Wednesday, July 16, 2014

Benarkah Semua Agama Sama ?

Posted by with No comments
Seorang penulis dunia maya belakangan ini menyatakan dirinya sebagai seorang atheis. Molzania kebetulan salah satu temannya di Facebook. Sempat baca beberapa karyanya di koran, Molzania berkesimpulan pantas kalau dia mendeklarasikan dirinya sebagai seorang atheis. Mengapa? Karena cerpennya kebanyakan berisi tentang hal-hal yang berbau sensitif. You knowlah... Menyangkut hal-hal tabu yang dikonsep dalam bahasan keduniawian.

Sebagai seorang yang sama-sama berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, Molzania tentu sangat paham kalau sah-sah saja seseorang mau menulis dalam genre yang bagaimana. Namun masalahnya si penulis terkadang suka “nyeleneh”, memasukkan perspektif keagamaan menurut pemikirannya sendiri. Entah bagaimana Molzania justru belajar banyak dari hal tersebut. Termasuk dalam hal pendalaman karakteristik seseorang yang diukur dari wawasan agama dan intelektualitasnya.


Tulisan ini sungguh sangat sensitif. Namun Molzania mencoba melihatnya dari sisi Islam yang sudah Molzania pelajari. Islam sesungguhnya agama yang mudah, namun jangan dimudah-mudahkan. Salah satu perang pemikiran yang berkembang dewasa ini ialah penyamarataan agama.

Menurut orang-orang yang berpaham seperti ini, Tuhanlah yang menurunkan berbagai jenis agama. Manusia bebas memilih agama sesuai kehendak hatinya. Toh semuanya juga kembali pada Tuhan. Tinggal Tuhan yang menentukan keberadaan manusia di alam akhirat, apakah berada di surga atau neraka. Tugas manusia hanyalah berbuat baik kepada sesama, soal agama janganlah dipersoalkan. Semua agama mengajarkan kebaikan. Maka dari itu setiap orang yang berbuat baik, apapun agamanya, berhak masuk surga.

Tentunya ini pemikiran yang salah. Agama yang satu dengan yang lainnya sungguh sangat berbeda meski sama-sama mengajarkan kebaikan. Tuhannya pun tak sama. Meskipun sama-sama diakui sebagai Tuhan, namun secara esensi mutlak berbeda. Jika agama diibaratkan suatu hal, sebut saja minuman, maka kita akan mengenal berbagai macam minuman seperti es jeruk, es dawet ataupun es buah. Ketiganya sama-sama minuman, sama-sama terlihat enak dipandang mata, namun secara esensi ketiganya berbeda.

Sungguh tidak bisa disamakan, antara es jeruk yang berbentuk cairan tanpa isi dengan es dawet yang ada isinya. Begitupun dari segi rasa dan selera. Manusia punya pilihan dalam menentukan seleranya, tapi tetap saja sang pemilik alam semesta sudah menentukan agama yang benar menurut kehendaknya.

Agama yang benar tentu saja agama Islam. Islamlah agama yang paling sempurna di alam semesta sekaligus diakui sebagai agama yang hak oleh Allah langsung. Islam berbeda dengan agama lain. Dalam Islam, Tuhan hanya ada satu yaitu Allah SWT. Memiliki kerajaan bernama Arsy di langit lapis ketujuh. Dikelilingi malaikatNya yang tunduk patuh nan setia. Pencipta dan pengatur segala alam semesta. Dan yang paling penting, tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Islam sudah diperkenalkan Allah sejak pembentukan alam semesta. Islam artinya penyerahan diri, maksudnya ialah berserah diri kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah SWT. Pengikutnya dinamakan muslim. Bahkan saat Firaun hendak dicabut ajalnya saat ditenggelamkan, dia mengaku dirinya sebagai muslim. Tentu saja pengakuannya ini tidak diterima karena nafas Firaun sudah ada di tenggorokan (QS. Yunus: 90).


Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)" (QS. Yunus : 90)

Artinya Islam sudah ada sejak jaman dahulu kala. Allahlah yang memperkenalkan Islam pertama kali pada Nabi Adam AS. Menyuruhnya untuk bersujud, tunduk patuh hanya kepadaNya. Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, Islam boleh saja dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Misalnya agama Ibrahim, agama hanif (lurus) ataupun agama tauhid (samawi). Namun kesemuanya mengandung unsur yang satu; penyembahan hanya kepada Allah. Satu-satunya yang disembah. Tidak boleh ada yang lain. Dari segi ajaran pun relatif sama. Allah mengenalkan bahkan pada umat yang terdahulu perkara shalat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Makanya kita sekarang mengenal puasa ala Nabi Daud yang sehari puasa sehari tidak.

Satu-satunya hal yang membedakan hanyalah ajaran yang diterima Nabi Muhammad SAW telah disempurnakan oleh Allah. Jika diibaratkan minuman, isi gelas es jeruk dalam hal ini Islam jaman Nabi Muhammad SAW penuh. Sementara isi gelas es jeruk dalam hal ini Islam jaman Nabi Ibrahim misalnya setengah penuh. Namun ketiganya memiliki esensi yang sama; yakni Es Jeruk atau dalam hal ini penyembahan hanya kepada Allah SWT berikut ajaranNya yang serupa.

Islam tidak dapat disamakan dengan agama lain. Misalnya saja kristen. Di dalam kristen terdapat ajaran trinitas yang tentu saja tidak diajarkan dalam Islam. Begitupun dengan ajaran Hindu dan Budha yang percaya kepada banyak dewa yang harus disembah yang diwujudkan dalam bentuk patung. Islam tidak mengenal segala bentuk penyembahan sejenis. Tuhan Islam sendiri tidak terlihat dan tidak dapat diserupakan dengan wujud keduniawian apapun, bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan semua agama sama?

Dalam ajaran Islam, Allah sudah menurunkan agama yang benar yaitu Islam melalui Para Nabi dan RasulNya dengan perantaraan Malaikat Jibril atau roh kudus. Manusia dan jin kemudian disesatkan pihak ketiga, dalam hal  ini setan, kemudian menciptakan Tuhan-Tuhan baru selain Allah. Pada jaman Rasulullah, sekutu-sekutu Allah ini salah satunya dinamakan Latta dan Uzza, diwujudkan dalam bentuk patung manusia.

Konon mereka ini orang-orang suci pengikut nabi terdahulu yang sudah lama meninggal. Sosoknya lalu dibuat dalam bentuk patung, sebagai wujud perantara doa kepada Allah. Lama kelamaan terjadilah pergeseran makna, dari sekedar perantara doa lalu berganti sebagai wujud penyembahan terhadap Tuhan, dalam hal ini bangsa Arab menyebutnya dengan nama Allah.

Setelah berdiskusi dengan teman “atheis” Molzania tersebut, ternyata dia tidak dapat menerima konsep ketuhanan yang telah Molzania jelaskan berdasarkan pemahaman Molzania terhadap isi kandungan Al-Quran yang sudah Molzania pelajari. Akhirnya Molzania diblokir dari pertemanannya di Facebook. Itulah konsekuensi yang harus Molzania terima, tapi tak mengapa karena niat awal Molzania ialah untuk meluruskan. Walaupun mungkin pemahaman Molzania masih kurang sempurna, tapi semoga Allah menyempurnakannya catatan amal Molzania di akhirat. ;') 
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...