Friday, September 26, 2014

#CeritaPos Sahabat Pena Masa Kecil yang Hilang

Posted by with No comments
#CeritaPos Cerita ini sebenarnya sudah lama sih. Tapi kemaren waktu ubek-ubek gudang, nemu sepucuk surat yang terselip di buku-buku pelajaran SMPku. Surat itu berasal dari sahabat penaku semasa SD. Entah dia sekarang berada dimana. Mengingatnya membuatku mengenang masa-masa dimana aku masih polos banget. Sayangnya surat itu tak sempat kuabadikan di hape.

Dulu semasa SD kelas 5, karena terinspirasi dari cerpen anak di Majalah Bobo yang berkisah tentang seorang anak yang bersahabat pena dengan teman di luar kota dan kelihatannya seru sekali, aku pun tertarik ikut mencobanya. 

Aku berusaha menemukan sahabat penaku dengan mencari acak di majalah Bobo. Ketemulah dua nama, yaitu Ridhanisa Ayu dan satunya lagi entah siapa. Aku memilihnya karena faktor sesama cewek. Aku rada canggung kalo bersahabat pena sama cowok. Hahaa... 

Aku pun memulai surat pertamaku. Untuk menulisnya aku meminta bantuan Ayah. Dulu, bukannya aku tak bisa menulisnya sendiri tapi aku takut kalo isi suratku jelek sehingga sahabat baruku tak mengerti maksud tulisanku. Lagian, ayahku juga seorang wartawan sih, pasti beliau paham cara menulis surat untuk anak-anak.
Ayah mengajarkanku cara menulis surat. Pertama ia menyuruhku untuk memperkenalkan diriku. Aku pun menuliskan biodataku lengkap-lengkap disana. Saking lengkapnya aku membutuhkan dua halaman penuh buku tulis hanya untuk menulis biodata. Aku juga mengatakan bahwa aku menemukan profilnya dari majalah Bobo. 

Aku bersama ayah pun pergi ke kantor pos untuk mengirimkan suratku. Disana aku mengetahui kalo mengirim surat itu agak ribet. Kita harus meminta stempel petugas, lalu memasukkan sendiri ke dalam kotak surat yang tersedia disana yang diatasnya ada nama kota-kota di Indonesia. Kirain dulu mengirimkannya hanya tinggal mencemplungkan surat ke dalam kotak pos yang ada di depan sekolah. Nanti si surat akan berjalan sendiri lewat terowongan bawah tanah hehee...

Setelah menunggu beberapa bulan, aku mendapatkan kiriman dua surat atas namaku sendiri. Rasanya senang bukan main. Berasa jadi orang penting. Soalnya biasanya yang mendapat surat hanya Ayah dan Mimi (ibuku). Mimi biasa mendapat surat dari bank. Sedangkan Ayah entah apa dari kantornya.

Saking girangnya, aku sampe peluk surat sahabat penaku itu lama sekali. Beneran selama dua hari surat itu tak pernah lepas dari tanganku. Sampai-sampai aku bawa tidur. Keesokan harinya aku perlihatkan dengan bangga pada teman-teman di sekolah hihii... Mereka memandangku kagum karena berhasil mendapat surat dari Bandung yang entah seperti apa kota itu karena aku sendiri belum pernah kesana.

Hari ketiga, aku pun membalas surat-surat sahabat penaku. Masih meminta bantuan Ayah untuk menolongku menulis kata-katanya. Di surat kedua ini, aku memutuskan untuk mengirim foto pribadiku. Aku memilih foto disaat aku lagi jadi pengantin cilik yang mengenakan baju adat Palembang saat pernikahan tanteku beberapa bulan lalu. Disuratku aku menceritakan latar belakang fotoku itu. 

Beberapa bulan kemudian, hanya satu surat yang datang. Yaitu dari Ridhanisa Ayu yang tinggal di Bandung ini. Ia juga mengirimkan fotonya saat liburan di pantai parangtritis. Saat itu aku sudah kelas 1 SMP. Aku pun membalas suratnya. Kali ini aku sudah bisa menulis surat sendiri. Kuceritakan disana kesibukanku di SMP yang super padat. Sekolah, ekskul, les mipa, dan lain-lain. Aku merasa kecapekan. Tak terasa itulah surat terakhirku untuknya. Karena ketika surat temanku itu datang lagi, aku tak sempat-sempat membalasnya. Suratnya pun masih setia nangkring di buku harian. 

Surat terakhir dari temanku itu menyatakan kalau dia juga merasakan hal yang sama denganku. Kami sama-sama kelas 1 SMP waktu itu. Dia bilang aku aneh karena terus-menerus menggerutu. Seharusnya aku semangat bersekolah untuk meraih cita-citaku. Bukannya curhat panjang lebar.

Pas kelas 3 SMP, surat terakhir dari Nisa kupindahkan ke buku Fisika pelajaran favoritku. Setiap lagi suntuk atau bete, aku selalu membaca surat dari sahabat penaku itu. Waktu itu aku mau UAN, jadi bikin aku semangat untuk belajar. 

Hingga sekarang kami masih lost contact. Semoga suatu hari nanti bisa ketemu lagi. Terakhir kami bercakap tahun 2005. Sekarang aku cari facebooknya tapi ga ketemu. Semoga teman jauhku itu masih diberi kesehatan dan umur panjang sama Allah SWT. Aamiin...


 *diikutsertaan dalam lomba blog #CeritaPos versi kamu via facebook fanpage Telkomsel*

Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...