Monday, February 24, 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Aku Bangga Menjadi Penulis

Posted by with 5 comments
Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id.
“Banggalah menjadi penulis, Bukankah Allah SWT juga penulis?”

Quote diatas menjadi salah satu penyemangatku untuk terus menulis. Cita-cita menjadi penulis sebenarnya sudah ada sejak aku masih SD kelas satu. Saat itu untuk pertama kalinya aku berhasil menyelesaikan sebuah cerita pendek anak-anak. Judulnya lupa-lupa ingat. Kalau tak salah aku menulis kisah seorang putri dan pangeran.



Sebagaimana anak-anak perempuan, aku gemar sekali berkhayal menjadi seorang putri yang tinggal di negeri impian lalu akhirnya menikah dengan seorang pangeran. Ketika berhasil membuat cerpen itu, aku berbangga dengan ayah. Kukatakan bahwa aku juga pandai bercerita. Ayah hanya tersenyum-senyum kecil ketika aku memamerkan cerita pendek itu. Beliau terus menyemangatiku agar tak lelah menulis.



Buah tak jatuh dari pohonnya. Mungkin itulah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kegemaranku menulis. Ayahku wartawan koran sekaligus penulis biografi yang banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan menulis dan membaca. Sejak bayi aku sudah terbiasa melihat ayah mengetik tulisan di depan komputernya. Mungkin itu yang mendorongku untuk menjadi seorang penulis.

Menyadari kalau aku memiliki passion menulis, ayah mulai mengarahkanku untuk ikut lomba-lomba menulis anak-anak. Mulanya aku ragu, tapi aku penasaran. Satu dua, kuikuti lomba. Tak ada yang berhasil aku menangi. Aku mulai down dan patah semangat. Lalu, aku berbicara pada ayah kalau aku tak mau lagi ikut lomba. Mungkin aku hanya suka menulis, tapi tak punya bakat menjadi seorang penulis seperti ayah.


Jujur kukatakan. aku mengidolakan ayah. Ayah penulis terhebat di dunia. Berita-beritanya menghiasi media cetak ternama di kotaku. Beliau beberapa kali memenangi lomba kepenulisan berskala nasional. Bahkan salah satu diantaranya membawa beliau berkesempatan mengunjungi Swiss. Hal yang pasti memalukan buatnya kalau aku sebagai anaknya tidak bisa melebihi dirinya. Itulah hal yang kupikirkan dulu.

Walaupun aku merasa putus asa karena tak pernah menang lomba menulis, tetap saja di antara teman-teman sekelasku aku jagoan dalam hal menulis. Disaat mereka kesulitan membuat pantun atau gurindam, aku menyelesaikan belasan buah pantun milikku sendiri dengan cepat. Aku sangat menyukai pelajaran bahasa dimana aku bisa mempraktekkan kemahiranku menulis. Baik bahasa Indonesia, Inggris ataupun Arab. Bahkan aku bercita-cita keliling dunia. Menjadi seorang traveller muslim wanita, lalu membuat buku tentang pengalamanku itu.
           
Aku ingat sebuah kejadian saat aku masih duduk di kelas 4 SD. Saat itu guruku mengumumkan kalau cerita pendekku yang terbaik di kelas. Beliau membacakan cerita pendekku tentang Malin Kundang keras-keras di depan kelas. Cerita pendek yang kutulis sebanyak dua halaman A4 full. Tidak ada seorangpun teman-temanku yang menulis sebanyak itu. Beberapa tahun kemudian, aku menemukan lagi cerpenku waktu itu. Setelah dibaca ulang, ceritanya kok malah bikin ngakak. Tulisanku terlihat payah dengan tata bahasa yang amburadul. Sungguh mengecewakan! :D

Meskipun tak pernah ikut lomba, aku masih tetap menulis. Kalau ada waktu senggang, aku akan memanfaatkannya untuk menulis cerpen. Saat lagi suntuk di kelas, aku akan menulis puisi. Setiap hari, aku menulis buku harian. Waktu-waktuku lebih banyak dihabiskan dengan kegiatan menulis. Komputer ayahku sampai penuh dengan cerpen-cerpen dan puisiku. Idenya sebagian besar dari masa remaja yang kulalui. Baik pengalaman pribadi atau teman-temanku.

Menginjak kelas dua SMP, aku memutuskan untuk serius menulis novel. Aku terinspirasi membuatnya setelah membaca buku cara cepat menulis novel. Novelku saat kelas lima SD dulu yang baru kutulis sebagian raib entah kemana. Jadi, aku ingin menulis yang baru. Namun baru beberapa bulan menulis novel, aku merasa bosan. Cerita yang kutulis mulai tak sinkron dengan komitmen awal. Maunya bergaya romansa remaja, malah berubah jadi kisah thriller. Kacau deh, pikirku. Aku pun menyudahi pembuatan novelku waktu itu.

Beranjak SMU, aku kembali semangat mengikuti lomba kepenulisan. Lagi-lagi, aku tak berhasil memenangi lomba satupun. Mentalku kembali turun. Aku marah, kecewa dan bersedih. Bahkan saat seorang sepupuku memenangi lomba menulis, aku merasa iri. Seharusnya aku yang menjadi pemenang. Ayahku seorang penulis, aku lebih berhak mewarisi darah penulisnya. Bukan sepupuku itu!

Saat itu aku kembali merasa kalau aku memang tak ditakdirkan untuk menjadi seorang penulis. Meskipun demikian, aku tetap menulis. Apa saja. Tiada hari bagiku tanpa menulis. Semua tulisanku untuk konsumsi dan kesenangan pribadi. Aku bertekad suatu hari nanti aku akan menekuni dunia literasi. Entah kapan.

Kesempatan itu pun datang saat aku tamat SMU. Kuliah di UT membuatku banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya. Darisana aku mengetahui banyak info tentang lomba-lomba kepenulisan. Aku bertekad untuk mengembangkan bakat menulisku di sana. Tidak lagi hanya main-main seperti dulu. Aku benar-benar ingin menjadi seorang penulis yang menginspirasi orang lain.

Kini setelah kurang lebih tiga setengah tahun menjajal lomba-lomba menulis online, aku belajar banyak. Bahwa untuk menjadi seorang penulis dibutuhkan tekad yang kuat. Tak hanya mengandalkan bakat menulis saja. Makanya setiap hari aku berlatih menulis, terus berlatih.

Untuk menghasilkan tulisan yang bagus, kita juga harus banyak membaca. Dulu aku berpikir bahwa kita cukup hanya membaca buku-buku pelajaran di sekolah. Itu ternyata tidaklah cukup. Biar lancar menulis, kita butuh banyak kosakata perbendaharaan kata. Cara terjitu untuk mempelajarinya ya dengan membaca.



Perasaan putus asa juga kerap melandaku. Beberapa orang yang kutemui mengatakan bahwa tulisanku jelek. Dari sekian lomba yang kuikuti, hanya beberapa yang “nyangkut”. Aku beruntung masih bisa menang, kata mereka. Kuakui tulisanku tidak sempurna. Kembali pada niat awalku menulis, aku ingin berbagi pengalaman. Mudah-mudahan tulisanku menjadi inspirasi bagi mereka. Buatku tak peduli kalah atau menang. Di dunia ini tugasku hanya berusaha dan ikhtiar. Biarlah Allah SWT yang menentukan apa aku layak menang atau tidak.

Setiap kali aku berputus asa, aku selalu ingat motivasiku di atas. Kalau sudah seperti itu, aku akan kembali semangat. Adakalanya aku down, lalu berhenti sejenak. Tapi aku tidak bisa terus-menerus down kalau mau berhasil menggapai cita-citaku. Aku harus terus menulis. Baik itu hanya sekedar update status facebook.

Harapanku ke depan semoga aku bisa terus meramaikan dunia literasi dengan karya-karyaku. Tulisanku memang belum sempurna, tapi aku mesti optimis. Kalau kita sungguh-sungguh menulis, suatu saat Allah SWT akan membukakan jalan untuk kita. Aku sudah membuktikan bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia. Terakhir jangan lupa berdoa karena doa merupakan salah satu jalan menuju kebaikan. ***



5 comments :

  1. tetap semangat ya sayy,,,belajar dan belajar

    ReplyDelete
  2. Semangat untuk terus menulis ya dan hasilkan karya2 hebat : ) Good Luck

    ReplyDelete
  3. @Meike Fatimah ; makasih bunda ^^

    ReplyDelete
  4. menjadi Penulis merupakan suatu kebanggan tersendiri karena dengan menulis kita bisa berbagi perasaan yang sedang kita rasakan pada saat itu, menulis selain membutuhkan keterampilan tutur kata yang baik juga membutuhkan keterampilan dasar berupa penguasaan bahan yang akan kita tuliskan sehingga baik diri kita maupun pembaca mengerti akan makna tersirat yang kita sampaikan dari bentuk tulisan kita ... teruskan perjuanganmu sahabat, semoga bisa berhasil :-)

    ReplyDelete
  5. @fajriah noviarni : sipp, setujuu ^^

    ReplyDelete

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...