Friday, April 11, 2014

Adikku Si Peneliti Cilik

Posted by with No comments

Credit : Okezone.cpm

Suatu sore, adikku Ikhwan pulang ke rumah dalam keadaan baju kotor penuh noda tanah dan lumpur. Adik masih duduk di kelas 4 SD. Lantas Mama pun memarahinya dan bertanya pada Ikhwan mengapa bajunya bisa kotor. Maklum, dirumah kami tidak ada pembantu. Kalau tak aku yang mencuci, mamalah yang menggantikan. Dan kebetulan pada saat itu aku sedang sibuk dengan les untuk persiapan ujian nasional. Dengan entengnya adik menjawab kalau saat itu ia ingin membuktikan tumbuhan monokotil dan dikotil apakah benar ciri-cirinya sama seperti yang ada dalam buku ipanya sehingga adik pun mengobrak-abrik kebun tetangga untuk mencari tahu.

Adikku sejak awal masuk sekolah dasar memang sangat menggemari pelajaran IPA. Terutama tentang flora dan fauna. Mungkin ia terinspirasi mama yang seorang lulusan sarjana pertanian. Di rumah kami yang lama, mama memelihara berbagai jenis tanaman hias dan bumbu penyedap semisal daun pandan dan daun jeruk. Jadilah sejak kecil adikku ikut-ikutan memelihara tanaman di rumah. Kacang hijau hasil tanamannya kini sudah berbuah entah sudah berapa generasi.

Credit : Rinso Indonesia

Semenjak kami pindah rumah, halaman kami yang tak seluas rumah kami yang lama membuat hobi adikku akan tanaman sedikit berkurang. Namun, ia tetap konsisten dengan peliharaan kacang hijaunya yang kini buahnya sudah segelas penuh sehingga terkadang aku mengeluarkan celotehan ingin mencuri sedikit kacang hijaunya untuk dibuat bubur. Adikku pun sering ngambek bila aku menggodanya.

Tak berapa lama kami pindah adikku mendapatkan teman baru yang sebaya tetangga sebelah rumah. Teman adikku itu mempunyai seorang nenek yang sering dipanggil nenek etek karena beliau orang padang sedang di padang panggilan etek berarti bibi. Di rumah temannya itu adikku serasa mendapat angin surga untuk hobinya. Nenek etek memelihara banyak jenis tanaman hias dan bumbu penyedap. Persis seperti yang dilakukan Mama dulu. Hobi adikku pun kembali tersalurkan.

Hampir setiap hari sepulang sekolah, adikku terburu-buru mengerjakan PR agar sorenya bisa berkunjung ke rumah Nenek Etek untuk menyiram tanamannya. Mulanya Mama mengijinkan. Namun, setiap selesai berkunjung baju adik selalu kotor penuh noda tanah. Rupanya adik tak hanya menyiram tanaman di rumah Nenek Etek, namun juga membantunya memasukkan tanah ke dalam pot baru. Mama pun sempat melarang adikku main ke rumah Nenek Etek. Biarlah Mama sendiri yang mengajarkan adik tentang tanaman di rumah. Lagian, kami juga punya beberapa tanaman hias dan bumbu penyedap meski tak sebanyak dulu. Semua itu dilakukan agar baju adik tak kotor lagi.

Baru seminggu menerima hukuman dari Mama, adikku sudah tak tahan. Ia pun merengek minta dibebaskan. Bersamaan dengan itu, Nenek Etek berkunjung ke rumahku. Beliau menanyakan mengapa adikku akhir-akhir ini jarang berkunjung ke rumahnya. Rupanya beliau kangen pada celotehan adikku ketika berkunjung yang akan membuat suasana rumah menjadi ramai.

Mama tak enak hati lalu mencabut larangan adik main ke rumah Nenek Etek. Adikku senang bukan kepalang. Mama pasrah dengan baju adik yang selalu kotor. “Tak apalah namanya juga anak laki, “ ujar Mama. Untung, Mama punya sahabat setia yaitu Rinso pembersih noda pakaian. Pakaian adik yang penuh noda tanah pun jadi bersih lagi seperti baru. “Semoga ada hikmahnya, Ma” lanjutku.

Adikku tak hentinya mengejutkan kami dengan tingkah lakunya. “Ma, aku ingin jadi professor ahli lingkungan, “ celotehnya di suatu sore. Sorot matanya penuh keyakinan ketika mengucapkan itu membuat Mama dan Aku tertawa. Adikku pun meneruskan alasan mengapa ia bercita-cita menjadi professor ahli lingkungan. Rupanya ia terinspirasi dengan cerita gurunya di sekolah. Menurut gurunya, Negara Indonesia termasuk negara yang kaya akan sumber daya alam. Dengan menjadi seorang professor ahli lingkungan, adik bisa memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia untuk kepentingan rakyat banyak. Apalagi ditambah dengan isu global warming yang semakin mengkhawatirkan. Seorang professor ahli lingkungan bisa mengantisipasi global warming agar tak menyusahkan semua orang. Sungguh cita-cita yang mulia. Kecil-kecil adikku sudah berpikiran seperti orang dewasa saja... hihihi

Keinginan tersebut ternyata terus berlanjut. Sewaktu duduk di kelas enam SD. Adikku berkeinginan mengikuti lomba IPA di sekolahnya. Mama pun mendukung. Untuk menambah pengetahuan adikku, Aku mengajaknya pergi untuk menyusuri sawah bertatap muka langsung dengan petani. 

Beruntungnya di kota Palembang masih terdapat areal persawahan meski tidak di tengah kota. Tepatnya di daerah Jakabaring. Disana adikku mendapat pengetahuan secara langsung dari petani yang sedang mengolah sawah. Kami bertemu dengan Pak Ivan dan Pak Maman. Ternyata padi yang ditanam di sawah mereka termasuk padi jenis IR. Mereka hanya menanam bibitnya saja disana. Karena waktu itu sedang musim kemarau, maka sawah mereka pun kering. Adikku memandang hal tersebut dengan wajah prihatin. Sejak itu, adik bertekad untuk selalu menghabiskan nasinya. “Kasihan petani, kalo nasi gak dihabisin lalu dibuang” celoteh adikku seperti orang dewasa.

Tak dinyana setelah menunggu beberapa saat, adikku dinyatakan sebagai Juara 1 Lomba IPA antar kelas di sekolahnya. Betapa bahagianya adikku saat menerima piala yang diserahkan langsung oleh kepala sekolah dihadapan teman-temannya. Dengan bangga, adikku memamerkan pialanya di depan aku, Mama dan Ayah. Kami pun turut senang melihatnya. Tak lupa, adikku membawa pialanya ke rumah Nenek Etek yang lalu memberinya hadiah bibit bunga anggrek.



Sampai sekarang adikku tak pernah melupakan cita-citanya. Ia sangat berharap bahwa di kemudian hari ia betul-betul bisa mewujudkan impiannya itu. Sekarang kegemaran adik bertambah. Adikku tak lagi hanya menggemari tanaman, tapi juga fauna. Hampir setiap weekend, ia bersama ayah pergi memancing. Pulangnya, adik membawa ikan hasil pancingannya. Adik ingin meneliti tentang ikan sekarang. Bagaimana cara ikan berenang dan beranak pinak, wah beragam pertanyaan yang dilontarkannya terkadang membuat kami kewalahan.

Ohya, akhir-akhir ini sepertinya cita-citanya bertambah. Seiring usianya yang kini menginjak dua belas tahun, adikku memantapkan diri menjadi professor ahli lingkungan sekaligus pengusaha. Ia mulai berjualan snack kecil-kecilan. Wilayah pemasarannya memang hanya sebatas tetangga dekat rumah, namun keuntungan yang diperoleh adikku cukup lumayan. Adikku berceloteh kalau keuntungannya ingin ia tabung saja agar bisa digunakan untuk membiayai kuliah professor ahli lingkungan. Ahh, adikku... semoga cita-citamu terkabul ya :’)

Diikutsertakan dalam lomba Cerita Dibalik Noda 2 Tahun 2013 yang diadakan oleh Rinso Indonesia dan berhasil masuk 10 Pemenang Utama Ide Cerita Terbaik 


Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...