Sunday, January 25, 2015

Dimulai dari Rumah Sendiri

Posted by with 2 comments
Mama sangat menyukai kegiatan berkebun. Di halaman kami yang sempit, ditanami segala jenis tumbuh-tumbuhan. Ada pohon salak, pokat, kurma, arbei dan jeruk. Setiap hari aku melihat beliau menyirami tanaman-tanaman kesayangannya itu agar tak layu.

Saking gemasnya, ayah sering mengibaratkan tanaman mama dengan sebutan “anak”. Soalnya mama tak pernah absen untuk merawat mereka layaknya anak kandung. Pagi maupun sore jadwal mama untuk berkebun.

Biarpun sempit, tapi halaman kami penuh dengan tanam-tanama
Aku heran. Kok mama mau-maunya memelihara tanaman? Kan repot plus ribet. Ternyata oh ternyata setelah kutanyakan salah satu alasannya karena mama ingin berbagi. “Suatu hari kalau tanaman ini berbuah, mama mau membagikan hasilnya ke para tetangga dan kerabat. Biar mereka juga bisa merasakan manfaat buah ini, “ jelas mama dengan wajah sumringah.

Setiap bulannya, mama menyempatkan diri membeli pupuk kandang dari tukang tanaman yang lewat depan rumah. Harganya dibandrol hanya lima ribu per karung. Setiap kali tanahnya kering, mama menambahkan pupuk kandang.

Mama mendapatkan bibit-bibit tanaman itu secara tak sengaja. Kalau mama membeli buah-buahan di pasar, lalu mendapati mereka manis, maka mama akan langsung menanam bijinya. Setengah tahun ini, tanaman mama tumbuh dengan subur meski sering juga tanaman itu mendadak layu dan mati.

Kalau sudah seperti itu, mama akan merasa sedih sekali. Seperti beberapa hari lalu, pohon arbei mama menguning dan mati. Itu semua disebabkan karena kami sekeluarga berlibur ke Jakarta selama dua minggu. Akibatnya tidak ada lagi yang rutin menyirami tanaman mama. Sehingga semua tanaman mama mendadak layu dan kurus.

Pohon Arbei mama yang layu
Oleh karena itu, sepulang liburan, mama kembali ke rutinitas asalnya. Mama berharap tanaman arbeinya dapat hidup lagi, seperti tanaman bambu airnya. Berbulan-bulan yang lalu, tanaman itu sempat mati. Saat itu mama baru saja memulai kegiatan berkebunnya. Jadi mama masih kurang pemahaman tentang cara merawatnya.

Akan tetapi, mama tidak berputus asa. Ia mencari informasi di internet. Ternyata perawatannya cukup dengan disiram sekali sehari menggunakan spray air. Semua caranya mama praktekkan dan berhasil. Perlahan-lahan, tanaman bambu air mama tumbuh kembali. Sekarang malah lebih subur.

Kegiatan rutin mama menular ke anak-anaknya. Setiap pagi, saat hari libur, aku dan adik sibuk berkebun. Kami berusaha membantu mama merawat tanaman-tanamannya. Mama senang sekali melihat kami mau ikut-ikutan berkotor-kotor ria. Biarlah toh tangan yang kotor bisa dicuci. Tetapi jika sudah berbuah nanti semua pasti bisa merasakan manfaatnya.

Tanaman Bambu Air mama
Tahun pun berganti. Tidak terasa sekarang sudah memasuki tahun 2015. Kami berharap tahun ini juga tanaman kami bisa berbuah. Sungguh proses yang panjang dan melelahkan untuk menumbuhkan sebatang pohon. Namun buah-buah yang dihasilkannya bisa kami bagikan ke semua orang.

Seperti yang kita tahu, buah-buahan mengandung banyak vitamin yang bermanfaat untuk kesehatan. Apalagi buah-buahan yang diambil dari kebun sendiri. Tentunya lebih sehat karena bebas pestisida. Selain itu dengan adanya tanaman akan membuat udara di sekitar rumah jadi terasa segar. Lingkungan pun jadi lebih sehat.

Terbayangkan jika setiap rumah di Indonesia ini mau memelihara tumbuh-tumbuhan. Maka lingkungan kita akan jauh lebih sehat. Polusi dan pencemaran udara bisa dikurangi. Kami sudah membuktikannya tahun kemarin. Lewat website The Nature Conservancy Program Indonesia, kami semua jadi lebih mengetahui manfaat lebih lingkungan hijau. Dan tahun ini saatnya memperbanyak tanaman buah. Kami bertekad akan terus merawat tanam-tanaman. Semoga hal ini bisa menginspirasi yang lain untuk melakukan hal yang serupa. 

2 comments :

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...