Monday, June 4, 2012

Flash Fiction #SuperJunior Untitled Chapter 3

Posted by with No comments
Sesuai janjiku kemarin, di chapter tiga ini aku memasukkan lebih banyak oppadeul Suju... :DD
Internetku barusan diisi ulang nih jadi tadi pagi aku bengong ga ngapa2in, yaudah aku memutuskan untuk menulis chapter 3 nya aja, rencananya di chapter 4 aku akan memasukkan bias2ku tersayang (yesung dan kibum) hihihiii... Tenang aja akan lebih seru dan mengasyikkan lagi dari ini... :D

Episode Sebelumnya:
Satu jam lagi Siwon akan menjemputku. Apa yang harus kulakukan? Tegakah bila aku membatalkan rencananya malam ini? Aku menghela nafas. Sampai kapan aku harus terjebak dalam skenario yang kubuat sendiri? cham-eulo (memang), tiga bulan lalu aku masih mencintainya. Namun semenjak peristiwa itu, cintaku padanya perlahan memudar. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Siwon di belakangku membuatku sulit untuk melupakannya. Dadaku terasa sesak setiap kali ingat kejadian tiga bulan lalu.

Flash Fiction #SuperJunior Chapter 3

Chapter 3

Cho Kyuhyun POV

                Malam sabtu yang terasa menyebalkan. Inginnya ditemani dan menemani seorang perempuan cantik, tapi apadaya pacar pun aku tak punya. Hyung Soo sudah pergi dari satu jam yang lalu bersama Siwon. Sampai kapan aku harus terus sendiri? Mungkin aku memang terlalu pemilih. T.T

                Akhirnya aku meminta Sungmin dan Ryewook untuk menemaniku malam ini. Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah datang mengetuk pintu depan. Jarak rumah kami saling berdekatan. Jadi tidak ada masalah. Tiga pria lajang berkumpul bersama dalam satu kamar, kuharap eomma dan appa tak keberatan.

                “Hai, dongsaeng gwiyeun.” Ucap Sungmin tatkala melihatku. Perihal dongsaeng, kami bertiga sebenarnya seumuran. Masalahnya wajahku terlalu imut menurut ukuran mereka, sebuah fakta yang menyedihkan bahwa aku bahkan tak punya pacar.

                  Aku segera mengajak mereka menuju kamar. “Sendirian?” tanya Ryeowook. Aku mengangguk. “Jangan terlalu berisik, ada eomma dan appa disini,” ujarku memperingatkan mereka berdua. Tapi tetap saja meskipun sudah diperingatkan berulang kali, mereka tetap saja ribut begitu sampai di kamarku yang terletak di lantai tiga. Bagi mereka, suara cempreng mereka tak akan mengganggu eomma dan appa yang kamarnya berada di lantai satu.

                Maka, setelah kami bertiga makan malam di ruang keluarga, pesta lajang pun dimulai. Kami bergegas menuju lantai atas tempat kamarku berada. Untung eomma dan appa termasuk orangtua yang pengertian. Mereka tak pernah mempermasalahkan tingkah-tingkah aneh anak-anaknya asal tidak keterlaluan dan tetap hormat pada orang yang lebih tua.

                Aku tergelak ketika Ryeowook membuka pintu kamar, lalu menghempaskan badan di lantai kayu. Ryeowook dan Sungmin bergegas menghidupkan playstation yang terletak di tengah-tengah kamar. “Kita kekurangan orang!” pekik Ryeowook. Aku yang baru saja mengambil psp lantas bergabung bersama mereka.

                “Kita mau main apa nih?” tanya Ryeowook, matanya tak lepas memandang layar televisi. Suara tawa Sungmin memecah ruangan, ia baru saja membuka halaman pertama komik Crayon Shincan terbaru milikku. Kami berdua menoleh padanya, “Mwo?” katanya tidak setuju.

                “Kemarin, aku baru saja membeli kaset MotoGP terbaru,” kataku seraya berlalu menuju lemari tumpukan kaset playstation milikku yang terletak disudut ruangan. “Coba kita kedatangan tamu...” ujar Sungmin, sambil tetap membolak-balik komik Crayon Shincan.  “Kibum maksudmu?” tanyaku tanpa menoleh. Aku masih sibuk mencari dimana tempatku meletakkan kaset MotoGP terbaruku itu.

                “Ya, dongsaeng.” Ujar Sungmin lagi. Kibum adalah sepupuku yang usianya paling muda dari kami bertiga. Baru delapan belas tahun, tapi mulutnya nyinyir seperti perempuan yang sedang bergosip. Bisa dibilang dia magnae dari grup kami berempat. Kibum termasuk orang yang paling sering mengisengi Hyung Soo. Meskipun begitu, mereka berdua akrab satu sama lain. Ah, kami sangat merindukan Kibum. “Tapi apa boleh buat dia kan sedang ujian akhir di sekolahnya,” kataku dengan mimik kecewa.

                Pukul setengah sepuluh malam, Hyung Soo pulang ke rumah. Wajahnya tak terlihat ceria. “Bagaimana kencannya?” seruku memandanginya. Bukannya menjawab Hyung Soo malah balik bertanya, “Ada orang dirumah?”.  Aku mengangguk. “Hanya anak-anak,” jawabku. Hyung Soo kesenangan seraya memekik girang. Dengan tergesa-gesa, Ia pergi ke atas lalu berbaur dengan Sungmin dan Ryeowook. Aku lebih memilih untuk diam, kembali berkutat dengan PSPku. “Hey, ganti dulu bajumu,” jeritku.

Moon Hyung Soo POV

                Malam yang menjemukan. Kami tak seperti layaknya orang yang berpacaran, lebih memilih untuk saling diam. Tak banyak percakapan terjadi di antara kami. Aku dan Siwon hanya duduk dengan pikiran masing-masing.

                “Hyung Soo, tak tahukah kau bahwa aku begitu menyayangimu?” ucap Siwon seraya memegang tanganku. Aku tersenyum kaku. “Ahh,” desah Siwon, “Jangan lagi kau memikirkan kejadian yang lalu itu. Aku sungguh menyesal...”

                “Ne, kuharap itu benar,” kataku datar. Siwon kembali memandangiku. Mata kami saling bersibobok. Aku segera mengalihkan pandangan. Makanan disini jadi terasa sangat hambar. Aku sungguh tak berselera.

                “Siwon, aku ingin pulang,” pintaku setengah memohon, “ini sudah larut.” Tegasku sekali lagi. Siwon lalu mengantarku pulang dengan mobilnya. “Kau tahu aku ingin kau memaafkanku,” berondongnya ketika tiba di depan rumah. “Ne, Ne, nado ala Sudahlah Siwon,” ucapku, lalu turun dari mobil. Aku mendelik jam tanganku, pukul sembilan seperempat. Mobil Siwon pun cepat berlalu dari hadapanku lalu hilang bagai ditelan angin.

                “Bagaimana kencannya? “ ucap Kyuhyun saat membukakan pintu. PSP tergenggam di tangannya. “Ada orang di rumah?” tanyaku balik. “Hanya anak-anak,” balas Kyuhyun seraya tangannya menunjuk ke atas.

                “Manse, aku mau begadang malam ini.” Pekikku kegirangan. Setelah melepas sepatu, aku pun bergegas menuju tangga dan naik ke lantai tiga. Ryeowook, Sungmin dan kuharap ada Kibum. Eh, tapi Kibum sedang persiapan ujian akhir di sekolah menengahnya, jadi kemungkinan aku hanya menjumpai Ryeowook dan Sungmin di kamar Kyuhyun. “Hey, ganti dulu bajumu, “ seru Kyuhyun dari lantai bawah.

                Nafasku terengah-engah tatkala sampai di lantai atas. Tampak Ryeowook dan Sungmin sedang sibuk dengan playstation. Kamar Kyuhyun terlihat berantakan. Aku mengendap-endap masuk ke kamar Kyuhyun, seraya mencabut kabel tv kamar Kyuhyun. Melihat televisi mendadak mati, Ryeowook dan Sungmin menjerit. Aku pun tergelak.

                “Dasar tukang iseng,” seru Kyuhyun yang ternyata sudah berada di depan pintu. Mereka bertiga menatapku marah. “Kau tahu kami sudah sampai level berapa?” amuk Ryeowook yang langsung ditanggapi Sungmin dengan mimik muka sedih, lalu berkata, “Aku bahkan belum menyimpan permainanku tadi”.

“Iya, deh. Mian, “ ujarku seraya mencomot keripik pisang yang tergeletak di sebelah Sungmin. “Like dongsaeng, like hyung, “ candaku yang sebenarnya tak lucu. Kata-kataku tadi malah membuat Ryeowook dan Sungmin semakin marah padaku. “Mwo?” kataku melihat reaksi mata mereka yang membulat besar.

                “Kuharap Kibum datang besok,” kataku lagi, “Aku akan meneleponnya besok”. Bantal-bantal pun berterbangan ke arahku.~to be continued ^^~


Note Block:
Manse : Horee
Gwiyeun : imut
Nado ala: Aku tahu
Comments
0 Comments

0 komentar :

Post a Comment

Sharing is caring ! Give your comment here please :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...