Friday, November 7, 2014

Tujuh Hari Setelah Kepergianmu

Posted by with No comments
Lima belas juli 2014 tak disangka-sangka itu adalah ucapan selamat ulang tahun terakhir Cikna untuk Molzania. SMSnya masih tersimpan rapi di hp. Tiga bulan kemudian, cikna sudah tak bersama Molzania lagi. Antara percaya dan tidak percaya memang, tapi mau bagaimana lagi. Molzania hanya bisa mencoba mengikhlaskan kepergiannya meski terasa berat.

SMS ulang tahun terakhir Cikna untuk Molzania T_T
Sabtu terakhir itu, Molzania datang berkunjung ke rumah sakit Siloam Sriwijaya tempat cikna dirawat. Beliau dirawat di ruangan VIP lantai 6 kamar 007. Begitu ketemu seperti biasa Cikna menawari Molzania makan siang buatan rumah sakit. Cikna tampak sehat, kita mengobrol seperti biasa. Disana berkumpul uwak-uwak Molzania yang lainnya. Ada wakcak dan cekda.

Menjelang sore hari, Cikna ingin berjalan-jalan sore keliling rumah sakit. Sesudah jalan-jalan, Cikna kembali tiduran di kasur. Molzania yang usai shalat Ashar sekitar pukul empat memutuskan duduk di dekat ranjang cikna. Tak berapa lama mahasiswa Polsri Cikna datang menengok. Mereka kira Molzania anak Cikna, bukan keponakan hihii... Mungkin wajah kita mirip kali yaa..

Begitu mereka pulang. Molzania nonton tv kabel. Ternyata disana ada acara Running Man. Molzania ngakak ngeliat Garry dkk berlomba disana. Gak tahunya cikna sudah tidur. Molzania sampai gak konsen nonton Running Man, karena takut suaranya mengganggu Cikna. Dari situ, Molzania kembali perhatiin wajah Cikna. Beliau tidurnya ngagetin hihii... Mungkin karena Cikna merasa sesak nafas, jadi beliau tidurnya sambil mulutnya terbuka. Lucu deh, pingin difoto hahaa... tapi gak jadi karena gak tega hehee

Sepuluh menit kemudian, uwak-uwak Molzania datang bawain camilan. Rumah sakit Siloam Sriwijaya kan enak ya, dibawahnya juga disamping kanannya ada mall. Jadi suka sekalian belanja kalau kebetulan berkunjung ke tempat orang sakit. Oleh uwak, Molzania dibeliin es roti ala Malaysia. Enak bingit rasanya..

Kedengeran suara-suara gaduh, Cikna terbangun. Beliau lalu memanggil suster untuk minta dilap. Cikna mengeluh selama di rumah sakit, beliau tidak bisa mandi secara bebas. Dadanya terasa sesak sepanjang waktu. Padahal dia kepingin sekali cuci rambut

Selesai dilap suster, Cikna makan roti pake susu. Dari situ Molzania perhatikan kok wajah Cikna berubah. Susah ngejelasin perubahannya, tapi Molzania merasa aja wajah Cikna mengeluarkan cahaya putih. Mirip seperti kapas. Molzania pernah mendengar dari cerita wakcik, kalau itu tanda-tanda orang yang mau meninggal. Gak mau berpikir yang tidak-tidak, Molzania tepis pikiran itu jauh-jauh.

Menjelang maghrib, Molzania pamit pulang dari rumah sakit. Pamitnya biasa aja, gak ada firasat apapun. Sehari menjelang kepergian Cikna, kita masih kontakan lewat sms. Molzania mengingatkan Cikna agar tak lupa makan. Sebelum tidur lebih baik makan roti marie dulu, biar maagnya tidak kambuh.

Acara makan-makan bareng Cikna awal 2014 lalu

Kamis, 30 oktober 2014, menjelang waktu maghrib, entah kenapa Molzania ingin sekali membaca surah Yaasiin. Molzania lupa kalau itu malam jumat. Sejak beberapa hari lalu, perasaan Molzania sudah gak enak-enak. Semua jadi serba salah. Dipikir mungkin dikarenakan Molzania kurang mengajinya. Jadilah sehabis shalat maghrib, Molzania sudah berbenah diri. Sesudah bersihin muka, langsung Molzania mengaji surah Yaasiin.

Usai membaca Yaasiin, hati Molzania serasa adem. Plong. Seakan-akan ada duri yang tercerabut dari dalamnya. Lebih baik dari yang kemarin-kemarin. Sesudah shalat isya, dapat sms dari Cekda, kalau Cikna masuk rumah sakit umum. Molzania pikir mungkin sesak nafasnya kambuh. Langsung Molzania tanya Cikna sakit apa, tak berapa lama dapat balasan sakit perut kembung.

Mama Molzania yang tadinya sudah tidur langsung bangun. Molzania kembali dapat sms kalau Cikna memakai nafas buatan di RS. Cekda minta bantuan doa dari kami semua. Mama menghidupkan wifi, meminta Molzania untuk mencari pengobatan sakit perut kembung di google. Baru saja, Google di ipad Molzania menampilkan hasil pencarian, Molzania langsung dapat sms dari Cekda kalau Cikna sudah meninggal dunia.

Rasanya dunia mau runtuh. Molzania teriak-teriak panik, lalu menangis. Mama Molzania syok, lalu jatuh pingsan. Molzania tak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Semuanya terasa seperti mimpi. Kejadian ini begitu tiba-tiba bagi keluarga kami. Musibah datang bertubi-tubi menghantam, namun kami bisa menjalaninya dengan baik. Namun musibah kematian membuat kami semua ambruk. Goyah. Tapi kami yakin kami bisa melewatinya dengan baik seperti yang sudah-sudah karena Allah SWT tahu kami pasti bisa melewatinya.

Untuk pertama kalinya, Molzania merasakan sendiri arti kehilangan. Dengan mata kepala Molzania lihat sendiri jasad uwak yang sudah terbujur kaku. Ajal tidak ada seorangpun yang bisa memprediksinya. Melihat tubuh Cikna yang dimandikan, lalu dikafankan membuat Molzania berpikir. Dimana orang yang biasanya ngobrol sama Molzania? Kemana gerangan ia berada? Sedang apa dia saat ini? Apakah ini benar-benar cikna yang selama 22 tahun Molzania kenal?

Maka, Molzania tak kuasa melihat Cikna yang kini tak lagi bisa berbicara atau bahkan tersenyum. Semua kerenyahan suaranya sirna. Tinggal kenangan di memori kecil Molzania. Tangan yang dulu senantiasa menggandeng tangan Molzania kini kaku. Wajahnya sama seperti dulu, tapi kini matanya hanya bisa terpejam. Benarkah ini Cikna yang Molzania kenal?

Sedih sekali hati Molzania mengingatnya. Suara Cikna bahkan hanya bisa Molzania kenang tanpa mampu Molzania dengar lagi. Dan di balik kambang di kuburan Kamboja, seluruh tubuh Cikna tertimbun disana. Persis disebelah makam kakek Molzania yang lebih dulu berpulang.

Selamat jalan cikna.... Molzania yakin kita akan kembali dipertemukan di surga nanti. Sekarang, Molzania akan berusaha untuk masuk surga juga sama sepertimu...  :')
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...