Sunday, April 27, 2014

My Scary Experience : Yayi Sorban

Posted by with No comments

Kejadian ini Aku alami saat masih duduk di bangku kelas satu SMU. Ini kali pertama Aku mengalami sendiri peristiwa menyeramkan yang akan kuingat terus sepanjang hidupku. Bermula tiga hari sebelumnya saat Aku dan teman-teman sedang duduk-duduk di kelas usai mengerjakan latihan Matematika. Saat itu sedang tidak ada guru, jadi kami para murid cewek melakukan apa yang disebut oleh cowok-cowok sebagai "Arisan'. Padahal itu hanya kegiatan ngumpul biasa untuk menghabiskan waktu sembari menunggu bel istirahat kedua tiba.

Entah bagaimana caranya topik obrolan kami yang biasanya hanya mengarah pada gosip-gosip seputar artis, kosmetik dan murid-murid keren berganti bahasan tentang setan. Aku bersama lima orang temanku saat itu. Kelimanya bernama Amel, Melisa, Hafiza, July, dan Titag. 

"Kalian pernah ketemu sama hantu gak sih?" Aku memulai.
"Pernah sih, waktu SD. Ihh, serem banget." aku Titag.

Dari pertanyaan sesederhana itu, mengalirlah cerita-cerita menyeramkan dari mulut kami semua. Tak lama berselang, cowok-cowok pun ikut nimbrung. Pembicaraan menjadi seru bila mereka para cowok bergabung. Semua menceritakan pengalaman seram masing-masing. Giliranku pun tiba...

"Ayo, sekarang giliran Molly. Masa kamu sendiri yang belom ngomong..." potong Erik. 
"Aku... Aku..." Aku terbata.

Sejujurnya Aku belum pernah mengalami peristiwa menyeramkan. Mendengar cerita teman-temanku sepertinya asik juga. Aku jadi ingin mengalami kejadian bertemu setan itu sendiri. Karena Aku belum pernah mengalami hal-hal mistis, kukaranglah cerita mistisku. Beruntung Aku pandai menyusun cerita. Lebih tepatnya Aku merekayasa cerita yang dialami Mama sewaktu kecil menjadi pengalamanku sendiri. Anehnya teman-temanku percaya saja kebohonganku itu.

Obrolan pun berakhir tepat ketika bunyi bel pulang. Masing-masing kami pun pulang kerumah. Semuanya berlangsung normal, sampai akhirnya malam pun tiba.

Suasana di ruang komputerku biasa saja. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku masih duduk di depan komputer untuk mengetik cerita pendek. Dari dulu, kegemaranku memang menulis cerpen. Aku punya passion ke arah sana. Cita-citaku ingin menjadi penulis.

Ruang komputer sebenarnya hanya sudut kecil yang diantara kamar mandi dan ruang kerja ayah. Letaknya menyempil, karena memang awalnya tidak ditujukan sebagai ruangan. Disana terdapat lemari-lemari buku jadul milik Ayah yang sudah lapuk dan berdebu. Ruang itu menghadap langsung ke sebuah kamar kosong. Di seantero rumahku, sepertinya hanya kamar itulah yang lampunya nyaris tak pernah dihidupkan. 

Entah karena perasaanku atau apa, Aku ingin sekali menengok sebentar ke kamar yang pintunya terbuka itu. Mungkin Aku merasa seperti dipanggil seseorang. Tapi aku tak tahu siapa. Suasana rumah sangat sepi. Ayah sedang keluar, sementara Ibu dan adikku berada di kamar. Ketika perasaan itu menguat, Aku pun melengoskan kepala. Mungkin ada baiknya untuk mengalihkan sebentar pandangan dari arah komputer untuk mencari ide cerpenku.

Betapa terkejutnya Aku ketika melihat kedalam kamar kosong yang temaram oleh cahaya dari lampu di ruang keluarga itu. Disana Aku melihat sosok mirip Ayahku berdiri. Anehnya tampak mirip kakek-kakek dengan surban dan gamis putihnya. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan sempurna, tapi Aku tahu ia sedang menatapku lekat-lekat. Seperti terhipnotis, Aku membeku ketakutan di tempat dudukku. Tak dapat kugerakkan badan walaupun sedikit. Darahku surut ke kepala. Bulu kudukku meremang. Sedetik rasanya seperti setahun.

"Nah, hantuuu... hantuu..." teriakku dalam hati.

Kira-kira tiga detik kemudian Aku baru bsa mengalihkan mataku menghadap komputer. Sejenak aku melupakan peristiwa tadi. Tapi itu tak berlangsung lama. Selang sedetik aku teringat. Aku kembali melihat ke arah kamar kosong. Benar saja, kakek-kakek itu lenyap. Tanpa bekas sedikitpun. Aku mengalami trauma.

Seperti ini rasanya mengalami peristiwa menakutkan, sendirian pula. Aku merasakan seluruh tubuhku bergetar hebat. Perasaan itu menjalar dari kaki perlahan terus naik hingga ujung rambut. Tubuhku berkeringat dingin. Dengan tangan gemetar, Aku langsung mematikan komputer. Proses itu ternyata sangat lama. Aku bahkan melupakan flashdiskku yang tergantung di komputer. Semua ide cerpenku lenyap. Seolah tak ingin bertemu sang yayi sorban, aku pun bergegas masuk kamar mama. Dinginnya AC yang terpasang di kamar melegakanku. Kulihat Mama sedang membaca koran disana.

"Ma, ada hantu." bisikku panik lalu beringsut tidur di sebelah Mama yang bengong melihatku. Aku tak mau membicarakannya lagi. Molly adalah seorang cewek yang ga percaya ada setan, tapi pengalaman yang menyeramkan ini membuka matanya. Pengalaman pertama ini mengajariku agar tak sembarangan lagi berucap. Tiga hari berikutnya, Aku pun mengalami demam dan tidak masuk sekolah selama seminggu. Tunggu saja sampai teman-temanku tahu ceritaku... 

Nb : Yayi - panggilan kakek dalam bahasa Palembang

*diikutsertakan dalam kontes My Scary Experience Fanpage Facebook DinoMarket Oktober 2013 dan menjadi Pemenang ke 5*
*berdasarkan cerita nyata penulis
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...