Thursday, June 7, 2012

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 5

Posted by with No comments
Behind The Chapter:

Sebenernya chapter 5 ini gue masih masukin adegan Yesung dan Donghae POV. Kemaren sempet ngigo nulis 2 chapter sekaligus cz ide2 gue lagi banyak di kepala. Di chapter 5 ini, gue mau memperjelas peran Yesung dan Donghae yg pada chapter sebelumnya peran mereka ga jelas. *dikeroyok ELF* xD

Ceritanya makin kompleks aja cz di akhir chapter lima ketahuan ternyata si Donghae "bermasalah" dgn Cho Kyuhyun, terus si Yesung juga kliatannya ada dejavu dgn Moon Hyung Soo alias Firsty Ukhti Molyndi melalui korean name generator hehehe..

Ngayal emang enak banget ya, suka-suka bikin story sendiri sesuai kemauan sendiri dan tidak dapat diganggu gugat. Tadinya gegara ngedengerin lagu No Other semalam, sisi maskulinitas gue yang ada di Kim Jong Woon POV mendadak tergantikan sisi feminisitas pada POV Donghae. Jadilah disana si Donghae berubah manja banget sama si Yesung T,T Mian oppa... -,- *digetok Donghae*

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 5

 

Episode Sebelumnya:
Akhirnya beberapa jam kemudian, mobil yang kukendarai tiba di rumah. Aku menurunkan barang-barang Yesung dari dalam mobil. Sebenarnya barang yang dibawa Yesung tidak cukup banyak, hanya terdiri dari beberapa koper dan sebuah kardus besar. “Oleh-oleh untukmu,” kata Yesung ketika kutanya apa isi kardus besar itu yang segera saja kusambut dengan jeritan kesenangan.

Jeongmal Gomowa, Yesung hyung,” ujarku padanya seraya tersenyum lebar. Tak sabar rasanya membuka kotak oleh-oleh yang diberikan Yesung padaku.

Chapter 5

Kim Jong Woon aka Yesung POV

                Tidur semalaman rasanya tidak cukup untuk menuntaskan jetlagku ini. Buktinya begitu aku membuka mataku, badanku masih terasa sangat capai. Tulang-tulangku serasa mau rontok berguguran seperti bunga sakura di Jepang. Oke, Oke, itu terlalu berlebihan. Aku memang tidak bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan betapa diriku ini sangat butuh istirahat total.

                “Hyung, bangunlah,” Sebuah suara hangat menyapaku. Aku membuka mataku perlahan. Tampak bayang-bayang Donghae menyeruak di depan mataku. Wajahku hanya beberapa inchi dari wajahku. Aku nyaris kehilangan jantung karena terkejut.

                “Oh, kau Donghae,” ujarku lemah, “Kukira siapa?”. Donghae tergelak. Ia mengatakasn keadaanku sama persis seperti ddangkoma yang cangkangnya lepas. Sialan, belum apa-apa ia sudah berani menghina kura-kura kesayanganku itu. Aku menjitak kepala Donghae pelan. Ia mengerang kesakitan.

                Belum sempat ia membalas seranganku tadi, aku buru-buru melarikan diri menuju meja makan. “Wah, sepertinya enak,” pujiku saat melihat makanan yang tersaji di meja makan. Aku segera mengambil piring, lalu menyantap sajian yang terhidang di meja makan. Rasanya tidak pedas, namun lumayan enak. Aku menyukainya.

                “Apa yang akan kau lakukan hari ini, hyung?” tanya Donghae padaku. Sambil tetap mengunyah makananku, aku memikirkan kemungkinan hari ini akan dihabiskan untuk membeli perlengkapanku selama sebulan tinggal di Seoul. Jadi, aku tak mempunyai pilihan selain mengatakan, “Ke Supermarket”. Tak kusangka, rencana dadakanku itu disambut baik oleh Donghae. “Ide bagus, hyung,” katanya setuju.

                “Aku harap kau mau menemaniku hari ini, dongsaeng“ tawarku. Donghae mengangguk. Ia mengatakan bahwa hari ini dia libur bekerja maka ia akan bersamaku seharian. Aku menyetujui pemikirannya itu. Maka, sehabis mengurusi makan ddangkoma dan ddangkochan, kami berdua sepakat menuju supermarket yang terletak tak jauh dari rumah Donghae dengan berjalan kaki. Kupikir itu lebih menyenangkan, karena kami memiliki waktu untuk mengobrol satu sama lain.

                “Mengapa kau tak memilih kuliah di Jerman?” tanya Donghae. Kami sampai pada topik tentang rencanaku melanjutkan kuliah S2 di Seoul. Aku tersenyum kecil. “Kurasa aku ingin lebih dekat dengan dongsaengku ini,” ujarku lembut. Donghae terkekeh pelan, lalu mengucapkan terima kasih. “Kau sendiri kenapa kabur ke Seoul, huh? Tak berpikir untuk kuliah sama sekali?” tanyaku penasaran.

                “Ah, kau juga tahu. Otakku ini nggak seencer dirimu, hyung,” bla, bla, bla Donghae terus saja berbicara. Kami sedang berada di rak yang berisi mie instan saat dari arah depan pintu masuk supermarket aku melihat seorang yeoja dengan beberapa orang laki-laki membuntutinya di belakang. Mereka kelihatan saling mengenal satu sama lain. Yeoja itu tampak bersemangat, di sebelahnya ada seorang namja yang kelihatan lebih muda terus saja mengoceh ini itu tanpa henti. Sementara tiga orang namja di belakang mereka hanya tersenyum-senyum kecil melihat tingkah kedua dongsaeng mereka itu.

                “Sepertinya aku mengenal mereka...” bisikku pelan. Belum selesai aku bicara, kelima orang yang kumaksud itu berjalan pelan ke rak mie instan tempatku berada.

Lee Donghae POV

                “Mwo? Ahh, tidak. Kau tak mengenal mereka, “ sungutku kesal. Dengan segenap kekuatanku, aku menarik tangan Yesung ke tempat yang jauh-sangat jauh-dari rak mie instan. Aku sangat kesal jika saat aku sedang serius berbicara, lawan yang ada di hadapanku malah sibuk memperhatikan hal lain. “Jeongmal Mianhaeyo, aku tak akan melakukannya lagi,“ ucap Yesung lembut sambil mengelus kepalaku pelan.

                “Kau anggap aku seperti ddangkoma, huh?” kataku masih mengambek. Permintaan maaf Yesung sebenarnya sudah kuterima, tapi ada sebuah perasaan yang sulit untuk dijelaskan ketika ia mengelus-elus kepalaku layaknya ia mengelus cangkang ddangkoma seperti yang ia lakukan tadi pagi saat membersihkan kandang kura-kura itu. Aku mengerang pelan.

                “Woops, mari kita pulang saja,” ajak Yesung. Aku membuntutinya keluar dari supermarket yang menyebalkan ini. Berharap kelima orang aneh yang tadi dibicarakan Yesung tak berada bersama kami. Aku kembali berusaha merebut perhatian hyungku itu dan membuatnya tergelak dengan cerita-cerita lucu dariku.

                “Jangan mempersulit dirimu sendiri, “ hibur Yesung saat kami tiba di rumah. Aku pura-pura tak memperhatikan, malah sibuk menatap layar hapeku. Berharap seseorang meneleponku, lalu mengajakku jalan-jalan ke luar kota. Cuaca musim panas di kota Seoul sedang tidak bersahabat. Aku memutuskan untuk bertelanjang dada siang ini. Kutanggalkan pakaianku lalu kutaruh di keranjang. Yesung mengganti pakaiannya dengan yang lebih longgar.

                Kuputuskan untuk berjalan ke kulkas, mengambil sesuatu yang dingin disana. Aku menemukan sekotak besar susu cair sisa disana lalu kuminum isinya hingga habis. Mulutku belepotan susu dan kulap dengan tanganku. “Mwo?” tanyaku saat Yesung tergelak melihat aksi minumku tadi.

                “Seharusnya aku membelikanmu sekotak besar susu cair baru tadi, “ ucap Yesung lembut. Aku berusaha tersenyum semanis mungkin, namun senyumanku malah terkesan tidak tulus di mata Yesung. “Kau masih marah, hah?” tanyanya lagi seraya terbahak keras.

                “Kau terkadang begitu menyebalkan,” ketusku dengan maksud bercanda. Aku pun ikut tertawa bersama Yesung. Sampai akhirnya kami berdua memutuskan mengurung diri ke kamar kami masing-masing. Aku kan tak hendak kehilangan hari liburku.

                Di atas ranjangku yang empuk, aku memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Suasana hening menyeruak memenuhi rumah. Sepertinya Yesung hyung sudah tidur, lamat-lamat kudengar suara seperti orang mengorok di kamar sebelah. Biarlah aku tak hendak menganggu Yesung, bisa-bisa giliran dia pula yang mengambek karena tidurnya diganggu.

                Cho Kyuhyun, Apakah dia tadi melihatku? Kurasa tidak. Jalhamyeon. Ne, Jalhamyeon. Dia adalah orang yang paling menyebalkan seantero Korea. Cho Kyuhyun musuh bebuyutanku. Kenapa aku harus bertemu dengannya hari ini? Disaat hari sedang libur pula. Tidak puaskah dia sudah membayangi hari-hariku di tempat kerja? Dasar pegawai kesayangan Manajer Shin, desainnya yang menurutku seperti gambaran anak TK diterima.  Menyusahkan saja, sungutku lagi. Tak hendak mengingatnya lagi, kuputuskan untuk tidur siang ini.~to be continued~^^

Note Block:
Jalhamyeon : Semoga
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...