Tuesday, June 3, 2014

Edward,, Maafkan Aku

Posted by with No comments
Aku tak pernah ingin merasakan kehidupan seperti ini . Tergolek lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit lengkap dengan selang infus yang memanjang di tangan. Kepalaku terasa sangat pusing, badanku menggigil. Aku terlihat menyedihkan, seperti mayat hidup wajahku pucat.

“Edward...” desah lembut seseorang di sampingku. Perlahan namun pasti, mataku membuka. Ternyata disaat badan kita selemah ini, membuka mata saja membutuhkan tenaga ekstra. Aku kepayahan. Bias pertama yang kulihat adalah cahaya lampu yang berwarna putih menyilaukan. Lalu siluet selanjutnya adalah wajah teduh seorang perempuan yang sangat kukenal. Ibuku.


Credit to : Kesehatanmuslim.com


“Bu, “ ujarku lemah. Sangat lemah hingga nyaris tak terdengar. Kupastikan hanya kami berdua saja yang tahu. Kutatap wajah Ibu, ia pun terlihat sama denganku. Terlihat cantik meski kulihat kantung matanya menghitam. “Ibu, apa yang kau lakukan?” desisku marah. Lagi-lagi terdengar menyerupai bisikan. Aku merasa frustrasi.

“Sstt...” Ibu memperingatkan. Apa-apaan ini? Meski disaat-saat seperti ini beliau masih saja mengurusiku?! Aku tahu persis Ibu sedang sakit sekarang. Aku tahu bahkan sebelum ia mengatakannya kepadaku. Instingku selalu bergerak lebih tajam daripada perasaanku. Aku kasihan pada Ibu.
                            
"Bu, tidurlah...”

Pada saat yang bersamaan, bunyi pintu terdengar. Kami berdua terlonjak kaget. Itu Dr. Cullen, Carlisle Cullen tepatnya seperti itulah yang kutahu. Ia adalah dokter penjaga di rumah sakit ini. Wajahnya misterius membuat nyaliku ciut. Seperti ada sesuatu yang ia rahasiakan yang tak boleh kutahu. Seperti makhluk dongeng atau semacamnya. Vampire, barangkali. Instingku memang dapat diandalkan.

“Ehem...Ehem” Mr. Cullen pura-pura terbatuk. Ia memegang sebuah notes kecil. Entah apa isinya. Ia menoleh ke arah aku dan Ibu. “Mrs. Masen berbaringlah, kuharap kau juga sebaiknya beristirahat...” ucapnya tegas. Dengan berat hati, Ibu meninggalkanku dan kembali ke ranjangnya. Aku membiarkannya.
“Edward,  kau sebaiknya tidur lagi. Kondisimu tak terlalu menguntungkan saat ini” Perintah Dr. Cullen. Aku mengiyakan. Semakin sering melihat cahaya lampu, semakin membuat rasa pusingku kembali hebat. Dan kuharap keputusan untuk memejamkan mata lagi juga menaksa Ibu untuk tidur juga.

Malam terasa sangat panjang. Aku tak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Mataku seolah tak bisa kubuka lagi. Apakah aku akan mati? Lekaslah malaikat maut menjemputku agar Aku bisa bersama Ayah yang sudah berada di Surga. Tapi bagaimana dengan Ibu? Perempuan itu tak boleh menyusulku. Akan kutahan dia sebisaku. Biarlah dia lebih lama berada di dunia.

Seperti inikah rasanya mati? Berkutat terlalu lama dalam kegelapan. Rasa dingin menyerang semua sendi-sendiku. Kudengar disebelahku tak ada suara. Barangkali Ibu masih tertidur. Aku ingin sekali bangun dan gantian menjaganya. Tapi mataku tak bisa kubuka.

Tiba-tiba, badanku terasa melayang. Kematian telah semakin dekat. Aku tersenyum membayangkan perjalanan hidupku selama tujuh belas tahun. Siluet-siluet Ibu, Ayah, Nenek dan Kakek perlahan menghampiri. Jiwaku terasa damai dan sejuk. Angin terasa membelai seluruh  pori-pori kulit.

Kini semuanya terasa bagaikan mimpi. Usia tujuh belas tak dirasa lama. Rasa panas menjalari leher. Aku menikmati sensasi pencabutan nyawa. Rasa panas itu seperti terbakar. Aku kebakaran. Masuk dalam api yang menyala. Inikah neraka? Tapi dimana semua orang? Aku menemukan diriku sendiri dengan perasaan yang terbakar. Terus menerus terbakar. Seolah api ini tak kunjung padam. Aku kesakitan dan terus berteriak memohon pertolongan. Tapi tak ada seorangpun mendengar raunganku.

Aku meronta sekuat tenaga. Kudengar malaikat maut berteriak-teriak, “Maafkan... Maafkan Aku...”. Kenapa dia meminta maaf dam justru menyesal telah memasukkanku ke pemanggang raksasa? Aku kembali meraung.

Tidak. Tidak, sepertinya ada yang salah. Tak ada yang seperti ini. Apa aku makhluk terkutuk? Aku baru bisa berpikir jernih saat rasa sakit terbakar itu perlahan mereda. Siapa Aku sebenarnya? Aku siapa? Tak ada seorangpun yang berhasil kuingat. Dan ketika kubuka mata, tampak malaikat mautku sedang menyeringai berdiri di depan pintu. Aku tersentak.

“Maafkan Aku, Edward. Aku mengubahmu menjadi Vampire...”

*diikutsertakan dalam Lomba Internasional Twilight Fanfiction by Fanpage Stephenie Meyer"
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...