Wednesday, January 7, 2015

Mati Rasa Saat Cuaca Buruk

Posted by with No comments
Baru-baru ini dunia penerbangan Indonesia kembali berduka. Pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura hilang kontak. Kabar terakhir pesawat ini diperkirakan jatuh di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Hingga kini, baru 34 jasad penumpang Air Asia dari total 140an penumpang yang telah ditemukan. Badan pesawat hingga kini entah berada dimana. Tentu saja ini duka bagi kita semua khususnya masyarakat Indonesia. Dikarenakan sebagian besar penumpang merupakan WNI.


Selama dua minggu belakangan, blog molzania.com tidak aktif. Itu karena pemiliknya alias Molzania sendiri sedang berlibur di tempat nenek di Kota Jakarta. Maka dari itu, Molzania punya banyak cerita yang ingin dibagi. Tapi pertama-tama, izinkan Molzania menyampaikan belasungkawa atas musibah akhir tahun 2014 yang melanda Air Asia.

Terkait hal ini, Molzania pun punya pengalaman tersendiri. Cuaca di Indonesia memang sedang tidak bagus. Dua kali terbang dengan pesawat, Molzania dua kali juga mengalami cuaca buruk, Sepanjang perjalanan, pesawat mengalami turbulensi yang sangat terasa. Pilot pun berkali-kali mengingatkan penumpang agar diam di tempat dengan sabuk pengaman yang terpasang. Lampu peringatan berulangkali dinyalakan. Padahal lama perjalanan dari Palembang-Jakarta dan sebaliknya tidak terlalu lama. Paling hanya sekitar setengah jam.

Tentunya Molzania sebagai penumpang mengalami ketakutan tersendiri. Bayang-bayang pesawat jatuh pun hinggap di kepala. Kalau sudah jatuh, maka tidak akan selamat lagi. So, sepanjang perjalanan yang Molzania lakukan hanyalah berdoa dan berdzikir. Baru kali ini Molzania mengalami cuaca buruk yang sedemikian menakutkan.

Lain berangkat, lain pula pas pulang. Molzania kemarin berangkat pesen pesawat Citilink yang mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Berangkatnya tanggal 20 Desember, beberapa hari sebelum musibah Air Asia. Nah Molzania pulangnya Minggu tadi tanggal 4 januari 2015, naik Lion Air dari bandara Soekarno Hatta.

Perasaan cemas melanda Molzania beberapa hari sebelum keberangkatan. Terbayang-bayang pesawat jatuh Air Asia yang menyeramkan. "Selamatkan kami sekeluarga, Ya Allah, " batin Molzania berdoa. Karena memang sudah jauh-jauh hari di televisi diberitakan cuaca di Indonesia rentan badai petir akibat banyaknya awan raksasa kumulo nimbus.

Pas di bandara, keberangkatan sempat didelay selama setengah jam. Alasannya tentu saja cuaca buruk. Tapi untungnya tidak berlangsung lama, penumpang pun dimasukkan ke dalam pesawat. Ternyata pesawat tidak lantas diterbangkan. Pilot mengajak kami berkeliling bandara, sembari menunggu pengawas udara memberi aba-aba. Batin Molzania bertanya-tanya, sekaligus merasa cemas.

Ditengah rasa galau, salah seorang penumpang yang duduk di kursi belakang membuka hape. Dengan asyiknya dia selfie. Mata Molzania pun langsung membesar. Ini pesawat belum terbang, masih muter-muter gini dia asik-asikan selfie. Padahal peringatan hape supaya dimatikan tatkala berada di pesawat terpampang dengan jelas. Perbuatan anda membahayakan ratusan penumpang disini, keluh Molzania. Dengan perasaan berkecamuk, Molzania menegur penumpang yang masih remaja tersebut. Untungnya dia mau menuruti permintaan Molzania.

Ini nih kelakuan penumpang abai yang mungkin masih saja ada di berbagai penerbangan Indonesia. Gak pernah dewasa dan mau peduli dengan peringatan yang sudah disediakan. Sinyal hape bisa mengganggu mesin pesawat. Akibatnya ya dialami oleh tidak hanya si penumpang abai tersebut, tetapi juga ratusan nyawa lain bisa celaka.

Kalau gak salah, pencarian korban Air Asia kemarin didapat dari pantulan sinyal hape korban yang tertangkap oleh radar kan ya? Bukan nggak mungkin kan ada penumpang abai yang seperti Molzania ceritakan diatas di pesawat itu. Duh kalau benar, bikin miris banget. Gara-gara kesalahan salah satu penumpang, semua jadi kena imbas.

Lain kali, Molzania mesti lebih berhati-hati nih. Waspada terhadap lingkungan sekitar. Siapa tahu ada orang yang sedang mengacuhkan aturan. Lebih baik ditegur orang yang seperti itu. Kalau masih tak mau nurut, terpaksa dilaporkan ke pihak yang berwenang alias pramugari pesawat. Lagian ada peraturan hukumnya ya penumpang abai yang mengganggu jalannya penerbangan bisa dihukum pidana atau perdata ratusan juta rupiah.

Benar saja, sesaat setelah penumpang mematikan hapenya. Pesawat pun langsung bersiap-siap terbang. Cuaca buruk langsung menyambut di atas. Awalnya goncangan yang dirasakan hanya sedikit, tapi semakin lama semakin membesar. Diatas laut, pemandangan dibawah tak lagi terlihat. Pesawat beberapa kali masuk awan tebal yang berwarna kelabu. Saat itulah goncangan kian terasa tajam. Saking seramnya pemandangan awan yang terlihat di kaca pesawat berwarna merah muda. Mungkin itulah awan kumulo nimbus yang menjadi momok bagi pilot pesawat.

Wajah-wajah penumpang seketika pias. Raut muka mereka semua mendadak tegang. Untungnya tak berapa lama pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat. Belum sempat menarik nafas lega, saat pesawat hendak turun, kembali terjadi goncangan keras. Lumayanlah menggetarkan kursi penumpang. Alhamdulillah, sesaat kemudian goncangan mereda. Pesawat pun dapat mendarat selamat di Bandara Sultan Mahmud Badarruddin.

Seandainya seluruh penumpang pesawat terbang peduli, tentunya kecelakaan bisa diminimalisir. Memang kecelakaan itu musibah. Apa yang luput dari kita, tak akan mengenai kita. Apa yang tidak luput, pasti mengenai kita. Tetapi kita seenggaknya memaksimalkan ikhtiar, agar apa yang ditakutkan tidak terjadi. ^^
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...