Wednesday, June 6, 2012

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 4

Posted by with No comments
Kyaa... baru buat flash fiction langsung deh diposting. hihihii... Fresh from the oven, sengaja diundur dua hari pembuatannya karena kemaren fokus utk ngejar vote di kafebrownies hehehe

Finally, ini dia chapter yang paling kutunggu-tunggu, kita kedatangan dua namja tampan bernama Yesung dan Donghae super junior. I love them all...

Kyaa,,, sempet down pas kemaren tahu kalo Kyuhyun sudah punya istri, gak tahunya cuma di virtual wedding We Got Married hihihii... -Pengen daftar juga T.T- Padahal cintaku udah perlahan pudar untuk dia, hihihiii... Sekarang kaga ada halangan lagi deh, maju terus pantang mundur buat Kyuhyun Oppa :-*

Chapter ke 4 ini kubuat bener2 gak ada hubungannya sama sekali dengan chapter2 sebelumnya. Ceritanya Yesung Oppa baru pulang kampung dari Jerman ke Kota Seoul. Dia tinggal di rumah sepupunya Lee Donghae.

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 4

Episode Sebelumnya:
“Iya, deh. Mian, “ ujarku seraya mencomot keripik pisang yang tergeletak di sebelah Sungmin. “Like dongsaeng, like hyung, “ candaku yang sebenarnya tak lucu. Kata-kataku tadi malah membuat Ryeowook dan Sungmin semakin marah padaku. “Mwo?” kataku melihat reaksi mata mereka yang membulat besar.

“Kuharap Kibum datang besok,” kataku lagi, “Aku akan meneleponnya besok”. Bantal-bantal pun berterbangan ke arahku. 


Chapter 4

Kim Jong Woon aka Yesung POV

                Pesawat baru saja meninggalkan landasan pacu Bandara Frankfurt. Hari ini aku akan kembali menjejakkan kakiku di Kota Seoul setelah selama tiga belas tahun aku meninggalkan kota kelahiranku itu. Aku tersenyum kecil ketika mengingat sepuluh tahun hidupku yang begitu menyenangkan di Kota Seoul. Begitu banyak kenangan indah tersimpan disana.

                “You need blanket, Sir?” tawar Pramugari. Aku mengangguk. Pramugari itu lalu memberikan aku selimut. Kuterima selimut prmberiannya dengan senang hati. Aku memang agak kedinginan. Ini merupakan penerbangan malam hari pertamaku. Kukenakan headset di telingaku, lagu Christina Perri pun mengalun merdu di telingaku.

                I have died everyday waiting for you
                Darlin’ dont be afraid I loved you a thousand year
                I’ll love you for a thousand more

                Aku ketiduran beberapa waktu setelahnya. Tak banyak yang kuingat, waktuku kuhabiskan berkelana di alam pikiranku. Tahu-tahu pramugara sudah memberitahu bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Cuaca di Kota Seoul sedang cerah saat ini. Ah, kampung halamanku tersayang. Aku pulang, batinku berkata.

                “Terima kasih telah melakukan penerbangan dengan Germany Air, semoga selamat sampai tujuan anda.” Ujar Pramugara muda di depan. Kelihatannya usianya tak berbeda jauh denganku. Beberapa saat kemudian pesawat pun mendarat ke tanah dengan mulus. Setelah mengemasi barang-barangku, aku pun turun dari pesawat.

                Hah, ini dia, Seoul City, Kota Seoul. Aku menghirup nafas dalam-dalam menghirup udara yang dingin berAC di bandara Incheon. Diluar sepupuku, Lee Donghae sudah menungguku. Dia tersenyum-senyum kecil menatapku. “Mwo?” tegurku.

                “Semakin bongsor saja badanmu,” kata Donghae seraya menepuk-nepuk pundakku. Hmm... Bongsor... Harus kuakui badanku memang tinggi. 178 cm, kurang dua centi lagi adalah tinggi ideal yang kuinginkan. Lee Donghae membantuku memasukkan barang-barangku ke mobil. “Cukup hoshh...hosh, banyak juga barangmu,” ujarnya sambil terengah-engah. Aku terkekeh pelan. Kutahu ia hanya bercanda.

                Dua jam kuhabiskan dengan menikmati obrolan seputar perbincangan hangat Kota Seoul dari Donghae. Ia banyak bicara, sedangkan aku hanya mendengarkan sekilas. Mataku terus saja memandangi jalan-jalan Kota Seoul yang memesona. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kota Seoul tak banyak berubah seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya. Hampir sama seperti waktu terakhir aku meninggalkannya menuju Jerman.

                “Donghae,” panggilku. Ini kali pertama aku berbicara padanya sejak mendarat di bandara Incheon beberapa waktu yang lalu. Sejenak suasana mendadak hening. Donghae terlihat menanti-nanti apa yang hendak kukatakan. Sambil tersenyum, aku pun bertanya, “Bisakah kau mengantarku ke suatu tempat?”

Lee Donghae POV

                Entah apa yang tengah dipikirkan oleh sepupuku yang baru tiba dari Jerman ini. Dia malah mengajakku makan di kedai Ramen di pinggir Kota Seoul. Katanya dia kangen dengan masakan jepang itu. Aku hanya bisa memandangi Yesung dengan perasaan yang campur aduk. Sudah lima tahun semenjak aku lulus SMU di Jerman dan pindah ke Korea sekarang, tak sekalipun aku memakan mi kuah Ramen. Aku memang tak menyukai masakan pedas.

                “Kau harus mencobanya, “ sahut Yesung. Mulutnya penuh dengan mi Ramen. “Ini benar-benar joheun (enak), “ ujarnya lagi. Yesung sudah menghabiskan dua mangkuk besar Mi Ramen. Sementara aku hanya bisa memandangi Yesung kelu. Air putihku bahkan masih utuh. Ckckck... Hyungku yang satu ini memang benar-benar tamyogseuleoun (rakus)

                “Manjog?” tanyaku. Yesung mengangguk. Suara sendawanya memecah kedai ramen yang kecil ini. Beberapa orang melirik ke arah kami. “Beruntunglah dongsaengku ini tinggal di kota Seoul sehingga aku bisa ditraktir mie Ramen,” kata Yesung tergelak. Terserahlah, aku mau selekasnya pergi dari sini. Bau kuah Mie Ramen yang bergentayangan memenuhi ruangan semakin membuatku mual.

                Yesung tertawa melihat reaksiku selepas keluar dari kedai. Dengan satu kantong kertas di tangan, Aku menumpahkan isi perutku disana. Setelah merasa lega, barulah aku menyusul Yesung ke mobil. “Kau menyiksaku!” ujarku dengan mimik serius sesampaiku di mobil.

                Bukannya mengasihiniku, Yesung malah menunjukkan sesuatu padaku. Sepasang kura-kura kecil yang menurutnya imut-imut. “Kau ingat dulu aku pernah berkata ingin memilikinya?” tanyanya. Aku mengernyitkan dahi. “Rasanya tak pernah, hyung” balasku polos.

                “Namanya ddangkoma, dan ini ddangkochan,” jelas Yesung. Sesungguhnya aku tak pernah tahu perbedaan kura-kura milik Yesung. Keduanya tampak sama. Tapi kata Yesung ddangkoma itu kura-kura namja, sedang ddangkochan itu kura-kura yeoja. Benar-benar aneh, pikirku.

                Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, giliran Yesung yang bicara banyak. Sementara aku hanya bisa mendengarkan karena perutku masih terasa mual. Yesung bercerita sangat banyak tentang kura-kura peliharaannya. Dia membelinya karena ia merasa sendirian di Jernan. Terlebih ketika ia harus tinggal pisah dengan kedua orangtuanya. Ia betul-betul merasa kesepian.

                “Asi? Sepertinya dugaanku untuk memiliki teman kura-kura ternyata salah, ia bahkan tak bisa berbicara,” terang Yesung polos. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa. Ucapannya yang polos ditambah mimik mukanya yang lugu membuat tawaku semakin kencang. Rasa mual yang kurasakan tadi mendadak tergantikan oleh sakit perut akibat banyak tertawa. Mulutku tak hentinya berkata, “Pabo kau, hyung!”.

                Akhirnya beberapa jam kemudian, mobil yang kukendarai tiba di rumah. Aku menurunkan barang-barang Yesung dari dalam mobil. Sebenarnya barang yang dibawa Yesung tidak cukup banyak, hanya terdiri dari beberapa koper dan sebuah kardus besar. “Oleh-oleh untukmu,” kata Yesung ketika kutanya apa isi kardus besar itu yang segera saja kusambut dengan jeritan kesenangan.

                “Jeongmal Gomawo, Yesung hyung,” ujarku padanya seraya tersenyum lebar. Tak sabar rasanya membuka kotak oleh-oleh yang diberikan Yesung padaku.~to be continued~^^

Note Block:
joheun : enak
tamyogseuleoun : rakus
Manjog? : Puas
Asi : kau tahu
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...