusnya tak mendengarkan mentah-mentah perkataan ibu tirinya. Semestinya mereka mengonfirmasi langsung dengan sang ayah apakah ucapan ibu tirinya benar atau tidak. Bagaimanapun tidak ada satupun ayah yang tidak sayang dengan putrinya. Namun ternyata, putri Kandhita dan putri Hase lebih memilih jalan pintas yaitu bunuh diri.
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...