Monday, October 26, 2015

Ketika Hanya Allah Satu-Satunya Penolong

Posted by with No comments
Setiap malam Jumat beberapa bulan ini mama rutin mengamalkan surah Al-Kahfi. Molzania sih jarang baca hihihii... habis molzania biasanya rutin baca Al-Waqi'ah, Al-Mulk dan Yaasin doang. Supaya rejekinya lancar jaya maksudnya. Tapi kayaknya mulai minggu-minggu ini Molzania harus rutin deh baca surah adek Molzania ini. 

Kenapa? Karena Molzania sekeluarga mendapatkan musibah yang cukup mendebarkan. Berkat amalan surah Al-Kahfi mama kami sekeluarga terhindar dari musibah yang jauh lebih besar. Kejadiannya terjadi tepat dua hari yang lalu, Sabtu 26 Oktober 2015, pada waktu subuh.



Jadi ceritanya begitu azan berkumandang, ayah Molzania seperti biasa shalat di masjid. Beliau sengaja tidak mengunci pintu, karena adik Molzania bakal nyusul untuk shalat juga. Molzania sendiri sedang tidur-tiduran di kasur, sengaja menunda sebentar untuk shalat subuh. Hehehee... kebiasaan yang harus segera ditinggalkan nih... :/

Saat mama Molzania sedang shalat subuh sendirian di luar, beliau mendengar suara kresek-kresek di pagar samping tepat di sebelah kamar Molzania. Molzania sendiri gak denger apa-apa karena masih mengantuk berat. So, begitu mama selesai shalat, beliau was-was, seakan-akan diluar ada bahaya yang mengancam. 

Lalu, mama mengikuti kata hatinya untuk mengecek keadaan di luar melalui kaca jendela. Betapa terkejutnya mama ketika melihat seorang pria tak dikenal mengenakan helm dan membawa ransel berdiri di depan pintu pagar. Pria itu sedang menggoyang-goyangkan tangannya seolah-olah sedang memanggil orang lain. Mungkin saja ia sedang memanggil temannya yang bersembunyi entah dimana.

Antara percaya dan tidak, mama sempat mengira itu orang dari Zalora. Kebiasaan mama yang suka berbelanja online dengan sistem COD, buat rumah suka didatangi petugas pengantar paket. Namun yang bikin mama heran, kenapa orang ini mengantar paket pada subuh hari? Refleks mama lalu menggedor-gedor kaca jendela.

Pria itu pun terkejut. Dia langsung mengacungkan pistol hitam tepat di wajah mama. Mama yang terkaget-kaget refleks tiarap ke bawah, segera mengunci pintu, lalu mematikan semua lampu di rumah. Setelahnya mama baru memanggil anak-anaknya untuk siap siaga karena ada rampok masuk rumah.

Setelahnya bisa ditebak, kita semua ketakutan. Adek Molzania langsung mengambil parang keramat wak Pipin. Lalu berjaga-jaga di belakang pintu. Molzania dan mama satu persatu menelepon kerabat dekat yang juga tetangga dekat rumah.  Sepuluh menit rasanya seperti setahun.

Suasana terasa mencekam, tiba-tiba ada telepon yang masuk ke rumah. Segera diangkat oleh mama, dikira itu sepupu Molzania. Tak tahunya itu telepon dari si perampok. Ia tidak berbicara apa-apa di telepon, hanya ada suara jalanan. Mama semakin ketakutan segera membanting telepon itu.

Tak berapa lama tetangga sebelah menyebelah rumah memanggil-manggil nama kami di luar. Pertanda keadaan sudah aman. Jam menunjukkan pukul lima. Adik pun membukakan pintu. Diluar pintu ayah Molzania sudah menunggu kami dengan harap-harap cemas. 

Dua puluh menit yang dramatis. Tetangga dan kerabat Molzania segera menghambur ke dalam rumah  Mereka masing-masing membawa senjata. Dikira mereka kami disekap di dalam rumah. Amit-amit, innalillahi, ya Allah jangan sampai terjadi deh :(

Molzania pun buru-buru mengambil wudhu buat shalat. Mama Molzania syok berat, dia menangis histeris. Selama ini Molzania hanya mendengar insiden perampokan dari cerita orang dan koran-koran. Namun sekarang baru mengalaminya sendiri, dan itu sangat-sangat menakutkan. Alhamdulillah tak ada yang terluka, Alhamdulillah tak ada barang hilang karena keburu ketahuan.

Daerah tempat tinggal Molzania itu termasuk rawan. Jadi kemarin-kemarin bisa jadi Molzania lengah. Sekarang pengamanan harus diperketat. Psstt, hingga hari ini pun si perampok tetap menebarkan teror. Tadi siang, ia kembali menelepon. Sehari setelah kejadian tepatnya Minggu subuh kemarin pun, si perampok masih berani berpatroli sekitar rumah. Mungkin ia sedang mencari-cari korban baru ketika melihat rumah Molzania jauh lebih ketat pengamanannya. 

Ya Allah jauhkanlah keluarga kami dari musibah. Hanya Engkaulah satu-satunya yang Maha Penolong.. :'(
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...