Monday, November 17, 2014

Bisnis Perdana Aku dan Adik

Posted by with No comments
Ini adalah bisnis yang Aku kembangkan bersama Adikku yang baru saja berumur 13 Tahun pada 4 November lalu. Modal awal bisnis ini hanya lima puluh ribu, kini omsetnya sudah naik 2000 persen menjadi satu juta rupiah. Kemajuannya sangat pesat bukan. Padahal bisnis kami baru serius dijalani dua tahun ini. Itung-itung Aku bisa sembari mempraktekkan apa yang Aku pelajari di kuliah sekaligus mengajari Adikku, Ikhwan, berbisnis.


Tahun 2011 awal keterlibatanku pada dunia bisnis. Adikku mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang business boy. Hehe... Berhubung Adikku waktu itu masih kelas enam SD, jadi kurasa kata man belum cocok dikenakannya. :D

Tentu saja Aku sebagai seorang kakak menyambut baik cita-cita adikku itu. Adik mengatakan kalau Ia ingin berjualan snack kecil-kecilan. Lalu, Aku pun melihat peluang bisnis dari sini. Untuk itu, Aku lalu mengajak Adik untuk pergi ke toko penganan dekat rumah. Untuk modal awal, kuberi Ia lima puluh ribu. I think atleast kalo usahanya tidak berjalan baik modalnya tidak terlalu banyak keluar hehee...

Disana, Aku memilihkan hanya snack yang sehat dan dari brand yang terkenal. Adik bertanya padaku kenapa seperti itu, kak? Kukatakan padanya kalau kita mau berjualan maka harus memikirkan kualitas barang. Hanya barang-barang dengan kualitas yang baiklah yang akan dipilih oleh konsumen. Soal harga, urusan belakangan. Sebagai penjual, hal pertama yang harus dilakukan untuk menghadapi persaingan di luar adalah kualitas. Adikku mengangguk-angguk mendengar penjelasanku.

Kedua, Aku melanjutkan, sebagai seorang bussinessman di bidang makanan maka apabila barang dagangan yang dijualnya berkualitas, maka konsumen kita pun akan menjadi sehat. Untung yang didapat pun menjadi double: untung laba dan dapat pahala.

Aku lalu menunggu respon pertama dari para pelanggan. Dulu, waktu pertama kali berbisnis. Aku mengajak adik untuk jualan eceran secara keliling. Sasarannya tetangga dekat rumah dan teman-teman bermain adik. Adik membawa bungkusan plastik besar berisi snack dan kopi ke rumah-rumah itu. Tak kusangka ternyata dagangan Adik habis terjual semua. Kubilang padanya agar menerapkan prinsip pembeli adalah raja sekaligus guru. Jadi, biar jualanannya laku ia harus ramah terhadap pembeli dan melayani mereka dengan sabar.

Melihat barang dagangannya habis dalam beberapa jam saja membuatku semakin bersemangat. Adik juga terlihat senang. Meski untungnya cuma sepuluh ribu dari modal lima puluh ribu, tapi setidaknya ini awal yang bagus untuk bisnis yang kami rintis bersama ini. Keuntungan pun Aku putar kembali sebagai modal. Sebagai pemain baru, tentunya keuntungan besar bukanlah tujuan utama. Tetapi mengenalkan usaha pada para customerlah tujuan awal usaha.

Tantangan pertama dari bisnis ini adalah ketika adikku salah menghitung jumlah harga barang dagangan yang dibeli pelanggan. Yah, namanya juga anak kecil. Meski maklum, Aku pun menasihati adik agar lebih jeli dalam menghitung barang dagangan. Karena kalau kuhitung-hitung, kerugian yang diderita sampai tiga puluh persen. Tentunya gak sebanding dengan keuntungan yang kami patok sepuluh hingga dua puluh persen.

 Untuk mengatasi hal tersebut, Aku pun membuat pembukuan sederhana untuk bisnis kami ini. Berapa modal ditambah target laba kami hitung menghasilkan harga jual. Adik pun lebih berhati-hati dalam melayani pelanggan diluar sana. Tak lupa, biar adik lebih mudah menghitung Aku memberinya kalkulator kecil. Cara ini ternyata cukup efektif. Kami bisa memperkirakan hasil penjualan yang mulai meningkat pesat.

Tiga bulan berikutnya, melihat kemajuan penjualan Aku memutuskan untuk ekspansi atau perluasan bisnis. Bisnis eceran kelihatannya untung, tapi Aku mulai berfikir untuk jualan secara grosiran. Apalagi ada adikku sebagai partner bisnis sekaligus tenaga pemasaran. Aku mulai melirik usaha grosiran warung-warung sekitar rumah. Bagaimanapun mereka pasti membutuhkan stok makanan ringan dan kopi untuk berjualan. Kami adalah pemasoknya.

Tentu saja, karena kami masih tergolong pelajar- Aku seorang mahasiswi, sedangkan Adik masih pelajar SD-Jadi, kami memutuskan untuk mengembangkan bisnis secara perlahan-lahan. Kami masih mempertimbangkan kegiatan belajar yang masih harus kami lakukan. Maka kami putuskan untuk berbisnis dikala waktu luang saja. Bila Aku atau adik sedang ada ujian sekolah atau kampus, maka kami tunda dulu bisnisnya hingga kami selesai ujian.

Tantangan kedua yang kami hadapi ketika berbisnis grosiran ke warung-warung adalah mempertimbangkan kapan saat yang tepat untuk menawarkan barang kami ke pemilik warung. Terkadang kami datang disaat mereka sudah punya stok barang. Entah mereka beli sendiri di luar sana atau memang ada pemasok lain yang sudah datang. Akibatnya barang kami tidak laku terjual. Kami pun harus getol mencari ke warung lain yang stoknya tipis.

Sejak Adikku masuk SMP tiga tahun lalu, Ia mengusulkan padaku agar memasok barang dagangan ke kantin sekolahnya. Kujawab, kenapa tidak?, toh Aku sudah mencontohkan kepada adik kalau Aku juga memasok snack di kantin kampus. Adik senang sekali mendengarnya. Ia pun berbicara pada pemilik kantin yang juga guru di sekolahnya itu keesokan harinya. Ternyata gurunya itu setuju. Mereka mendukung keinginan adikku yang ingin menjadi pengusaha. Setiap minggu Adik bertugas untuk membawa makanan ringan. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, satu kotak penuh! Jumlah yang sangat besar bagi bocah SMP seperti adik. Apalagi karena itu omset kami pun bertambah berkali-kali lipat. Kini sudah mencapai satu juta rupiah setiap bulannya.

Tantangan selanjutnya untuk bisnis kami adalah saat snack dan kopi harganya naik berapa ratus perak saja satu kotaknya. Bagi pengusaha grosiran seperti kami ini tentunya hal tersebut akan mempengaruhi jumlah laba usaha. Tak jarang kami harus putar otak dalam memilih barang yang akan kami jual. Karena biasanya konsumen warung kami tidak mau tahu. Mereka tetap bersikeras harga lama, padahal harganya sudah naik dari agen besar. Langkah yang kami ambil selanjutnya adalah selektif memilih barang dagangan. Barang yang kira-kira naik di pasaran, kami tak beli lagi. Kami hanya membeli snack sehat yang terjangkau dengan kantong pelanggan. Tentunya kami tak mau kehilangan customer tetap yaitu para pemilik warung.

Kedepannya kami ingin sekali memiliki warung atau toko sendiri. Tapi tentunya modal yang harus kami keluarkan akan sangat besar. Bila usaha kami nanti berkembang pesat, tidak ada salahnya kami mempertimbangkan beli atau sewa toko. Untuk sekarang, tugasku hanya mengembangkan usaha dan mengajari adikku berbisnis saja. Biar ketika adikku sudah dewasa nanti, ia sudah punya pengalaman berbisnis yang bisa digunakannya untuk bisnis yang lebih besar lagi.
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...